Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Realistis

Tangan kurusnya tadi lembab. Menahan keringat dingin. Ia remas sekuat tenaga supaya jangan sampai kram. Sepucuk amplop merah gelap meminta disambut. Tergeletak di atas meja ruang tamu. Kisar diam mematung. Duduk termangu di sofa. Memijat-mijat kedua telapak tangan. Hanya ditatap dengan segenap tenaga yang tersisa. Nafas yang tersisa. Tubuh yang tersisa. Kepala yang tersisa.

Tampak luar tidak ada yang lain lagi selain merah gelap. Tidak ada tulisan atau ornamen apapun.

Di dalamnya pasti ada sebuah nama.

Tebaknya hebat.

Melintas Jehan yang beberapa dua jam yang lalu menghampiri. Mengetuk pintu. Bertemu mata di ambang pintu.

“Jehan? Kok mendadak datangnya? Ayo masuk… Kebetulan aku baru selesai bikin puding.”

Lengan Jehan dipeluk. Menuntun langkah masuk ke dalam rumah. Jehan mengikuti. Sedikit terseret. Sampai di ruang tamu pelukan Kisar merenggang.

“Kamu duduk dulu ya. Aku mau ambil puding di dapur.”

Jehan masih mengikuti tangan-tangan Kisar yang meminta agar duduk di sofa.

“Kisar.”

“Sebentar aja ya. Tinggal dikeluarin dari kulkas terus–“

“Kisar.”

Jehan bangkit dari sofa.

Kisar kepalang senang. Ia lupa menyimak wajah Jehan. Tak ada senyum. Wajahnya kaku seperti patung.

Senyum senang Kisar meluap. Ikut membatu. Hatinya membeku. Angin beku menyeruak dari uluh hati. Sarafnya kaku. Rasa rindu tatkala sudah hampir setahun tak bertemu. Jehan menetap di luar kota. Terpaut ribuan anak panah jaraknya. Belum lagi kesibukan Kisar yang harus bolak-balik keluar negeri untuk meeting sekaligus menerima tuntutan kantor untuk mengambil jenjang master di Australia.

Semua beku.

Jehan keluarkan amplop warna merah gelap dari balik jaket. Menghampiri Kisar. Langkah pelan sekaligus dalam. Wajahnya masih kosong. Menatap Kisar pun tanpa isi.

Seketika sekujur jemari Kisar menggerutu. Berdepat satu sama lain. Telunjuk, kelingking, bahkan jempol tak ada yang ingin menyambut benda merah muram yang Jehan sodorkan.

Ia mengerti. Gadis di hadapannya kini sedang terguncang. Tangan dan amplop merah gelapnya mereda.

“Akhirnya aku memilih realistis, sar. Bersanding denganmu—“

Jehan menggeleng sambil menunduk kecil, kemudian kembali menatap Kisar.

“Itu mustahil. Kamu harusnya bersanding dengan yang lebih pantas.”

Kini rahang Kisar yang bergemeletuk. Kram saraf sudah sampai tengkorak.

“Dia gak lebih baik dari kamu. Tapi aku merasa seimbang. Setara. Setingkat.”

Ucapan Jehan serupa gas air mata. Disemprot tepat di depan batang hidung. Kepalanya sampai pening. Jehan nyaris buram. Matanya beradu dengan pilu yang diam-diam Kisar takuti. Cukup lama ia takuti.

“Kami bertemu di acara reuni SMA. Dia bekerja di swalayan. Sama seperti aku. Cuma punya ijazah SMA dan memberanikan beradu nasib di ibu kota.”

Gas air mata yang dicampur dengan cairan merica. Perihnya bukan kepalang. Sekali dua kali Kisar memejamkan mata. Meredam perihnya kenyataan. Meredam pahitnya realistis versi Jehan. Meredam kebenciannya dengan status sosial.

Bibirnya terkatup, tapi paru-parunya terisah di balik dada.

Jehan meletakkan amplopnya di atas meja.

Menghampiri Kisar. Memeluk sekedarnya. Membelai punggung hingga Kisar pecah. Seisi penatnya berhambur. Jantungnya ikut menangis. Berdegub tak keruan. Telinganya menangis. Mendenging hingga langkah Jehan saat berlalu tak terdengar lagi. Pita suaranya menangis. Tak sanggup bersuara layaknya manusia. Jeritan parau yang tersedak. Koordinasi kerongkongan sudah tak seimbang. Kapan menarik nafas dan kapan menjerit sudah tak beraturan.

Hingga kelelahan. Kisar memeluk dada dan bersandar dengan dinginnya lantai. Kepalanya berat. Pening. Telinga masih mendenging. Sebentar lagi ia akan meledak. Hancur untuk yang kedua kali.

Ia pikir kali ini bisa lebih fasih memeluk Jehan. Mempertahankan hatinya. Mengukuhkan pertahanan Jehan walau jarak dan waktu sering tak bersahabat. Berjalannya waktu, Kisar tidak sadar, ternyata Jehan bertarung dengan kenyataan. Keikhlasan yang degerus oleh realita. Tentang jati dirinya dimata status sosial. Derajatnya dimata status pendidikan.

***

Nafasnya sudah kembali teratur. Bekas air mata mengering jadi kerak di sekujur wajah.

Menatap amplop yang tak akan pernah ia sentuh. Menatap dalam-dalam. Ada Jehan dan segenap bendera putihnya dengan kenyataan. Ada dirinya yang hancur lebur menyatu dengan lantai.

Aku yang belum berdamai dengan keadaan.

 

Kamu (Jehan) sudah, tapi aku belum.

Category: Serpihan Kaca

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 3 * 7?