Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Idiot

Tok.. tok.. tok…

Chris tersenyum di ambang pintu. Daun pintunya terbuka setengah. Berjalan masuk dengan sekantung plastik makan malam praktis. “Sudah berapa lama kamu seperti?” Chris menatap peratalan kimia bergantian. Gelas ukur mulai dari 5 ml, 10 ml, sampai 1 liter. Gelas kimia dengan berbagai diameter. Pipet berbagai bentuk. Dan semuanya transparan tanpa warna. Bening saja. Yang berwarna hanyalah cairan yang tertampung di dalamnya. Semua didominasi warna hijau tosca. Warna pekat hingga pudar sebening air putih.

Ika duduk diantaranya. Di atas kursi beroda tanpa sandaran punggung. Sejak kedatangan Chris, ia hanya memutar setengah tubuhnya, membalas senyum sapa Chris dan kembali berkutat dengan belasan labu ukur. Kadang Ika membolak-balikkan labu seperti sedang mengaduk. Itu ia lakukan hampir setiap saat.

Chris duduk di kursi kosong. Kantung plastik ia letakkan di atas meja. Selebihnya ia kembali memperhatikan sudut-sudut ruang laboratorium. Nafasnya mendesah berat melihat pemandangan yang tak cukup sedap baginya. Aroma lab juga terlalu dipaksa. Sesuatu yang pekat kemudian bertemu dengan wangi karbol.

“Ika, aku bawakan makan malam untukmu.”

Punggung itu akhirnya berputar penuh. Melirik kantong plastik putih di sisi siku Chris.

“Aku tahu, kamu kurang suka makan malam. Sebenarnya aku juga lapar, jadi kamu aku belikan sekalian. Lagi pula ini cuma chicken burger.” Betul. Ika bisa baca nama brand kedai makanan cepat saji di sablon plastik. Ika kembali dengan labu ukur mungilnya. “Kamu makan duluan saja, sebentar lagi aku selesai.” Hitungan menit Ika benar-benar selesai. Ia bertolak ke wastafel dan mencuci tangan.

Chris mendesah lagi. Sahabatnya berpenampilan sangat aneh. Jas lab putih sepanjang lutut bertemu dengan celana training abu-abu. Atasannya kaos tidur dan kakinya hanya beralas sendal jepit. Sama sekali bukan kostum manusia laboratorium sungguhan.

Chris membongkar isi kantong plastik hingga ujung telunjuknya bersinggungan dengan agenda Ika. Buku agenda yang cukup lama ia kenal. Setiap hari dibawa Ika. Isinya macam-macam. Segala yang terbesit dalam pikiran selalu dicatat oleh Ika. Chris mengambil dan membuka halaman per halaman. Mungkin karena Ika sedang dalam proses penelitian tugas akhir, isi agenda dipenuhi dengan kata-kata semangat. Chris tergelitik. Ika memperhatikan dari pantulan cermin wastafel. Ia hanya tersenyum simpul.

Hingga akhirnya Chris berhenti di satu halaman. Darahnya menghangat dan melepuh di ubun-ubun.

Braakkkk!!!!

Ika berjingkat. Cipratan air membasahi sebagian cermin dan jas labnya. Chris tidak lagi duduk. Nafasnya tak lagi tenang. Sepasang matanya berkilat. Di lantai tergeletak agenda dan lembaran foto buyar di sekelilingnya. Chris menyipit jijik dengan lembaran foto. Saat bertemu mata dengan Ika, tak dapat dipungkiri, Chris naik pitam (lagi). “Masih,Ka?” Terdengar lirih yang ingin meledak namun ditahan-tahan. Ika mengerti kekesalam Chris, ia bergeming. Air kran masih mengalir kecil. Satu-satunya pengisi hening setelah itu.

