Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Dokter Hans #2

Michael bisa lihat sesuatu yang menyenangkan di dalam sana. Di dalam kelopak mata yang menutup. Di dalam seutas senyum yang mengembang. Michael bisa lihat dua gigi kelinci yang juga ikut bersahaja di bawah hujan laser LED biru dan bulir kertas berkilau berbentuk bintang yang ia biarkan buram. Karena fokus matanya hanyalah makhluk kecil ini. Yang semula ia pikir sedang tenggelam di lautan manusia. Tidak. Dia punya caranya sendiri untuk menikmati pecahnya penampilan diva galaksi malam itu.

Dicetak, diperbesar, dan dibingkai kayu cat hitam legam. Michael tidak ingin warna lain. Nanti merusak komposisi warna foto. Alasan standard ketika seorang panitia pameran bertanya padanya. Padahal harapannya cuma satu, agar fokus hanya jatuh pada gadis ini. Udah itu saja.

Dengan pencahayaan warm light LED intensitas sedang menyoroti bingkai foto. Michael masih tetap terpana. Berdiri entah sudah berapa lama. Tak bergerak. Hanya bernafas. Semakin halus dan halus. Yang dihirup bukan lagi oksigen. Michael tidak menggubris apa istilahnya. Setiap kali paru-parunya menghirup, ada yang ikut menyelinap masuk ke rongga dada. Merambat pelan disana sambil sedikit menggelitik. Mengganggu bibirnya yang semula terkatup rapat. Lelaki ini ikut tersenyum. Tanpa ia sadari

Ada selembar kertas di sudut bingkai. Sesuai permintaanya. Kertas A5 yang dilaminating dan diberi tali. Diikatkan di sudut kanan bawah bingkai. Diberi tali agar pengunjung dapat menggapai kertas dan membaca lebih dekat. Cerita singkat tentang dirinya dan si pemeran dalam foto. Michael sudah membacanya berkali-kali. Memastikan tak ada satupun kata yang salah ketik. Berkali-kali pula ia memutar potongan demi potongan ingatan tentang malam itu. Tentang rumah sakit tempat Bono dirawat. Tentang percakapan yang mengejutkan hatinya. Tentang kejutan dari sengatan listrik arus rendah.

Bono kurang hati-hati. Waktu mengejar momen sang gitaris melompat-lompat kesetanan di ujung panggung, Bono berlari dari tengah. Matanya tidak memperhatikan kabel-kabel berbagai diameter yang menjulur di bawahnya. Tersandung dan jatuh. Kameranya baik-baik saja, tapi lengannya patah. Lengan kanan langsung menghantam lantai sekaligus menahan beban berat tubuhnya. Yasudah, Bono tak sanggup bangun dan langsung digantikan oleh Chandra yang semula berada di back stage.

“Makanya, Bon. Itu kacamata jangan cuman dilebarin lensanya, tapi sekalian ditambahin infra merah, biar tetep bisa liat di dalam gelap.” Kelakar Chandra yang berdiri di sisi tempat tidur Bono. Bono cuma tertawa renyah sambil meringis. Pura-pura membenarkan letak kacamata agar ia tak terlalu kelihatan salah tingkah. “Biar ditambahin sensor infra merah kalo emang gak lagi ngeliat ke bawah, ya sama aja tuh kabel gak keliatan.” Dalih Bono yang sudah menemukan kepercayaan dirinya lagi. Tangannya yang lain menghantam lengan Chandra. Lama-lama dua fotografer ini sibuk berdebat kusir seputar solusi kecelakaan Bono. Sedangkan crew yang lain hanya ikut tergelak menyaksikan duo pelawak dadakan.

Handphone Michael berdering. Telpon dari nomor yang tidak ia kenal. Ia menyikir sejenak, keluar dari kamar Bono.

“Selamat siang, dengan Michael Ferdinan?”

“Ya saya sendiri.”

“Kami dari panitia kompetisi fotografi.”

Michael menang. Salah satu hasil foto bertema konser yang ia kirimkan menyandang gelar juara 3 tingkat nasional. Sebenarnya pengumuman pemenang sudah melayang ke kotak masuk, tapi Michael belum sempat periksa email. Belum tahu jelas foto mana yang memenangkan kompetisi. Ia mengirimkan 3 foto, sesuai dengan jumlah maksimal yang ditentukan panitia. Pameran sekaligus penyerahan hadiah akan diadakan sebentar lagi. Hitungan minggu.

