Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Rahasia Josh #20

Semakin hari selaput ini tak terelakkan. Ia saksikan sendiri hingga terbiasa. Dipojok bengkel galeri, sambil bersembunyi di balik laptop, Josh sedang memahami. Bagaimana Naya menikmati setiap sapuan kuasnya. Berdiri di sisi Wira. Kadang-kadang menenggelamkan wajah di dalam sketch book. Bagaimana Wira tak sanggup menahan senyum setiap kali melirik Naya di sisinya. Naya jelas tidak sadar, Wira malingkan sedikit wajahnya. Tapi Josh melihat. 

Bagi Josh, selaput ini bukan areanya. Satelit yang beredar mengitari bumi, Wira dan Naya adalah satu-satunya menghuni bumi. Josh mengamati dari angkasa. Ia lebih baik tetap menjadi satelit di luar selaput yang terjalin di bengkel galeri. Josh putuskan untuk menyimpan saja. Entah sampai kapan.

“Tante pikir gak ada orang di sini. Pada serius banget kayaknya.”

Tante Mira hadir dengan senampan gorengan dan teh hangat. Kudapan sore yang tidak pernah absen. Kesehariannya hanya menjaga galeri depan dan melayani pengunjung yang rata-rata turis asing. Bahasa Inggrisnya sudah sangat lancar. Belajar dari Josh.

Walau hanya menjaga galeri, penampilannya selalu rapih. Blouse semi monokrom dan bawahan bahan. Kadang celana, kadang rok. Wira dan Naya jadi penambah rutinitasnya di sore hari. Sekedar membeli kue di sekitar galeri atau kudapan sengaja ia buat sendiri. Seperti saat ini. Tubuhnya dilapis celemek motif bunga-bunga. Gorengan dibuat sendiri. Pakai celemek agar bajunya tetap rapih karena pelanggan asing kadang terlalu jeli mengamati.

“Wah hari ini gorengan yah.”

Fokus Naya pecah. Sambil mendekati kudapan, Naya membasuh tangan dengan tissue basah. Tissue bukan lagi warna putih. Merah muda, abu-abu dan cokelat pucat. Sisa cat yang nyiprat ke tangan.

Salah satu pojok bengkel menjadi tempat persinggahan kudapan sore. Sesekali Josh juga mengerjakan tugas praktikum di sana. Rutinitas baru setelah bengkel kedatangan penghuni baru. Tumpukan kanvas-kanvas tak bertuan disisihkan. Kemudian ditambah meja bulat dan tiga kursi. Lantai bengkel terlalu lembab, jadi Josh pindahkan kursi tak terpakai di gudang.

“Nah gitu dong. Sebelum makan tangannya dibersihkan dulu. Jangan kayak kemarin. Tangan belepotan cat main comot kue pukis.” Omel tante Mira. Naya senyum nyengir.

“Eits! Wira! Bersihkan dulu tangannya.”

Baru dua langkah, Wira berhenti. Melirik kedua tangannya. Seperti anak TK yang baru selesai membuat hasta karya.

“Pokoknya, biasakan bersihkan dulu catnya baru habis itu boleh ambil makanan. Oke?” Kemudian berlalu. Tenggelam ditelan lorong. Selalu seperti itu. Kehadiran tante Mira di bengkel hanya untuk mengantar kudapan. Beberapa hari lalu, tante Mira bertahap agak lama. Mengomeli Wira dan Naya yang gesit mencomot pukis dengan tangan penuh cat.

“Namanya juga ibu-ibu.” Pukis di tangan kanan dan key board laptop di tangan kiri. Josh menggerutu sambil lalu.

“Sekarang tugas praktikum tentang apa lagi Josh?” Wira datang sambil membasuh tangan dengan tissue basah. Diambil sembarangan dari tas Naya. Benar saja. Tasnya terbuka lebar dan setengah isinya muntah keluar. Hiish anak ini yah.

“Siapa yang lagi ngerjain tugas. Aku lagi baca komik online.”

“Baca komik online tapi batang hidung sampe nempel di layar gitu.” Ketus Wira. Naya tergelak, kemudian terbatuk-batuk karena tertawa sambil mengunyah pisang goreng. Seisi bengkel kembali bernyawa. Semua tergelak.

Kalau sudah seperti ini, selaputnya sirna. Entah menguap kemana. Sebentar lagi Josh juga akan mengerti dinamikan yang satu ini. Kapan selaput datang menyelemuti dan kapan lenyap. Tersirat tanya dalam keheningan Josh.

Mengapa selaputnya datang dan pergi?

bersambung

Category: Rahasia
  • Anton Suwaifi says:

    zzz..maaf saya salah sangka di koment sebelumya. ini yg nulis siapa ya?? skillfull. salam pena!! eh salah keyboard jaman skrg ya ^^

    November 10, 2014 at 3:21 am
  • ayu emiliandini says:

    Hallo.. salam keyboard :)
    Saya Ayu. Kolom identitas bisa dilihat di kolom sebelah kanan.
    Baru belajar nulis. Terima kasih sudah berkunjung.

    November 10, 2014 at 10:02 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 9 + 6?