Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pergi #1

Rak buku setinggi dua meter tempatnya menyimpan buku-buku kesayangan tidak lagi penuh buku. Sejauh ini masih seperempat buku yang berhasil ia pilah sesuai dengan kategori hatinya. Ini hhmm tinggal saja. Oh yang ini harus dibawa. Buku yang tak lagi menarik ia masukkan ke dalam kardus. Ada label di permukaannya “Donor”. Buku yang ia kehendaki kehadirannya di rumah baru, dimasukkan ke dalam kardus lain.

Hatinya berkecamuk. Banyak rasa yang saling mengaduk jadi satu. Wajahnya tak banyak ekspresi. Sedaritadi hanya tangannya yang sigap memilah dan menimbang. Buku ini dibawa atau didonorkan. Duduk, berdiri, jongkok, bergantian. Kali ini lengannya meraup lebih banyak buku, kemudian ia bebaskan di atas lantai. Dengan begitu ia bisa duduk lebih lama sambil meluruskan lutut.

Kali ini tangannya menimbang lebih lama. Matanya menatap lebih lama. Hatinya meraba lebih dalam. Bingung. Pertimbangannya lebih dari didonorkan atau dibawa ke rumah baru. Rasanya banyak. Bagian hati terdalam meraba sebuah relief menggunung.

Prisa mengistirahatkan punggungnya. Bersandar di sisi lemari tinggi dua meter. Meraba pelan sampul buku terluar. Tidak sehalus dulu. Banyak lekukan di ujung kertas. Tebaran debu juga memberi kesan sudah cukup lama tak disentuh. Prisa merasanya relief menggunung di benaknya mengembang dan… mulai sesak. Telunjuknya menyimbak sampul yang tak lagi baru. Menemukan lembaran pertama yang mulai berubah warna. Abu-abu coklat. Meraba sebuah pesan ditulis pulpen tinta merah.

Untukmu, Prisa Prisila

“Bumi tak pernah berhenti berputar barang sedetikpun, matahari tak pernah terlambat terbit atau terbenam. Begitulah kita dan kehidupan. Tak ada yang lebih atau kurang, terlambat ataupun terlalu cepat. Semua sesuai dengan urutannya”

Matanya perih. Pilu tak terbendung lagi. Sebagian lolos meluncur dari pipi dan membasahi sudut lembar pertama. Prisa melepaskan buku pertamanya. Berganti dengan buku kedua dengan keadaan yang tak jauh berbeda. Menyibak sampulnya dan membaca lagi bait di lembar pertama. Masih dengan tinta pulpen merah.

Untukmu, Prisa Prisila

“Kebanyakan manusia mengira bahwa merekalah yang memiliki kehidupan. Padahal, manusia sendirilah yang sebenarnya dimiliki oleh kehidupan.

Buktinya, manusia tak pernah bisa berbuat apa-apa ketika kehidupan sudah menentukan”

Matanya kabur. Perihnya tak terkira. Seperti bertatapan dengan irisan bawang merah. Perih menusuk ke berbagai arah. Nafasnya tak lagi teratur. Namun Prisa masih bisa menguasai tubuhnya. Masih kuat menahan beban relief menggunung yang terus bertumbuh. Menyundul uluh hati.

Prisa semakin cepat menggapai buku ketiga. Menyibak sampul terluar buru-buru dan membaca lagi apa kata tinta merah di halaman pertama.

Untumu, Prisa Prisila

“Siang dan malam itu hanya sebuah sebutan yang dibuat-buat oleh manusia. Bintang, senja, cinta, dan bahagiapun sama.

Sejak awal aku tak pernah rela menamai apa yang aku rasakan saat ini hanya dengan sebutan cinta, atau sebuah deretan kata “Aku sayang kamu”, karena itu tak pernah cukup bagiku”

Semakin tak terbendung. Isaknya menggema seantero kamar ungu kelam tanpa pencahayaan utuh. Jendelanya terbuka. Tirai putih transparan kadang bermain-main dengan angin yang melintas. Bagi Prisa, lembutnya angin menyapa serupa ujung mata pisau yang mengiris-iris tengkuk.

Matanya tak lagi dapat melihat benar. Buram berperang perih. Prisa tidak peduli. Ia benamkan buku ketiga dalam pangkuan dan meraih buku keempat. Buku terakhir. Tubuhnya berguncang, juga telunjuknya. Menyimbak sampul terluar jadi terbata-bata. Dan tinta merah masih menyapa dari halaman pertama.

Untukmu, Prisa Prisila

“Tuhan bilang kita itu makhluk yang paling sempurna. Sempurna bagiku berarti utuh dan tak membutuhkan apapun. Tapi mengapa aku merasa ketakutan ketika tahu engkau akan pergi?”

Rubuh. Tubuhnya tak kuat. Guncangan isaknya terlalu kuat. Bahunya runtuh bertemu lantai. Wajahnya ia benamkan dalam-dalam. Puncak relief yang menggunung sudah merusak sistem keseimbangan. Prisa tak sanggup berdiri benar atau sekedar meluruskan punggung. Dayanya terkuras dengan tangis menderu-deru.

Thomas berderap dari lantai bawah. Menemukan calon adik tirinya sudah terjerembab rata dengan tanah. Isaknya meledak tak terkira. Tumpukan buku-buku berhambur disekelilingnya. Firasatnya benar. Prisa sedang perang batin selama ini. Dari luar Prisa berusaha kukuh terlihat baik-baik saja. Walau baru beberapa minggu ia mengenal Prisa sejak pertemuan makan malam. Pertemuan calon keluarga baru. Prisa tak banyak bicara. Hanya banyak senyum, itupun hambar. Mom bersama Dad barunya (ayah Prisa) sudah lebih dulu meninggalkan Indonesia. Tinggal Prisa dengan urusannya dan Thomas menemani perjalanan Prisa dari Indonesia ke Perth.

Langkahnya serba salah. Thomas memilih diam di ambang pintu. Duduk melantai, menanti Prisa hingga kembali pulih dan meneruskan urusannya. Memilah buku. Didonorkan atau dibawa. Dibawa atau ditinggalkan. Dipelihara atau dilepaskan

bersambung

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is a typical spring leaf?