Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Bencana Karla

Seisi tubuhnya gaduh. Bunyi-bunyi di kepala hingga bulir darah berdesir. Semua terasa risih. Itu sebabnya Klara pergi ke taman kota. Mungkin pepohonan rindang dan jalanan sepi kendaraan bisa meredam. Itu harapannya.

Masih ada pendukung lain yang bisa bantu menghalau kebisingan di dalam tubuh. Ada ceria tawa anak-anak yang senang berlari-lari di taman ketika sore. Beberapa kelompok mahasiswa yang duduk melantai membentuk lingkaran dengan wajah serius dan beberapa berwajah acuh. Ada sepasang lanjut usia yang senang berkomentar tentang apa saja sambil meneguk air mineral. Di pelipisnya banyak bulir keringat. Mungkin baru selesai jogging, atau jalan santai, atau terlalu semangat berkomentar.

Itu semua terbayang dalam angan Klara. Tanpa ragu ia mengait ransel di salah satu bahu. Berjalan penuh harap. Semoga seisi tubuhnya bisa diselaraskan oleh frekuensi semesta dan kembali seimbang.

Taman kota sore ini ramai. Anak-anak kecil berlarian, sekelompok mahasiswa, dan sepasang manula. Bahkan lebih ramai dari bayangannya. Ada dua kelompol muda-mudi pelajar SMA. Kelompok siswa dan siswa duduk dipisah jarak 5 meter. Saling lirik dan berbisik centil.

Seutas senyum di wajah Klara.

Ia duduk melantai. Diatas paving block. Bersandar pada pot bunga. Mengeluarkan sebuah buku novel. Memilin-milin lembaran. Mencari halaman mana yang ia tandai.

Telinganya bebas. Tak ada yang ia selipkan di lubangnya. Sengaja. Agar frekuensi semesta menyelaraskan gelombangnya melalui terowongan telinga. Melewati tiga setengah lingkaran keseimbangan dan mencampuri kegaduhan di tiap sel tubuhnya.

Hanya ada satu bagian yang tetap senyap. Bukan tenang. Bukan segar seperti air minum yang diselipkan mineral. Bukan damai seperti dibuai dengan wewangian aroma terapi. Sunyi. Sepi karena kosong. Bisa juga gelap karena kosong. Bagian itu membentang di sekujur dada.

Itu saja, selebihnya gaduh.

Dari luar ia seperti remaja usia 20an yang sedang asik sendiri. Dunia hanya terjalin antara dirinya dengan buku di tangan. Dengan lembar kertasnya yang ia pilin-pilin.

Padahal sebenarnya bohong. Inti pupil matanya berhenti di satu titik astral. Bukan di permukaan kertas atau terpaku pada sebuah kata. Tidak. Diam saja disana. Yang ia simak bukan kisah cinta novel roman.

Isi kepalanya selain gaduh, juga penuh warna. Potongan-potongan gambar beterbangan kesana kemari. Ya, dibarengi dengan suara-suara percakapan yang mewakili setiap gambar. Setiap adegan. Setiap latar belakang waktu. Setiap gejala. Setiap rona. Setiap saat.

Terlalu dalam Klara tenggelam. Menyelam di lautan isi kepala. Hingga bongkahan emosi yang lama mengendap jadi berhambur lagi. Sekujur dadanya merespon satu per satu.

Rasa hangat ketika ia temukan potongan gambar yang penuh rona bunga-bunga. Hangat hingga wajahnya ikut merona. Hangat hingga seutas senyum memuai, melengkung lebih lebar. Rasa gelisah ketika potongan gambar penuh resah menyerang. Senyumnya menyusut. Rona di wajahnya mengkerut. Yang terasa hanya detak jantungnya yang melompat-lompat ingin bebas.

Yang terakhir adalah potongan gambar kosong. Berwarna namun tak bersuara. Waktu ia dapati dirinya sedang tertawa-tawa memaksa di tengah keceriaan teman sejawad. Sebenarnya tak ada yang lucu karena dunia sudah banyak berubah. Dan seorang lagi di sisinya. Ikut tertawa sambil menggenggam tangannya lembut. Demi dia, Karla mengiyak ajakan reuni. Walau tak ada satupun yang ia kenal. Tak ada yang bisa ia simak. Tak sempat menikmati.

Dan seorang yang sangat biasa.

Nafasnya pelan-pelan jadi berat. Inti pupil cokelat almond pelan-pelan basah dan hangat. Sekali-dua kali kedip menjadi panas. Kemudian perih luar biasa. Ia pejamkan seluruhnya. Menyandarkan kepala di tubuh pot bunga. Buku novel isi cerita cinta-cinta jatuh telungkup di pangkuan.

Bulir pilu yang mendanau hingga tak tertampung. Meluruh membasahi pipi. Matanya masih terpejam. Dadanya susah payah bernafas seperti biasa, padahal bohong. Sesak mendalam di dasar sana.

Lubang telinga yang masih terbuka lebar. Menerima hembus ketenangan. Masuk ke dalam urat saraf. Merambat masuk ke dalam kepala. Memusnahkan kegaduhan. Mendiamkan hingga jadi sunyi. Hingga Klara dapat menyimak apa kata semesta padanya.

Dulu terasa indah hingga hatimu berbunga-bunga. Kemudian semua berubah menjadi bencana ketika kau memutuskan untuk menunggunya. Menghampirinya. Memeluknya dan mengikatnya.

Category: Serpihan Kaca

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 3 * 7?