Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Hans dan Myle #3

“Selamat pagi.” Sapa ramahnya kepada para suster.

“Pagi dokter Hans.” Balas seorang suster muda yang kebetulan berdiri paling dekat dengannya. Ia hanya tersenyum ringan kemudian beralih pada layar komputer. Rutinitas setiap pagi. Memeriksa seluruh kondisi para pasiennya yang sudah lebih dulu diperbaharui oleh mahasiswa koas. Selama tiga bulan kedepan ia dibantu oleh empat orang mahasiswa. Cukup meringankan bebannya. Satu-persatu ia baca teliti. Bagaimana kondisi terbaru pasien A yang punya masalah dengan keberadaan lendir berlebih di pinta suara? Bagaimana keadaan pasien B setelah beberapa lalu menjalani operasi? Aahh iya operasi. Operasi yang menggagalkan rencananya pergi bersama Myle ke konser.

“Seluruh data pasien sudah lengkap, dok?” Seorang mahasiswa koas menghampiri.

“Sudah, semua sudah lengkap. Sam, ikut saya kunjungan pasien pagi ini. Beritahu juga yang lainnya.” Seutas senyum di akhir kalimat. Dibalas satu anggukan pelan kemudian pemuda berjas putih ini berlalu memunggungi Hans. Baru sedetik ia akan kembali membaca laporan pasien, Sam datang lagi. “Dokter Hans. Tadi ada yang mencari Anda.” Ujarnya singkat.

“Mencari saya? Sepagi ini? Dari divisi diagnosis?”

“Bukan, dok.” Nampak Sam sedikit berpikir. “Sepertinya dia bukan pegawai rumah sakit.”

“Suruh dia menunggu di ruangan. Saya akan menemuinya setelah kunjungan pasien.”

***

Berbagai pernyataan berkeliaran di kepalanya. Ini nekad. Ini terlalu jauh Michael. Cukup katakan terima kasih dan selesai. Berkali-kali pula ia menggeleng. Menghepaskan seluruh pikiran panik agar mencelat dari pori-pori kulit kepala. Dia spesial (aku rasa). Berterima kasih saja tidak cukup. Bagiku tidak cukup. Sekarang tubuhnya yang mondar-mandir. Mungkin dengan begini ia bisa sedikit menyibukkan fungsi otaknya. Mengatur langkah bolak-balik tungkainya yang jenjang. Supaya pikiran panik itu enggan pulang lagi.

Lama-lama lelah juga. Michael kembali duduk. Memperhatikan setiap jengkal pemandangan di atas meja hingga dinding-dingin yang dihiasi poster anatomi tubuh manusia. Dia atas meja banyak map berbagai warna. Di layar komputernya juga banyak tempelan post-it warna-warni. Sudah sama ramainya dengan pekerja kantoran. Dari tumpukan map, Michael mengeja sebuah nama. Kepalanya sedikit miring agar nama itu terbaca. Handy Saputra…

Ada langkah menderu dari luar. Semakin lama semakin dekat. Michael membenarkan duduknya. Ekor matanyanya masih melikir nama di atas map. Handy Saputra. Dan berniat untuk menghafal nama ini baik-baik.

***

Sesampainya di ruangan. Hans tidak begitu terkejut. Benar kata Sam, ada tamu untuknya. Bukan dari awak rumah sakit. Pakaiannya santai. Polo shirt hitam polos. Sedikit ada bordir di bagian dada kiri. “Selamat pagi. Maaf jadi menunggu. Tadi saya harus kontrol ke kamar pasien. Rutinitas pagi.” Sapanya ringan sambil menjabat tangan sang tamu. Hans menyebutkan namanya, begitu juga tamunya. Saat berjabat tangan, baru Hans sadar, ia kenal dengan logo bordir di dada kiri pria ini. Logo band favoritnya.

Sepintas ingatannya melesat pada Myle. Apa terjadi sesuatu dengan Myle malam itu? Dari balik jas kedokterannya, Hans menarik nafas panjang. Menenangkan diri. Mungkin hanya kebetulan. Kebetulan pria berkostum panitia konser datang padanya pagi-pagi sekali. Untuk berobat, mungkin.

Hans mempersilahkan duduk. Begitu juga dengannya, duduk di kursinya. “Ada yang bisa saya bantu?”

