Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Bengkel Galeri Josh #19

Josh memimpin di depan. Wira ngekor di belakang. Dan Naya terpukau. Lorong ini lebih mirip goa jepang yang dikasih lampu rona hangat. Bagian atasnya melengkung setengah lingkaran. Letak lampunya juga sesuka hati. Ada yang tepat lurus di atas kepala. Ada yang miring ke kanan. Ada yang condong ke kiri. 

Bentuk lorong menuju bengkel galeri Josh ini memang unik. Dindingnya tidak rata. Seperti semen yang dicaplok — lagi-lagi — sesuka hati. Cat putih yang menggading karena usia juga tidak rata. Sekali sapuan kuas dan selesai. Kembali ke lampu. Dinding yang tidak rata ini seperti pertunjukan. Kolaborasi dengan lampu rona kuning kecoklatan.

Telunjuknya bermain-main dengan bagian dinding yang lebih mirip lintasan off road. Tapi tidak lama. Wira dan Josh sudah tenggelam di ujung belokan. Naya menyusul. Setelah belokan pertama, lorong menerang. Bukan karena jumlah lampunya bertambah. Sepuluh langkah dari belokan, lorong berakhir. Kini yang ada adalah sebuah ruangngan. Kotak sempurna. Cukup luas untuk belasan kanvas berbagai ukuran yang sedang dalam proses. Satu kanvas terbesar, ukuran 5 kali 6 meter. Paling besar. Gambarnya candi borobudur waktu senja. Masih tentang kuning cokelat dan emas.

“Lukisan itu baru selesai, mungkin minggu depan baru pindah ke galeri depan,” tukas Josh. Dia sebut bengkel ini “galeri belakang” dan “galeri depan” adalah show room yang tadi Naya dan Wira lewati. Naya tidak sepenuhnya membiarkan dirinya terpanah dengan borobudur emas. Masih ada bagian lain dari bengkel yang patut disimak.

Ada banya kanvas kosong di berbagai sisi ruangan. Bertebaran acak. Ukurannya juga lebih ngacak. Rata-rata masih dalam bentuk bidang empat sisi. Belum ada kanvas berbentuk segi tiga atau lingkaran. Belum. Mungkin sebentar lagi. Naya menyapu seluruh bagian ruangan. Tanpa sadar ia melangkah tepat ke titik tengah ruangan. Kemudian tubuhnya berputar-putar disana. Agar seluruh bagian ruangan tak ada yang terlewat.

Wira membuka pintu. Dua daun pintu sekaligus. Itu adalah satu-satunya pintu yang ada di selubung ruangan. Begitu pintu terbuka. Angin dan cahaya sore pecah disana. Berhambur ke dalam. Naya kembali berputar. Yang ia temukan adalah siluet Wira. Tubuhnya menjulang, tapi kali ini terlihat setengah kerdil dengan pintu-pintu itu. Kemudian ia simak sekelilingnya. Dinding ruangan ini punya gradasi warna. Semakin jauh dari pintu, warnanya akan semakin gelap.

Josh masih sibuk merapikan kanvas berbingkai atau yang dibiarkan bergulung-gulung di lantai.

Kembali lagi ke Wira. Dia setengah berlari ke bibir lorong. Dan bernafas lega disana. Naya mengikuti. Dan benar, ia ikut bernafas lega. Cepat-cepat ia rogoh tasnya, mencari kamera pocket. Kamera diayun dari kiri ke kanan, ambil gambar panorama. Sedetik kemudian Wira kembali dengan kanvas panjang. Dua meter kali setengah meter. Ditopang dengan sepasang kaki kayu.

Tangan Wira menyambut kamera dari tangan Naya. Senyumnya terbit. Waktu kepalanya berputar, Naya sudah tersenyum lebih lepas. Mata almondnya ikut tersenyum.

Josh di sudut ruangan. Melihat dua teman lamanya sedang saling lempar senyum. Sepoi-sepoi suara Naya bicara sambil tertawa. Wira manggut-manggut sambil menunjuk beberapa bagian ruangan dengan telunjuk. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Mungkin tentang tugas yang harus siap pamer bulan depan.

Selama beberapa minggu kedepan, bengkel galeri Josh punya penghuni baru. Yang biasanya sepi, kini lebih meriah. Dominan suara Naya yang bergema. Entah berceloteh ringan sampai bercerita tentang apa saja. Wira mendengarkan dengan seksama. Tangan kiri memegang palet, tangan kanan menyapukan cat dengan kuas. Naya juga begitu, melukis di sisinya. Satu kanvas, dua karya, dua tangan, dua kuas.

Cooky time…”

Josh muncul dari lorong. Ditangan ada nampan. Sepiring kue-kue kering, teko teh dan tiga gelas. Aroma butter dan teh melati hadir bersama Josh. “Asiikk…” Naya menanggalkan palet dan kuasnya di lantai. Ikut duduk manis di lantai bersama Josh. “Oiya, aku ke galeri depan dulu ya, ada bule spayol yang mau borong lukisan.” Naya terkekeh sambil mengunyah. Josh kembali hilang ditelan lorong replika goa jepang.

Wira hanya membungkuk. Menyambar gelas kemudian berjalan ke pintu. Bersandar di bingkai pintu. Ada yang sedang ia nikmati di luar sana. Naya menilik dari jauh. Ternyata yang sedang Wira nikmati adalah sore. Sore dan teh hangat memang kombinasi yang sempurna. Setelah biskuit ketiga, Naya membuka sketch booknya. Duduk membungkuk. Suara ujung pensil yang bergesek dengan kertas.

Josh kembali dari galeri depan. Namun dirinya hanya tertanam di lorong. Naya masih duduk di lantai, asik menggambar di buku kecilnya. Sesekali Naya menatap Wira di bingkai pintu, kemudian tenggelam lagi dengan bukunya.

Josh diam karena merasa tidak berhak. Ada selaput di hadapannya. Selaput yang menyelimuti kedua sahabatnya. Kali ini ia melihat selaput milik Naya. Keluar dari tubuh Naya kemudian menyelimuti seisi ruangan, termasuk Wira di ujung sana.

Pelan-pelan mundur, agar Naya tak terusik dengan langkahnya. Kemudian tenggelam lagi ke dalam lorong. Seketika Josh mengerti. Ada sesuatu di balik selaput itu.

bersambung

Category: Rahasia

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 5 in addition to 7?