Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Sahabat Kecil

Baru saja berakhir hujan di sore ini.

Menyisakan keajaiban kilauan indahnya pelangi.

Aku masih melihatmu begini. Terus menulis tanpa henti. Kamu pernah cerita, bahwa kamu ingin menulis hingga tua nanti. Saat itu aku membatin. Aku akan tetap disini, melihatmu menulis. Ikut tersenyum saat kamu terbawa suasana dan resah saat kau tak kunjung temukan ending cerita yang tepat.

Tak pernah terlewatkan dan tetap mengaguminya.

Kesempatan seperti ini tak akan pernah bisa dibeli.

Aku akan selalu melihatmu. Menghirup udara lekat-lekat saat kau ingin bercerita tentang angin. Meraba tanaman rambat di taman kota saat kau ingin bercerita tentang daun mint. Membaca langit saat kau ingin bercerita tentang Kintan si gumpalan gulali. Dan aku tak pernah hengkang barang selangkah. Aku percaya, melihatmu mengukir kisah seperti ini adalah… tidak berulang.

Bersamamu ku habiskan waktu.

Senang bisa mengenal dirimu.

Rasanya semua begitu sempurna.

Sayang untuk mengakhirinya.

Aku satu-satunya yang mengkhawatirkanmu yang menulis tanpa henti. Apakah tanganmu terkilir? Apakah tengkukmu kebas? Apakah tulang punggungmu retak? Sudah makankah? Langit sudah berganti warna. Matahari bergulir dengan bulan purnama. Kamu tetap menulis bersama duniamu.

Bisa saja aku menghampiri sambil membawa sebaskom air hangat. Ku kompres tulang-tulangmu yang kebas. Atau memijit bahumu yang mungkin pegal. Membawakan senampan makan malam dan teh jahe agar tubuhmu hangat. Yang lebih ekstrim, aku berdecak kesal dan memintamu berhenti sejenak, minimal untuk melihatku sebentar.

Tidak.

Beginilah caraku menghabiskan waktu denganmu. Membiarkanmu berselancar ke berbagai dunia adalah kesempurnaan yang tak ingin ku akhiri. Kamupun juga tak ingin ini berakhir kan.

Melawan keterbatasan walau sedikit kemungkinan.

Tak akan menyerah untuk hadapi hingga sedih tak mau datang lagi.

Kamu satu-satunya yang tak bergulir bersama zaman. Saat seseorang berganti dengan key board dan layar komputer, kau tetap dengan pena dan kertas. Itulah kamu.

Pernah kamu khawatir tentang dunia yang bergulir terlalu cepat. Kamu berpikir demikian. Aku memberikanmu saran untuk ikut berlari bersama perubahan tapi kamu menangis tersedu. Kamu bilang, kakimu tak cukup kuat untuk berlari.

Aku hanya bisa mendekapmu agar kau merasa tidak sendiri. Agar kau berhenti menyendiri seperti ini. Agar kau mempercayakan aku seperti pena dan kertasmu. Agar kau tahu bahwa aku sedih melihatmu putus asa. Aku sakit melihatmu menyerah.

Bersamamu kuhabiskan waktu.

Senang bisa mengenal dirimu.

Rasanya semua begitu sempurna.

Sayang untuk mengakhirinya…. Janganlah berganti.

Kamu tetaplah kamu. Tak akan menjadi siapapun. Tak akan menjadi Maha Dewa. Bukan pula seorang pujangga yang tak habis katanya untuk memperdaya wanita. Kamu dan duniamu tak akan berubah.

Dan aku akan tetap disini. Tidak bergeser. Tidak berpindah. Apa lagi tergantikan.

Kamu tak tergantikan

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 9 + 9?