***

“Waktu pertama kali bertemu, dia masih anak-anak.” Hans bercerita sambil membekaskan seutas senyum di wajah tenangnya. Ingatan melayang jauh. Menembus lapisan temperatur udara. Menembur ruang. Menembus waktu. Dulu saat ia masih menginjak tahun pertama di perkuliaan. Fakultas tempatnya menimba ilmu sedang melaksanakan kegiatan sosial. Berkunjung ke sebuah panti asuhan milik kerabat dosen.

Datang membawa berdus-dus buku cerita bergambar, buka tulis, buku mewarnai lengkap dengan pensil warna dan crayon. Dus lain berisi banyak mainan yang siap mengukir senyum anak-anak ketika mereka tiba. Mereka. Hans dan teman-teman seangkatannya.

Sesampai disana, mereka disambut meriah oleh anak-anak yang rata-rata usianya 7 – 17 tahun. Usia pelajar. Hans larut dalam suka cita bermain bersama anak-anak. Ketika waktu makan siang tiba, Hans dan teman-teman juga ikut makan bersama, kemudian lanjut bermain lagi. Giliran Letisha yang memandu permainan di tengah-tengah aula. Yang lain mengamati agar tidak ada anak yang celaka. Bisa saja mereka berlarian lincah kemudian bertabrakan di satu titik.

Hans menemukan seorang anak perempuan di ambang pintu. Masih sangat kecil, 6 tahun. Setengah tubuhnya bersandar di dinding, seperti sedang mengintip. Hans hampiri anak ini. Seketika ia melangkah mundur dengan cepat. Hans menghentikan langkahnya, anak ini juga berhenti. Hans melangkah lebih lambat. Anak ini menatapnya dengan mata bulat penuh tanya. “Hai.” Sapa Hans yang berjongkok di dekatnya. Anak ini bergeming. Matanya semakin membulat. “Ayo ikut main di dalam.” Hans memberikan satu tangannya seperti mengajak. Tetap bergeming. Anak ini mundur beberapa langkah dan berlalu. Ia berlari tanpa melirik.

Dari seorang pengurus panti, Hans baru tahu bahwa anak ini spesial. Ia membutuhkan penanganan yang spesial pula. Sejauh ini ia hanya berinteraksi dengan seorang pengurus panti. Seorang relawan yang berbicara dengannya dengan bahasa isyarat.

“Tapi aku terus kembali lagi ke panti itu. Hanya sekedar ingin tahu, apakah dia merespon buku dan mainan yang sudah kami donorkan atau tidak.” Hans terus bercerita sambil menyesap teh melati hangat yang sudah mendingin.

Hans kembali dan kembali lagi ke panti asuhan. Menanyakan kabar Myle. “Dia suka sekali buku cerita bergambar. Sejak saat itu dia rajin belajar membaca dan menulis.” Kabar gembira dari sang relawan berbahasa isyarat, Jessy. Ada satu ruangan kosong yang kini digunakan sebagai perpustakaan mini. Jessy menuntun Hans melirik Myle dari balik jendela. Benar kata Jessy, Myle jadi gadis cilik yang tenggelam di tengah-tengah rak buku. Ia duduk di atas karpet. Awalnya hanya ada kursi kecil di sekitar ruangan, tapi Myle lebih memilih duduk di lantai. Hingga akhirnya pengurus panti mengganti kursi dengan karpet.

Suatu hari Hans datang dengan belasan buku cerita bergambar khusus untuk Myle. Sekaligus ini adalah pertemuan keduanya setelah kegiatan sosial. Dibantu Jessy, Hans kembali menyapa Myle di tengah rak buku. “Myle, ini Hans. Dia datang membawa buku kesukaan Myle.” Jessy menggerak-gerakkan tangannya. Tak ada satupun isyarat yang Hans pahami. Tapi Myle paham. Bergantian mata bulat ini menatap Jessy dan Hans. Kemudian Myle memberikan tangannya pada Hans. Untuk kali pertama, mereka berjabat tangan. Tangannya mungil sekali. Hans memberikan senyum terluasnya. Kemudian gadis ini juga membalas dengan senyum terbaiknya. Senyum berhias sepasang gigi kelinci. Hans terkekeh, begitu juga dengan Jessy. Mungkin Jessy juga setuju kalau Myle lucu sekali dengan gigi kelinci mungilnya.

