Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Kanya, aku Kaca

Bukan hadir karena pertemuan cinta dan kasih yang saling melengkapi. Ia diciptakan karena memang banyak yang butuh. Hari-harinya tertanam bersama komponen selubung bangunan. Setiap atom tubuhnya sudah direncanakan sedemikian rupa. Sesuai dengan kebutuhan. Sesuai dengan takdirnya. Ketebalan tertentu agar sanggup berhadapan dengan ganasnya atmosfer ibu kota. Agar enggan rubuh waktu angin riuh akibat perubahan tekanan udara. Dia dirancang untuk itu semua.

Sesuai takdirnya yang ditentukan oleh tangan manusia, ia berjodoh dengan gedung perkantoran. Di ibu kota. Curah hujan tinggi ditambah lagi isu cuaca ekstrim. Dia sudah dibuat sesuai perhitungan engine.

Lantai 6. Cukup tinggi dari permukaan aspal. Tidak ada tanah di sekitar gedung. Sejauh yang ia lihat dari ketinggian 500 meter, tidak ada. Ia menyaksikan semuanya. Anggaplah ia saksi. Ketika sebuah ruangan belum bersekat dinding. Masih los dan berbatas kolom kerangka. Berjalannya waktu, satu per satu sekat bata seperti tumbuh. Meja kursi ditata. Tempatnya bernaung kebanyakan meja dengan sekat dinding di depan dan samping.

“Mungkin mereka lebih mirip lebah jika dilihat dari atas.” Batinnya kepada camera CCTV yang menclok dengan kukuh di langit-langit. Setiap saat mengawasi pergerakan manusia yang sibuk sendiri.

Ruangan ini sudah berjalan sesuai fungsinya. Manusia-Manusia berpakaian rapih. Kemeja lengan panjang, dasi dan tas jinjing. Tidak sedikit yang beramal warna ditengah-tengah interior monokrom. Ia sebut makhluk-makhluk itu “si pendonor warna”. Rambut berwarna, hitam, cokelat, merah sampai putih keperakan yang disembunyikan di tengkuk. Ketika dikuncir, warna peraknya seperti sedang bermain cilukba. Baru ia tahu bahwa warna nyentrik itu punya nama. Peek a boo high light. Ia terkekeh, selain baik hati, makhluk pendonor warna ini juga lucu.

Itu baru bagian rambut. Belum warna-warni di wajah. Warna mata, bibir, kelopak mata dan lain-lain. Ya, ia perhatikan dengan sangat seksama. Ketika kelopak mata senada dengan warna sepatu atau tas.

Selain menyimak seisi ruangan, sebenarnya ia juga bisa bersenda gurau dengan langit Jakarta. Tapi ia tak tertarik. Walau cerah, tetap suram. Bukan biru langit dan putih cemerlang gulali terbang, tapi semburat abu-abu yang menyilaukan. Sama seperti warna asap kendaraan yang berlalu-lalang di bawahnya. Jadi, ia tidak tertarik.

***

Suatu hari, perhatiannya bukan lagi menyebar seperti semburat sinar matahari yang menembus tubuh transparannya. Ada magnet. Hanya satu titik. Bila titik ini bergerak, maka pengamatannya juga demikian.

Makhluk ini tiba-tiba muncul. Didampingi oleh makhluk monokrom berjas abu-abu dan bersepatu hitam. Kemudian dia duduk di sebuah kubikel terdekat dengan posisinya. Sayang, ia hanya melihat punggung. Makhluk ini duduk membelakangi.

Beberapa kali ia berdeham dalam benak. Makhluk ini berbeda. Tidak seperti “pendonor warna” di dalam nuansa putih, hitam, abu-abu ruangan. Punggung makhluk juga monokrom. Kalaupun berwarna, ia pucat. Seperti langit Jakarta. Rambutnya juga cokelat gelap biasa. Seperti rambut-rambut pada umumnya.

Tapi ia tertarik dengan makhluk ini. Hingga akhir ia beri nama “si pucat”.

