Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Kita ini apa?

Mungkin tidak sepenuhnya aku mewakili Anda, tapi aku sangat nyaman untuk menggunakan “kita”. Jadi abaikan saja bila Anda enggan terlibat dengan apa yang akan saya bicarakan. Anggap saya sedang berbincang dengan Anda yang lain.

Kita bimbang kemudian menemukan alasan. Lahirlah keputusan. Aku sebut dengan “menemukan” karena ia seakan datang menghampiri dan kita meresponnya.

Kita tertawa lepas. Tergelaklah kita dengan suara meledak. Sesuatu datang menggelitik dan kita meresponnya dengan tertawa.

Kita bertanya dan kita juga merasa tahu jawabannya. Seperti para filosof yang terus bertanya kemudian mencari dan akhirnya menemukan jawaban. Aku lebih ikhlas menyebutnya sebagai jawaban yang datang dan sang filosof menerima sesuai dengan media yang ia gunakan. Jadi mereka tak sepenuhnya mencari dalam ruang gelap. Hitam saja dan meraba kemana-mana.

Maksudku begini.

Kita -sekali lagi bila Anda terganggu dengan “kita” maka abaikan saja- hidup saja. Ya, bangun tidur, terus mandi, menggosok gigi, menggosok badan, menggosok harapan, menggosok lampu angan-angan, hingga lelah kemudian tidur pulas. Begitu saja. Hingga mengganggap bahwa bernafas pun adalah oksigen kita. Berbicara pun seperti daya dan suara kita. Berpikir pun seolah nalar milik kita. Berburuk sangka pun terasa sangka ini milik kita.

Tapi aku merasa lain.

Sekarang aku hilangkan “kita” karena tak banyak yang akan setuju dengan aku. 

Aku bernafas, tapi ini bukan paru-paruku. Aku bertanya, ya itu pertanyaanku, namun ketika aku berbelok, itu bukan keputusanku.

Aku hanyut. Aku benda mati. Anda tahu? Diberi sakit maka aku sakit. Diberi senang maka aku gembira. Diberi gelisah maka aku bimbang. Diberi cahaya maka aku terang. Diberi gelap juga aku akan hitam.

Aku benda mati. Bernafas ini bukan paru-paru ku. Berjalan wara-wiri juga ini bukan duniaku.

Setujukah Anda?

Bila tidak juga tak apa, Anda bisa abaikan saja. Tapi aku berharap Anda turut merenungkan. Siapa tahu “Anda” yang ada di dalam benak terdalam merasa sama dan seirama dengan aku.

Tak sepenuhnya suka bila aku harus gunakan istilah ‘tak berdaya’. Tapi memang demikian adanya. Dikasih mati pun aku jelas akan mati.

Wahai teman. Kita ini benda mati. Percayalah. Tampar jika aku salah. Setelah menampar, aku sarankan untuk merenungkan. Bukan siapa kita, tapi apa kita.

Kita ini apa.

Category: Uncategorized
  • Bans. says:

    This is easy. Kita itu produk Tuhan, semua organ dan segala yang terjadi di tubuh kita adalah ciptaan Tuhan, dan bergerak menurut tujuan dasar semenjak mereka diciptakan. Mereka udah melakukan tugasnya, buktinya kamu masih hidup sampe sekarang.

    Terus apa tugas kita? Semua organ dan yang terjadi dalam tubuh kita hanya semata mengajarkan kita buat rajin bersyukur.

    October 13, 2014 at 8:28 am
  • ayu emiliandini says:

    bersyukur dan menjalankan misi yang Tuhan selipkan di setiap organ tubuh manusia…

    October 13, 2014 at 6:58 pm

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is the outer covering of a tree?