Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pergi #5

Ini tentang Jakarta. Prisa tak ingin melewatkan apapun. Setiap jengkalnya adalah jejak. Edgar. Ya, Edgar. Cintanya berujung jurang. Edgar disisi seberang. Prisa tertinggal di tebing lain. Dua tahun di Perth sesungguhnya tak mengubah apapun. Rasanya hanya jauh tapi tidak jadi lebih baik.

Mungkin dengan lebih dekat, Prisa dapat menemukan apa yang selama ini ia butuhkan. Mungkin. Itu sebabnya Ia tak banyak berpikir soal tawaran kerja.

Hari-hari di kantor menyita banyak perhatian. Menghafal nama-nama atasan. Memahami alur birokrasi sambil bertegur sapa dengan teman tetangga kubikal. Membuatnya harus lebih banyak tersenyum. Sama sekali bukan spesialisasi Prisa. Bahkan Thomas bilang senyumnya hambar. Prisa mengakuinya.

Hingga suatu hari Prisa menemukan sebuah bingkai Jakarta. Jendela raksasa di Environment Division. Prisa berada di Safety Division. Baru ia temui pemandangan ini saat rapat pagi bersama seluruh HSE Department. Prisa punya jadwal baru. Setiap hari ia sengaja datang lebih awal dan pulang paling akhir. Berdiri sekian menit untuk merekam jejak Jakarta. Jejak Edgar.

Jakarta itu penuh dengan gedung-gedung bertingkat. Magnet alamiah bagi Edgar. Dilihat dari ketinggian manapun, Jakarta memukau dengan bangunan pencakar langit. Edgar tak segan-segan berlari kesana-kemari demi mendapatkan sebuah gambar kokoh dari permukaan tanah. Protofolionya penuh dengan gedung dan itu semua ada di Jakarta. Dan Prisa berada di salah satu gedungnya. Sejajar dengan ketinggian gedung di dalam bingkai raksasa.

Jakarta itu hidup. Banyak nyawa yang mengisi hingga wujudnya penuh warna. Banyak rona, termasuk sapuan kuas Edgar disana. Mata Edgar berbinar bila bercerita tentang fenomena unjuk rasa di bundaran HI atau tulisan-tulisan protes di berbagai dinding. Setiap aksi akan menimbulkan reaksi. Jakarta tak butuh waktu lama untuk bereaksi. Itu makna hidup dimata Edgar. Dan Prisa masih sangat hafal sudut bibir Edgar yang mengembang penuh semangat saat itu.

Ketika malam datang, Jakarta punya galaksinya sendiri. Milky Way in the city. Prisa masih ingat dengan cerita Edgar yang sengaja menunggu senja di roof top kantornya. Ada perpaduan sempurna antara angin laut Jakarta yang berhembus kasar, langit senja, Jakarta redup, Jakarta magrib, dan galaksi Jakarta. Semua adalah kompilasi pemandangan yang cukup sering Edgar nantikan dikala deadline mulai terasa pahit. Pasalnya deadline akan selalu pahit. Dan Edgar akan selalu lelah karenanya.

Lebih jauh dirinya berputar. Suara-suara Edgar menggema. Saat bicara tentang langit Jakarta yang mirip dengan danau UI. Keruh biru kehijauan. Saat bercerita tentang suasana kota yang belum tentu ia dapatkan di Bandung dan Bogor. Membuatnya ingin selalu datang lagi ke Jakarta. Semuanya. Semua suara Edgar bercerita tentang Jakarta. Prisa menyimak tanpa mencelah.

Dan ini membuat hatinya hangat. Rasanya indah. Sangat menyenangkan.

Dulu wajah Prisa selalu berhias mata sembab dan lingkar hitam seperti panda. Ya, Thomas sangat membencinya saat itu. Kasihan sambil gemas. Thomas pernah mengancam akan membakar buku-buku novel pemberian Edgar bila Prisa terus menangis sembunyi-sembunyi.

Kini berbeda. Ada yang berubah. Ada yang lain. Masih tentang Edgar. Masih tentang rasa rindu yang sudah tak pantas disebut rindu. Jurang di hadapannya sirna. Edgar di depan mata. Cukup dekat. Sangat dekat.

Seperti beras ketan yang difermentasi oleh ragi dalam kurung waktu tertentu. Rasa hambar diawal berubah manis setelah prosesnya berakhir.

Edgar terasa manis dan menenangkan. Edgar terasa damai dan menyenangkan. Edgar terasa patut untuk dilepaskan. Kamu akan tetap luar biasa walau tanpa aku. Walau tanpa Jakarta. Walau tanpa langit hijau biru.

Bersambung

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is the sky on a sunny day?