Di akhir pertemuan itu, Myle berlari menghampiri Hans yang sudah sampai pintu pagar. Tangannya bergerak-gerak dengan sepasang mata bulat yang berbicara. “Dia bilang terima kasih.” Tukas Jessy menyusul di belakang Myle. Awalnya Hans ingin berkata terima kasih, tapi batal. Myle tidak akan merespon gelombang suara ‘terima kasih’ nya. Jessy memberi isyarat, Hans mengikuti gerakan tangan Jessy. “Itu artinya ‘terima kasih kembali’.” Tukas Jessy lagi. Dan Hans mengulagi isyarat ‘terima kasih kembali’nya lagi

Sejak saat itu Myle tak berhenti membaca. Segala ia baca. Mulai dari koran harian sampai buku resep makanan. Hans merasa belum cukup lega. Akhirnya ia mencari informasi seputar beasiswa khusus siswa berkebutuhan khusus. Hans sangat yakin, Myle anak yang cerdas. Ia seperti sponge yang mudah menyerap apa pun yang ia baca dan simak dengan mata. Walau pendengarannya tak berfungsi maksimal.

Benar saja, ada sebuah yayasan khusus tuna rungu yang bersedia membiayai sekolah Myle dari SD hingga SMA. Saking senangnya, Hans berlari menerobos panti asuhan dan memeluk Myle yang masih tenggelam di tengah buku-buku. Jessy juga ada di sana, meneruskan kabar bahagia pada Myle. Wajahnya terkejut. Kedua tangan mungilnya menutup mulut yang menganga. Mata bulatnya berkilat, sekali kedip, kebahagiaan meluncur membasahi pipi gempilnya.

“Tapi sayang sekali. Baru setahun Myle mengenal lingkungan baru di sekolah, Jessy harus pergi.” Gelas Hans sudah kosong. “Jessy dilamar oleh pria berkebangsaan Australia. Jadi dia harus pergi.” Namun Hans tak ingin berlama-lama larut dalam kesedihan waktu itu. Toh pada kenyataannya, Myle tumbuh dengan sangat baik. Keingin tahuan yang tinggi dan penuh semangat. Pernah suatu hari Myle bertanya tentang beberapa kotak CD yang ada di mobil Hans, sejak saat itu Hans berencana mengajak Myle nonton konser band indie tersebut. “Tiba-tiba aku dapat panggilan dari rumah sakit. Ada pasien yang harus dioperasi malam itu juga. Aku pikir Myle tidak akan pergi. Ternyata dia pergi sendiri.”

“Dan kamu tahu. Dia bawa oleh-oleh.” Hans mengeluarkan potongan kertas bintang dari kantong jas nya. “Dia bilang, di dalam konser ada hujan bintang.” Hans tergelak renyah bersama lawan bicaranya.

“Jadi begitulah pertemuanku dengan Myle.” Hans menyandarkan punggungnya di kursi. Menanti lawan bicaranya yang bercerita. Sekarang giliranmu. Pria berbaju hitam berdeham. Membenarkan kerongkongannya. Dari dalam tas, ia mengeluarkan selembar foto A3. “Aku salah satu panitia konser malam itu. Aku mendapatkan moment ini. Berkat Myle dan gigi kelincinya–“ Michael terkekeh singkat, “foto ini memenangkan kompetisi fotografi. Juara tiga.” Michael juga bercerita tentang rekannya yang patah tulang dan sedang di rawat di rumah sakit yang sama. Kemudian tanpa sengaja melihat Myle keluar dari ruang kerjanya. Michael tidak ingin dicap sebagai penguntit, jadi ia sedikit mengarang khusus di bagian ini. Itu sebabnya ia datang menemui Hans.

“Aku ingin berterima kasih pada Myle, tapi terima kasih saja aku rasa tidak cukup.” Hans mengangguk ringan. Ia setuju. “Mungkin aku akan datang lagi kalau sudah ada ‘ide terima kasih’ yang cukup spesial.” Hans mengangguk lagi sambil tersenyum lebar. Ia sangat setuju.

“Terima kasih atas waktunya Dokter Handy.”

“Hans. Panggil saja Hans.” Ia membenarkan nama panjangnya. Memang bagi sebagian orang yang baru mengenalnya akan memanggil Handy. Dengan cepat pula akan ia ralat menjadi Hans. Agar lebih akrab.

“Oke. Thank you, Hans.”

bersambung

sebelumnya

Category: Serpihan Kaca

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 7 + 8?