Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pergi #2

Ia ingin membunuh sepi. Sepatah-dua patah ia ucap agar mendapat sambutan hangat. Alih-alih didengar, kadang Prisa harus mengulangnya dua kali barulah sambutannya berbalas. Tapi balasannya dingin. Prisa sudah membeku di tempat sejak awal. Edgar bisa dibilang mengabaikannya. Perhatiannya hanya pada layar ponsel lalu berganti dengan segelas jus strawberry kesukaannya kemudian berpaling lagi pada ponsel.

“Belakangan ini kamu sibuk ya?”

“Iya. Banyak urusan yang harus diselesaikan. Sudah masuk weekend tapi aku terus diganggu urusan kantor.”

“Ohh…”

Membeku lagi.

Kosong menyerang mereka. Prisa tak lepas memandang Edgar. Memutar waktu disaat-saat semuanya terasa hangat. Saling menemukan dan tak ingin menjauh satu sama lain. Selalu rindu saat akan berpisah dan berjingkat senang saat Edgar merelakan waktu untuknya. Tangan Edgar bebas. Ponsel ia biarkan terogok di tepi meja. Membicarakan banyak hal. Terlebih lagi Edgar selalu berbinar setiap kali berkelakar tentang masa depan dan Kota Jakarta.

“Kalau ditanya apa cita-citaku, maka jawabanku, aku tidak punya cita-cita.” Senyum antusias menghiasi wajah Edgar. Prisa tertegun dihadapannya sambil mengunyah surabi cokelat. “Aku tidak pernah ingin jadi apa-apa. Yang penting aku bisa jadi orang yang berguna untuk lingkunganku. Itu jauh lebih baik ketimbang jadi profesor tapi tak punya waktu berkelakar dengan tetangga, atau jadi pengusaha sibuk tapi acuh dengan kelas bawah.” Lengkap Edgar. Saat itu Prisa enggan berkedip. Tak ingin melewatkan binar Edgar yang meletup dan menyala indah.

Cepat-cepat Prisa kunyah surabi di mulutnya. Menanggapi idealisme Edgar. Prisa setuju. Betapa ia sangat setuju dan mengagumi pilihan hidup Edgar.

“Bagaimana dengan Jakarta? Kamu betah kerja disana?”

Edgar hampir tersedak saat menyesap jus strawberry. Membenarkan kerongkongan dan menjawab keraguan Prisa tentang Jakarta.

“Aku suka Jakarta. Jakarta itu hidup. Aku belum pernah bertemu kota sehidup ini sebelumnya. Memang kriminalitas dimana-mana. Tapi entahlah, aku selalu rindu dan selalu ingin kembali setiap kali pulang ke Bogor.”

Prisa kembali terpesona. Sangkanya patah. Selama ini ia mendengar Jakarta seperti kota menakutkan dengan segala penat terhidang di berbagai sudut. Edgar justru menikmatinya. Bahkan rindu setiap kali pulang ke rumah.

Diam-diam Prisa membatin. Kelak setelah selesai urusan skripsi, ia ingin ke Jakarta. Bekerja di sana. Menikmati Jakarta bersama Edgar. Seketika Bandung tak lagi terasa menyenangkan.

Hitungan detik semuanya kembali ke waktu semula. Dengan Edgar yang kini membagi perhatiannya dengan sebuah buku jurnal. Menggambar sketsa yang tak Prisa pahami. Tangan kanan menggenggam pulpen tinta merah dan tangan kirinya ponsel.

Benaknya mendesah kuat. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Surabi cokelat tak lagi menyenangkan seperti biasa. Cuma dikoyak sana-sini tapi tak kunjung ia suap masuk ke dalam mulut. Perutnya mual. Uluh hatinya juga sesak. Teh leci lama ia biarkan. Mungkin rasanya tak lagi manis. Hambar dengan es batu yang mencair.

“Prisa. Maaf aku tidak bisa lama-lama. Aku sudah ditunggu. Aku harus pergi.”

Sejurus kemudian Edgar berkemas. Merapihkan ponsel dan buku jurnal ke dalam ransel. Prisa, tentu saja ia terkesiap. Ribuan tanya memadati kepalanya, namun tak satupun terbit jadi seutas kalimat tanya. Rasanya seperti tak diberi kesempatan.

Perjalanan pulang juga sama. Sunyi. Prisa sudah jadi mayat hidup dan beku.

Sesampai di teras, Edgar kembali meminta maaf karena waktunya yang terbatas dan ia harus pergi. Prisa hanya mengangguk pelan dengan wajah yang (pura-pura) riang. Edgar mengembangkan senyumnya. Meraih Prisa dan mengecup dahinya. Dalam sepersekian detik Prisa memejamkan mata. Menyesap setiap kenangan yang masih bisa ia serap masuk ke pori-pori.

Senyum terus membayangi Prisa walau sedan hitam Edgar sudah hilang ditelan jalan raya. Bergegas masuk rumah, Thomas sudah di ambang pintu ruang tamu.

Have you said goodbye to him?

Tatapnya tajam menginterogasi. Prisa menghampiri, mendapati Thomas masih dengan wajah gelisahnya. ” Yess, I have, Thom.” Thomas kenal senyum ini. Senyum yang memenuhi wajah Prisa saat makan malam waktu itu. Bahkan semakin parah. Senyum Prisa hambar bercampur… pahit.

I know you’re lying, Prisa.

Thomas mematikan langkah Prisa. Berhenti di tengah-tengah anak tangga.

“Prisa, aku tidak tahu apa-apa tentang pria itu. Melihatmu seperti ini, aku berani bersumpah akan mehajar rahangnya sampai remuk!”

Kedua tangan Thoma mengepal dari sisi tubuhnya. Benar kata Mom (ibu Thomas), Thomas sangat senang saat mengenal Prisa. Sudah lama Thomas menginginkan adik perempuan yang dapat ia lingdungi, mengingat Mom Stephania wanita tangguh tahan banting.

“Thomas. Aku baik-baik saja. Trust me. Biarkan aku selesaikan urusan ini sendiri.” Prisa menggenggam salah satu kepalan tangan Thomas. Mendongak agar Thomas dapat menyimak pernyataan yang… amat jujur.

“Tapi kamu tetap membawa buku-buku itu. Lupakan dia, Prisa. Ikut aku ke Perth”

I’m going to go with you, Thom.”

Thomas menunggu.

“Aku membawa buku itu bersamaku, karena aku ingin berdamai dengan Edgar. Dengan begitu aku bisa tinggalkan Bandung dengan tenang. Menyambut Perth. Menyambutmu dan Stephania.”

Thomas berhambur. Merengkuh Prisa hati-hati. Calon adik tirinya sangatlah kecil dan ringkih. Jomplang dengan tubuhnya yang menjulang 180 cm. Melihat Prisa terisak sambil terjerembab meninggalkan catatan kecil pada Thomas.

Bahwa Prisa tak setangguh Stephania.

“Aku sudah siapkan mantelmu. Satu jam lagi kita berangkat ke Jakarta dan — aku mohon– tersenyumlah kepada Mom dan Dad saat kita tiba di Perth.” Prisa mengangguk pelan dalam Thomas. Hatinya sedikit lega. Minimal adik tirinya tidak akan pernah lagi menginjak Indonesia.

bersambung

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 5 + 3?