Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pergi #7

Hari-hari di kantor bergulir dengan semestinya. Sebulan dua kali rapat umum bersama HSE Department. Lebih sering melintasi jendela-jendela besar berisi wajah Jakarta dari berbagai tingkat lantai. Kemana matanya tertuju, disitulah Jakarta berada. Namun untuk seminggu kedepan ia harus melakukan inspeksi Behavior Based Safety Program di salah satu site milik mitra perusahaan. Delta Mahakam di pesisir Kutai Kartanegara. Meninggalkan Jakarta sebentar.

Sebagaimana setiap pagi Prisa berdiri menatap ke luar jendela raksasa milik Environment Division. Jangankan seminggu, rasanya ia sanggup meninggalkan Jakarta untuk sebulan. Pagi ini sekaligus Prisa ingin pamit.

Tidak sama dengan pagi-pagi sebelumnya. Dimana ia cukup jadi bahan perbincangan seperempat pegawai kantor tentang ritualnya. Prisa juga menyimaknya saat tak sengaja berlalu di depan pintu lift yang masih terbuka. Sisa pembicaraan menyeruak keluar dan buru-buru berhenti saat menemukan Prisa di sekitar koridor. Tentu ia cukup terganggu dengan keadaan ini.

Tadi pagi, Prisa pastikan tidak ada satu orangpun di ruangan ini. Prisa jadi sangat awas dengan para pasang mata yang menghujamnya diam-diam. Bisa jadi ini adalah ritual tersingkatnya pagi ini. Toh selama seminggu kedepan ia akan menghilang sementara.

Baru akan berbincang tentang pamitnya, Prisa menghidu aroma kopi. Sejurus kemudian sebuah lengan dengan secangkir kardus kopi ikut menyapa pagi ini. Lengan ini datang dari seorang pria dengan senyum ramah diwajahnya. Tangannya yang lain juga memegang cangkir yang sama. Dan dalam diam mereka saling menyesap kopi.

“Dilihat dari sini, Jakarta keren juga.” Tukasnya ringan sambil membenarkan letak kacamata. Bingkainya cokelat transparan. Bias matahari sebagian memantul di sana. Diam-diam Prisa bernegoisasi tentang… sebuah keringanan. Bila dibagi, pasti rasanya akan lebih ringan. Begitu pikir Prisa.

“Bagi sebagian orang, Jakarta itu kota hidup…”

Prisa memulai. Pria itu bergulir. Menatap Prisa. Membelakangi Jakarta.

“Jakarta mengandung banyak nyawa sehingga tidak butuh waktu yang lama untuk bergerak. Gedung seperti tumbuh keatas. Pemukiman seperti menjamur dan meluas…” Prisa berhenti sebentar. Menyesap kopinya sedikit. Ia tak suka kopi, namun imbuhan krim cukup menolong lidahnya dari kebas karena pahit.

“Sampai seorang teman mengidolakan Jakarta. Merindukannya saat beristirahat di rumah. Sedangkan kebanyakan orang ingin cepat-cepat cuti dan melarikan diri dari Jakarta.” Pria itu hanya tersenyum simpul.

“Jakarta itu antara ingin dan butuh. Tidak ingin tapi butuh. Tidak butuh tapi ingin… Tetap saja, siapa suruh datang ke Jakarta.” Pria ini terkekeh sendiri. Menghujat sambil berkelakar tentang Jakarta.

Benar saja. Nafas Prisa lebih ringan. Lebih hangat dengan bibirnya yang mengembang walau masih terkatup kaku.

“Jadi selama ini kamu sedang merindukan seorang teman lama?”

Pertanyaan itu.. lagi? Sepintas mengingatkan Prisa saat berdebat singkat dengan Thomas malam itu. Beberapa minggu setelah makan malam canggung.

“Uumm… Ya. Bisa dibilang begitu.” Jawab Prisa lirih. Menyesap kopinya lagi dan lagi walau tidak haus atau ngantuk. Menyembunyikan kecanggungannya.

“Dia di Jakarta? Lama tidak bertemu?” Tanyanya lebih jauh. Sebenarnya ia ingin sedikit lebih akrab, itu saja. Prisa mengerti, pasti selama ini banyak bertanya tentang ritual pagi dan sorenya di jendela ini.

“Dia pasti akan selalu baik-baik saja.”

I see…

Hening kembali melanda. Kopi di gelas pria ini sudah lebih dulu habis. Dia membutuhkan lebih banyak kopi ketimbang Prisa.

“Jika Jakarta memang hidup dan beraktifitas… Menurutmu, apa yang sedang Jakarta dilakukan sekarang?” Wajahnya masih ramah. Senyum sapanya kembali mengembang hingga pipi gempilnya bertemu dengan bingkai kacamata. Prisa menanggapinya sebagai sebuah kelakar baru. Prisa nampak berpikir.

“Hhmm… Jakarta… Oh, Jakarta baru bangun tidur.”

Tiga detik kemudian tawa ringan pecah diantara mereka. Tentu saja pria ini yang lebih dulu tertawa kemudian Prisa menyusul. “Wooww… Pasti banyak iler di wajahnya.” Tawa semakin pecah. Pria ini memeragakan gerakan tangan orang yang baru bangun tidur lalu mendapati wajahnya penuh iler dan menyekanya asal dengan lengan baju. “Jakarta pakai piyama warna kuning.” Prisa menimpali spontan. Renyah sudah Jakarta khusus di pagi ini.

Di akhir ritual, pria ini memperkenalkan namanya. William Havcnah dari Environmental Division. Prisa coba-coba menduga, bahwa sebelum hari ini, William sudah mengetahui Prisa dan ritualnya.

Tapi apa-apa, tidak masalah, karena pagi-pagi berikutnya William kerap menemaninya berkelakar tentang Jakarta. Atau tentang Delta Mahakam sejak kepulangan Prisa dari sana. Disaat yang sama, Prisa katakan cukup kepada Edgar.

Aku sudah berdamai denganmu, Edgar. Sekarang biarkan aku pergi. Seperti halnya kamu pergi meninggalkanku lebih dulu… Apakah kamu juga mengenangku seperti aku mengenangmu? Semoga kamu juga akan berdamai denganku dan pergi menyambut masa depanmu yang baru.

Dari jendela pesawat Prisa memandang ubun-ubun Jakarta.

Kamu akan baik-baik saja walau tanpa aku, Edgar.

bersambung

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 2 + 7?