“Mau sampai kapan kamu begini?” Terdengar menantang. Bukan lagi pertanyaan. “Dia sendiri yang menutup hatinya untukmu, Ika. You’ve been kicked from his live!! You should go, Ika. Go away and leave him LIKE HE DID TO YOU!” Membara. Chris sudah terbakar. Dagunya mengeras. Wajahnya memerah. Ika tetap di tempatnya. Apapun yang ia katakan tidak akan berdampak apapun pada Chris. Akan tetap salah dimata Chris. Ika sudah perlah lakukan itu sebelumnya. Yang ada, Chris semakin mengamuk. Ika khawatir dengan peralatan kimia yang ada di sekeliling ruangan ini. Terlalu rapuh bila terhempas oleh sapuan lengan Chris.

Come on, Chris. Kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal ini lagi kan. Remember?” Ika mendekat pelan. Titik-titik air menetes dari ujung jemarinya. “But you still love him!” Telunjuk Chris membidik lembaran foto yang berhambur di lantai. Dengan mata berkilat, tentu saja. Ika menjatuhkan pandangannya pada lembaran foto berbagai warna. Di dalamnya ada wajah Ika. Wajah yang berbinar. Di pipinya ada rona bahagia di setiap senyum. Di sisi Ika selalu ada wajah seseorang yang amat Chris benci. Luar biasa benci Chris pada pria itu.

Chris bergulir menatap Ika. Sahabatnya mulai gemetar takut. Ada kontras menusuk mata antara wajah Ika di dalam foto dengan wajah Ika yang ia temui di balik jas lab. Wajah Ika penuh abu-abu kelam. Bisa Chris temukan sisa sembab di mata Ika. Sudah jelas, Ika menangis lagi hari ini. Sepasang mata almond yang harusnya berbinar indah kini bersembunyi di balik bingkai kacamata. Ini membuat Chris ingin meledak. Perih matanya melihat kondisi Ika yang tak kunjung membaik. Sudut bibir yang seharusnya menjadi tepi senyum bahagia kini banyak terkatup.

“Ika… Look at yourself. Kamu mahasiswa terbaik di prodi. Ingat berapa nilai IPK terakhirmu? Setiap tahun selalu mendapat penghargaan dengan IPK tertinggi. Penerima beasiswa bergengsi di tanah air. Calon cumlaude.” Chris merendahkan intonasi suaranya. Walau Ika tahu setelah ini Chris akan meledak lagi.

“Kamu pantas menerima yang jauh lebih baik DARI DIA, IKA!!” Booomm..  Chris menjadi puing-puing conveti berwarna kelam. “Chris, Stop!” Akhirnya darah Ika mulai menghangat. Terasa menjalar melewati pori-pori wajahnya. “Kamu selalu menyalahkan dia. Kamu tuli?! Selama ini aku yang salah, Christ!” Suara Ika meningkat setengah oktaf. Chris terperanjat. Sepasang mata almond favoritnya berkaca-kaca. “Dia berubah itu semua karena aku! Karena sifatku yang tidak bisa ia terima. Karena aku, Christ!!” Bahunya mulai bergunjang.

“Ika… Bukan berarti dia meninggalkan kamu begitu saja. Otomatis seperti robot. Apa susahnya menerima salah satu sifatmu yang…”

“Dia tidak, Chris. Dia bukan hanya tidak terima. Dia membenci sifat tempramental ini Chris!!!” Ika menjerit sambil tercekik. Air matanya tak tertahankan. Sembab di pelupuk matanya makin memperburuk keadaan. Bahunya bergunjang tak karuan.

Chris merengkuh lengan Ika. Lengan ini semakin kecil diameternya. Chris kembali teriris. “Ika, pleaseDon’t be idiot..”

Yes, I am, Chris.”

Ika sudah terisak tapi ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Pasti dia sudah menangis berulang kali. Tidak seperti pertama kali pertama Chris mendekap Ika yang meronta. Berkali-kali menhantamkan kepalanya ke dinding dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Itu pemandangannya yang membuatnya ngeri. Kini Ika hanya menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya. Tetap saja gadis ini menangis lagi.. lagi.. dan lagi..

Bermalam di laboratorium sepi semakin membuat Ika leluasa terisak. Chris sudah menduga.

Why’d you still love him?

This only thing that I can do, Chris

Hening… Isak Ika memudar pelan.

Because I can’t have him.”

You are idiot.”

Yes, I am, Chris.”

Category: Bilik Kecil
Tag: , ,

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 in addition to 3?