Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pergi #3

Dia tidak berhenti diam. Thomas melirik. Memastikan Prisa masih disana. Memang masih disana, tubuhnya, Thomas bisa pastikan ruhnya tertinggal jauh di belakang. Memanggil namanya, hanya akan membuat tubuh tanpa ruh ini ambruk. Hingga akhirnya sebulir air mata terbit. Tangan Prisa menyeka lemas. Thomas bergerak cepat, menyodorkan sebungkus tissue utuh. Masih tersegel. Tissue di tangan Prisa sudah lama kumal. Dari tadi hanya digenggam bercampur keringan dingin. Prisa menyambut tanpa menatap Thomas. Mengeluarkan selembar dan ia sapukan ke wajah.

I won’t be like this forever, Thom.

Kalimat pertama selama perjalanan darat Bandung – Bandara Soekarno Hatta dan perjalanan udara Jakarta – Perth. Prisa kini meraba-raba halusnya tissue baru. Tidak menatap Thomas. Tidak juga tissue di tangan. Prisa melihat kedalam gundukan di dalam hati dan bayang-bayang Edgar di penghujung jalan.

I will be okay.

I’m sorry, but I doubt about it, Prisa.”

Prisa kembali menyeka wajahnya. Bergulir menatap Thomas. Kakak tirinya memang terlihat resah. Benar bahwa ia meragukan Prisa.

Thomas, listen. Ada kalanya aku sedang mengenang Edgar. Menemukan setiap keping ingatan yang pernah kami lalui bersama. Kenapa? Karena Edgar dan hidupku sudah menjadi sebuah kesatuan. Bukan ikatan yang mengikat kemudian simpulnya bisa dilepas. Hatiku masih ingin – bahkan harus – berdamai dengan Edgar. ”

Thomas menyimak. Ia tahu Prisa belum benar-benar selesai.

“Bila semuanya sudah berdamai, muatan di hatiku akan kembali netral. Saat itulah aku akan pergi… Bersamamu, Stephiana dan Dad.”

Prisa menemukan Thomas melengkungkan senyum simpulnya dalam bibir terkatup. Prisa menghela lega, You’ve trusted me, Thomas. Thank you.

You know what, Prisa. Saat pertama kali bertemu denganmu. Aku pikir kamu rapuh. Maaf Prisa, waktu itu senyummu hambar. Kamu berusaha keras terlihat manis di depan semua orang. Aku pernah melihatmu menangis di kamar… I’m sorry, aku tidak berniat lancang. Suara tangismu bergema sampai ruang tengah.”

Thomas salah tingkah, namun Prisa nampak tidak keberatan. Senyum jujurnya masih melengkung disana. Thomas menghela nafas dan kembali melanjutkan pengakuannya.

“Aku tahu kamu tidak benar-benar berpamitan dengan Edgar. Pasti dia tidak tahu tentang kepergianmu ini. Correct me if I wrong.”

Prisa bergeming. Tetap menatap Thomas dengan senyum jujurnya. Okay, dugaanku benar tentang Edgar.

“Aku melihatmu seperti perempuan yang sedang menyiksa dirinya sendiri. Kamu memendam sedihmu sendiri. Menangis sendiri. Bengong sendiri,”

Kali ini wajah Prisa mencair. Terbit tawa kecil dari sana. Dari Prisa.

I’m totally wrong. You are a giant girl. Entah apa yang pernah Edga lakukan padamu hingga kamu menjadi terpuruk seperti ini, tapi kamu memilih untuk tidak membencinya. Kamu berusaha menerima Edgar menjadi bagian dari hidupmu. It’s a big WOW, Prisa.”

Thomas membulatkan bibirnya lebar-lebar saat melafalkan a big WOW. Sepasang mata Prisa menyipit karena tak henti terkekeh. Prisa sadar, sejak awal mereka bertemu, ia tak luput dari perhatian Thomas. Setiap langkah, Thomas selalu mengamati. Prisa tak terlalu terkejut dengan pengakuan Thomas.

Tidak terkejut, tapi Prisa terhibur. Ayahnya bertemu dengan Stephiana dengan anak hebatnya, Thomas. Prisa patut mensyukuri anugerah ini.

“Seandainya aku lebih dulu bertemu denganmu ketimbang Dad bertemu dengan Mom. Aku akan mengencanimu. Yeah, I’m serious.

“Ide yang bagus, Thom. Sesampai di Pert, kita harus berkencang dan kamu harus mengajakku berkunjung ke tempat-tempat yang menakjubkan. Oh kalau perlu, kita sekalian piknik bersama Mom dan Dad.

Thomas terkesiap. Prisa memanggil Mom kepada Stephiana? Ia tak melihat raut aneh di wajah Prisa. Perempuan ini benar-benar memanggil Stephiana dengan panggilan Mom.

“Keliling Pert di musim dingin? Siapa takut. Let’s go!

Thomas bersyukur. Ibunya bertemu dengan pria tangguh dengan anak hebatnya, Prisa.

Perjalanan kali ini tidak akan sepi seperti kuburan. Prisa kembali diam namun bukan dengan air mata pilunya. Ia dapat merasakan mungilnya sepasang lengan Prisa yang memeluk lengan raksasanya.

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is fresh snow?