Ibu kota tiba-tiba diguyur hujan hebat. Ia ditempa bulir hujan berkekuatan super. Namun tak goyah, Ia sudah dirancang sedemikian rupa. Seperti tameng. Melindungi punggung pucat.

Tiba-tiba si pucat bangkit dari kursinya. Berbalik badan. Berjalan mendekat. Ia tersentak. “Dia mendekat? Dia menghampiri aku?” Batinnya meriah. Andai Ia tidak tertanam di bingkai jendela, pasti sudah lompat-lompat senang.

Benar makhluk ini mendekat. Semakin jelas ia saksikan warna matanya cokelat gelap. Senada dengan rambut. Wajah pucat. Ujung hidung , bibir dan pipi merona merah jambu, masih pucat. Ia bisa saksikan semuanya.

Ia tak mengerti, mengapa gadis ini berhasil mencuri perhatiannya. Dari warna-warna si pendonor warna. Dari kemeja putih, jas abu-abu dan sepatu hitam mengkilat. Dari langit Jakarta. Dari hujan halilintar di luar sana.

Jika ia bisa bertelepati, Ia ingin ajak jam dinding bernegoisasi, agar waktu berhenti sejenak barang lima detik. Jika dan hanya jika.

***

Ini berlangsung setiap kali hujan turun. Kanya selalu mendekat. Kanya, sebagaimana ia mengeja nama yang tertera di atas badge.

Rasa senang yang lama-lama jadi muak. Jauh di dalam mata cokelat gelap, tidak ada wujud dirinya. Melainkan langit suram Jakarta atau gedung lain. Ia pernah berandai-andai ingin menjadi sesuatu yang tidak transparan.

“Mungkin jadi cermin bisa lebih baik”. Keluhnya yang pertama. Tapi setelah dipikir-pikir, jadi cermin bukan ide yang bagus. Yang dilihat Kanya adalah refleksi dirinya sendiri. “Bagaimana kalau aku dinding beton?” Keluhnya yang kedua. Apapun yang tidak transparan mungkin bisa terlihat oleh Kanya. Tapi lagi-lagi kandas. Dinding beton akan diacuhkan. Lebih parah lagi kalau ditimpa lemari.

Dan keluh itu semakin menjadi-jadi. Ketika ia lihat Kanya punya berbagai ekspresi. Saat bibir pucatnya melengkung. Saat pipinya menyencang karena tertawa dengan pemilik rambut peek a boo highlight. Waktu Kanya memijat pelipis sambil bersandar di sandaran kursi. Waktu menatap jauh melintasi tubuhnya yang transparan setiap hujan datang.

Dia muak. Untuk pertama kalinya ia mengumpat. Mencaci manusia yang ciptakan dirinya hanya karena butuh. Iri dengan manusia yang dapat tumbuh dan disekelilingi cinta. Cinta, ya cinta. Berkali-kali ia lihat cinta di dalam pucatnya kulit Kanya.

***

Hari ini ia dapati Kanya pulang lebih malam. Ia muncul dari sebuah ruangan dengan sebuah kotak kardus. Satu per satu peralatan di atas meja ia pindahkan ke dalam.

“Kanya?!” 

Bertahun-tahun ia menjadi saksi bisu terhadap seluruh pergerakan penghuni ruangan. Ia sudah hafal apa yang akan terjadi ketika seluruh peralatan telah tertata rapi di dalam kotak. Kubikel akan kembali kosong dan keesokan paginya akan ada orang baru yang datang.

Sayang, bingkai jendela sangat rapat. Ia tidak bisa bergerak tanpa bantuan angin. Lebih parahnya lagi, langit Jakarta sedang cerah. Sekuat tenaga yang Ia punya. Entah Kanya bisa mendengar atau tidak.

“Kanya!! Jangan pergi!! Lihat aku, Kanya!! Aku disini, Kanya!!”

Category: Serpihan Kaca
Tag: , ,

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is the outer covering of a tree?