Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Kosong

Belakangan Dira banyak diam. Mengunci diri di dalam kamar. Dulu dia tidak begitu. Dulu wajahnya penuh tawa. Ucapannya penuh kelakar yang menghangatkan banyak hati. Sepasang mata yang menyipit setiap kali terbahak dengan candaan yang ia buat sendiri. Yang lain tidak ikut tertawa, Dira tidak peduli. Selama itu lucu, dia tertawa.

Kalau sedang tidak ingin tertawa, ia sering melirik. Melirik kertas-kertas di dalam buku. Bunyi gemerisik setiap kali membalik lembar membuat Dira terusik untuk bercanda dengan kertas. “Apa kamu punya tulang belakang? Bagaimana rasanya jika aku lipat ujung kertasmu? Sakit? Kalau begitu kamu jangan punya tulang? Iya itu lebih baik.” Gelitik mengitari selubuh hatinya. Hatinya tergelak. Bibirnya hanya mengatup senyum. Menahan tawa agar tetap bertahan di rongga dadanya. Itu baru kertas. Belum daun pintu, gumpalan awan, secangkir teh dan kepik di daun talas. Dira bisa menertawakan segalanya.

Sekarang

Dira kehilangan kata. Perbendaharaan diksinya menyusut termakan waktu. Semua bergerak mundur saat ia memutuskan untuk bungkam. Bibirnya terkatup rapat. Telinganya disumpal karet. Matanya ditutup kacamata hitam. Menutup diri dalam gelap. Membiarkan dirinya dicelup tinta kelam.

Terasa penuh sekaligus keluh.

Dira lupa caranya lepas. Melihat cakrawala lepas. Mendengar debur laut lepas. Menyesap angin lepas. Mengepak sayap lepas. Tertawa lepas. Terbelalak lepas. Semuanya.

Dira lupa semuanya.

Tidak lagi mudah mengaku. Bahwa ia sedang jatuh cinta. Lalu cintanya beku tak bergerak maju. Mundur juga enggan. Sempat Dira berpikir untuk mati. Itu ide terburuk yang pernah terbesit dalam benaknya.

Cukup lama Dira menenangkan diri dalam senyap. Memutar cerita lama waktu pertama kali ia tertawa karena cinta. Kelakarnya mulai kenal malu-malu dan wajahnya tergelak sambil bersemu merah jambu. Terus begitu hingga ia rasakan rona abu-abu. Seperti saat ini.

Sebuah petir menyambar. Kaca jendelanya bergetar. Dira tersentak. Punggungnya mengantam dinding dan jatuh ke lantai. Sakit. Rasanya sakit di pinggang sampai tengkuk. Dira teriak sekencang-kencangnya. Bahwa ia kesakitan. Bahwa ia kesepian. Bahwa ia sedang jatuh cinta. Bahwa ia sulit bangkit setelah jatuh. Bahwa ia tak sanggup menertawakan sakit hatinya. Bahwa ia menyimpan pilu sembari penglihatannya mengabur. Bahwa ia menangis meronta dan tak ingin ada yang tahu.

Bahwa Dira ingin berkelakar seperti dulu.

Seperti badai yang sudah berlalu.

Dira bisa berdiri dan menyalakan lampu. Kamarnya terang. Sampul buku warna-warni di atas meja. Motif bunga-bunga ungu di setiap sudut tempat tidur. Langit jingga, hijau, biru menuju gelap.

Dan hatinya pulih.

Ringan Dira mengakui, bahwa dirinya sedang terpenjara dalam diam. Harusnya jangan. Diam bukan sifatnya. Sepi bukan atmosfirnya. Kosong bukan favoritnya.

Belum pulih benar sakit punggungnya, tapi Dira sudah bisa tertawa kecil. Waktu ia temukan sebuah kertas di dalam buku dengan sebuah lipatan di ujungnya. “Hai kertas. Maaf, aku lupa, aku melipat ujung kertasmu kemarin. Apa rasanya sakit?” Kertas tak menjawab, tapi hatinya menghangat dengan kelakar baru.

Dira pulih.

Category: Serpihan Kaca
Tag: ,

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 9 times 4?