Telpon berakhir. Michael baru sadar bahwa ia berjalan cukup jauh dari kamar Bono. Baru akan kembali tapi langkahnya berhenti.

“Jadi bagaimana suasana konser waktu itu?” Suara seorang laki-laki yang bertanya. Bukan sekedar bertanya. Tempo bicaranya lebih lambat dari percakapan pada umumnya. Kemudian tidak ada jawaban yang cukup jelas dari pertanyaan laki-laki ini. Michael terusik. Ia mengikuti arah sumber suara. Berasal dari sebuah ruangan dokter bedah. Pintunya terbuka setengah. Semakin dekat, suara laki-laki ini semakin jelas, tapi ada yang aneh. Ada satu suara lagi yang tidak terdengar jelas. Ia bicara terpatah-patah dan cenderung mendengung.

Michael berhasil mengintip dari celah pintu. Suara laki-laki ini ternyata seorang dokter. Dan lawan bicaranya adalah seorang wanita. Oh tidak-tidak.. Dia seperti gadis remaja usia belasan tahun. Perawakan kecil. Duduk diatas tempat tidur pasien sedangkan sang dokter menyimaknya sambil berdiri. Gadis ini memangku scketch book. Sesekali ia menuliskan sesuatu dan diperlihatkan kepada dokter. “Maksud kamu langit-langit graha berubah seperti milkyway?” Lanjut pertanyaan sang dokter. Gadis ini mengayunkan telunjuknya sambil tertawa renyah. Suara tawanya seperti tenggelam di dalam kerongkongan. Ia terus berbicara sambil menggambar sesuatu di sketch book. “Waahh… Seluruh interior menjadi gelap sekaligus cerah dengan efek bintang-bintang dan cahaya aurora. Sayang sekali aku batal menemanimu. Aku tiba-tiba dapat panggilan operasi.” Wajah gadis ini memelas, tapi cuma sebentar. Setelah itu seutas senyumnya mengembang. Memperlihatkan deretan gigi yang sedikit tak rata.

Senyum itu?! Michael terperanjat. Untung ia masih punya keseimbangan, kalau tidak, tubuhnya bisa tiba-tiba limbung. Interior graha, desain langit-langit penuh bintang, galaksi, cahaya aurora. Michael semakin tertanam disana. Ia berharap. Semoga aku tidak salah dengar.

***

Dokter Hans mengaku menyesal. Dia ikut memelas. Tapi tiba-tiba ia ingat sesuatu. Ia menatap pria berjas putih di hadapannya dengan tatapan “tunggu sebentar”. Tangan-tangan kecilnya membongkar isi ransel. Tidak ketemu. Tangannya berganti merai jaket yang ia kenakan malam itu. Ah ketemu. Dokter Hans mendekat selangkah. Mengamati tingkah laku Myle yang tiba-tiba berubah. Dari dalam kantong jaket, tangannya memegang dua lembar kertas sebesar telapak tangannya. Silver dan berkilau di bawah lampu ruangan. Myle bercerita bagaimana ia menemukan kertas ini.

Kertasnya banyak sekali, jatuh dari atas, seperti hujan. Kedua tangan mengayun-ayun mengikuti gerak rinai hujan. Dari atas , jatuh pelan-pelan ke bawah. Ada satu kertas jatuh di wajahku. Ia mengdongak dan menunjuk-nunjuk wajahnya. Letak kertas bintang ini jatuh tepat di dahinya. Aku ambil satu untuk ku simpan di kamar, tapi aku ingat Dokter Hans. Di tangannya ada dua lembar kertas bintang. Ia berikan satu pada Dokter Hans. Sisa gemerlap bintang-bintang malam itu sangat membekas di benaknya. Meresap ke setiap jengkal tubuhnya. Bahkan senyum simpulnya ikut berkelap-kelip.

Pria ini menerima dengan suka cita. Di tangannya, kertas ini terkesan lebih kecil. Ia simpan di dalam kantong jasnya. Kemudian mengusap rambut Myle. Poninya berantakan. “Terima kasih, Myle.”

Myle tidak menjawab. Ia hanya berikan senyum terbaik pada Dokter Hans. Teman terbaiknya semasa di panti asuhan.

bersambung

Sebelumnya

Sesudah

Category: Uncategorized

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 7 in addition to 4?