Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pergi #6

Pagi-pagi sekali. Sebelum Jakarta bangun dan macet di beberapa titik, William sudah di jalan menuju kantor. Kemarin terlalu bersemangat pulang cepat, Willy meninggalkan ponselnya. Itu masih dugaan sementara, karena ponsel tidak ia temukan di dalam tas atau mobil. Pasti tertinggal di meja kubikal.

Kantor masih sangat sepi. Terlihat beberapa office boy sedang mengepel lantai dan membersihkan kaca gedung. Para security yang berbincang ringan sambil menegak segelas kopi harus terkejut sebentar dengan kedatangan William. Ia sempat menyimak sekilas pembicaraan security saat melintasi metal detector. Langkahnya menyerbu lift dan berdetak-detak di lantai lift. Sedikit gelisah.

Ting! Lantai 6.

William berderap ringan menuju kubikalnya. Aahh ini dia! Ponsel hitamnya duduk manis diatas meja. Lega bukan kepalang. William menghempaskan tubuhnya di kursi. Terapi nafas sambil memeriksa notifikasi di dalam ponsel. Scroll up – scroll down… Tidak ada yang notifikasi emergency. Ponsel ia simpan di dalam tas. Melirik jarum jam tangan dan jam kecil di atas meja. Sial! Gara-gara ponsel aku datang sepagi ini?! Kesal.

William berdiri dari kursinya. Ingin membuat secangkir kopi. Masih ada sisa kantuk semalam yang sebentar lagi akan datang menyerang. Tapi William berhenti di jalan. Sesuatu menahannya sebentar. Awalnya sebentar. Seterusnya, Willam tak menghitung berapa lama ia tertanam disana.

Ada sebuah siluet dari jendela besar di Environment Division. Dia berdiri menghadap ke luar jendela. Hampir-hampir diam seperti patung. Willy dapat menemukan detail bahu dan dadanya bergerak-gerak kecil. Thank God, dia bukan patung.

Kini William mengerti tentang rumour kecil yang tadi dibahas oleh para security. Ada pegawai baru dari Safety Division yang selalu datang lebih awal dan pulang paling akhir. Tidak banyak yang ia lakukan. Hanya berdiri di jendela besar. Biasanya ia akan mengakhiri ritualnya mendekati pukul 8 pagi. Waktu produktif kantor dimulai. Willy terusik diam-diam. Sederhana, karena pagawai baru itu adalah seorang wanita.

Hari-hari berikutnya Willy memastikan sendiri rumour yang berkembang dikalangan office boy dan security. Semuanya benar. Datang pagi, melamun di depan jendela, bekerja seperti biasa, dan melamun lagi di jendela sembari menanti senja usai. Dan William lama mengamati dari persembunyiannya, kubikal. Sesuatu menahannya diam-diam.

Bahwa wanita ini selalu tersenyum setiap kali memandang ke luar jendela. Senyum yang selalu sama. Bukan senyum dengan lengkung bibir sempurna atau tertawa-tawa ringan seperti menonton lenong. William melihatnya seperti senyum yang tak ia sadari. Disela-sela waktu kerja, Willy sengaja melintasi jendela raksasa ini. Yang ia temukan hanya pemandangan Jakarta berhias gedung-gedung tinggi dan cakrawala pembelah antara langit dan bumi. Itu saja, tapi wanita itu tersenyum begitu tulusnya.

William menamainya… Senyum Jakarta. Dan kelak ia ingin menyapanya. Bagaimana caranya? Menyapa wanita yang kemungkinan besar akan membuatnya mati gaya?

Itu adalah PR baru untuk William.

bersambung

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 9 + 8?