Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pergi #8

Namanya Prisa Prisila dari Safety Division. Senyum Jakarta ternyata tentang seorang teman lama. Jakarta dari balik jendela raksasa adalah sebongkah kerinduan. Prisa punya alasan sendiri untuk tidak menemui sang sumber rindu. Namun William selalu yakin, Prisa mengimbuhkan doa untuk rindunya.

Pagi itu adalah pagi terbaik William. Menyapa Prisa dengan segelas kopi. Awalnya ia sempat ragu. Tak semua orang suka kopi. Jadi Willy tambahkan cukup banyak krim. Hingga ia ketahui Prisa lebih memilih pahitnya black chocolate ketimbang kopi. Tapi Prisa tetap menyesap kopinya walau hanya setengah.

Pagi yang pantas ditunggu. Setelah itu Prisa tak tampak di kantor, ternyata ia sedang inspeksi ke luar kota. Dengung kantor tentang Prisa mereda termakan waktu. Dalam hela nafas, diam-diam Willy mensyukurinya.

William masih melihat Prisa di depan jendela kantornya. Tapi tidak sering. Tidak setiap hari lagi. Saat bertemu di rapat umum HSE Department, Willy hanya dapati Prisa melirik jendela ruang rapat. Senyum sebentar pada Jakarta. Sebentar saja. Setelah itu Prisa kembali pada agenda rapat. Mungkin banyak yang sedang ia kerjakan. Hanya kemungkinan Willy.

Pip! Pip!

Notification chat di pojok kanan bawah PC Willy berkedip. Dari Prisa.

Hello, William.”

“Hai, Prisa.”

Wanna see the other face of Jakarta?

William terdiam. Entah apa yang ada di benak Prisa saat ini. Willy memainkan jemarinya. Mengetik singkat.

How?

***

Pukul 5 sore. William berjingkat dari kubikalnya. Menghampiri coffee maker dan bertolak dengan dua gelas kardus di tangan. Masuk ke dalam lift. Menekan angkat paling besar. Membawanya meluncur ke lantai paling atas. Setengah berlari Willy mencari emergency door. Benar saja, ini di lantai paling atas, tapi khusus emergency door masih ada satu tangga ke lantai atas.

Willy menyusuri tangga. Satu tarikan daun pintu, angin kasar menghantam wajahnya. Kacamata Willy cukup tangguh. Bisa diandalkan untuk tidak ikut berjingkat dengan angin roof top. 

Tak sulit menemukan Prisa. Ia ada di salah satu ruas pagar. Dari sisa matahari sore, Willy baru tahu warna rambut Prisa tak sepenuhnya hitam, medium brown. Detail yang baru Willy temukan. Kali ini Prisa juga dibalut cream cable sweater. Ya, angin roof top agak tidak manusiawi untuk makhluk sekecil Prisa.

“Gedung memiliki 18 lantai, Prisa. Khusus di lift. Untuk emergency door, ada 19 lantai.” Prisa menyambut gelasnya sambil tertawa kecil. Pasti Prisa sedang menertawakan rambutnya yang tak berbentuk karena angin. William mengira sweater ini sedikit kebesaran untuk Prisa. Ternyata tidak. Lengannya pas di pergelangan Prisa. “Hhmm… Hot Chocolate. Thank you, Willy.”

Disinilah letah perbedaannya. Prisa akan langsung menyesap hot chocolate seperti menegak air putih. Pemandangan yang membuat Willy sumringah sendiri. Benar-benar salah kalau aku bawakan kopi seperti waktu itu.

Kemudian hening. Menikmati Jakarta dari ketinggian gedung 19 lantai. Tak ada yang berbeda. Tetap penuh dengan gedung dan jalan raya penuh dengan mobil.

How about the other face of Jakarta?

Prisa tak menjawab. Saat Willy bergulir, baru ia sadar sebuah mirrorless camera bergantung di leher Prisa. Ia sedang mencari sesuatu dari dalam kamera. Setelah ia temukan, tali kamera ia lepaskan dari leher dan menyerahkan kamera pada Willy. Dari screen kamera ada cerah ceria Jakarta dengan langit biru. Gambar berikutnya adalah Jakarta yang lebih kalem. Berikutnya lagi ada Jakarta yang mulai meredup. Langit biru tua bercorak jingga. Belum terlalu gelap tapi sebagian lampu Jakarta sudah menyala. Terakhir adalah city light of Jakarta.

“Dan semua ini diambil dari titik yang sama?” Tanya Willy setelah selesai. Prisa hanya mengangguk pelan. “Jakarta keren juga.” Gumamnya lagi. Gumam yang familiar. Willy cukup terkesima dengan hasil jepretan Prisa. Terus-menerus menekan tombol next hingga hening datang lagi.

“Willy…” Kini Prisa yang memecahkan hening.

Yes…

Do you have a dream?

Willy mendongak dari layar kamera. Mendapati Prisa sudah menunggunya. Sejenak Willy berpikir sambil bergantian menatap Jakarta dan Prisa. Sambil sedikit berdalih. Prisa dengan sebagian rambut yang ia sangkutkan di belakang telinga sedangkan anak rambut yang lain masih terus menari-nari karena angin. Willy menyukainya.

“Hhhmm… Kalau aku anak SD, pasti aku sudah jawab dokter atau astronot.”

Prisa tersenyum simpul. Setuju dengan Willy, tapi Prisa masih menunggu.

I wanna be a happy man.” Sesederhana itu dan Prisa terkesiap. Matanya membulat dan bibirnya setengah menganga.

Why?

Because happiness is always good to be shared, Prisa.”

Why be happy?

I think happy is a must.

Why must be happy, William?

Don’t you think that happiness is human needs?

Tak ada apapun di wajah Prisa. Datar. Willy kembali memutar kalimatnya. Apakah aku salah bicara?

Sejurus kemudian Prisa hanya diam. Ia menghadap Jakarta. Willy di sampingnya berusaha menangkap emosi Prisa. Gagal. Tak tergambar apapun di sana. Bulir air mata mengalir satu persatu tanpa isak. Prisa cepat-cepat menghapusnya. Willy tidak tahu harus berbuat apa. Ia menjawab jujur, itu saja.

“Willy…”

“Ya?”

Don’t forget to be happy.

Willy berani bersumpah. Ia melihat semuanya. Bibir yang semula seperti garis lurus kemudian terbit senyum tipis yang sangat mudah pudar. Tapi tidak berhenti di sana. Hingga sudut bibirnya benar-benar melengkung. Mata yang semula membulat kini setengah menghilang tertimpa pipi yang juga ikut merekah. Willy menghela nafas sesaknya. Ikut bahagia dengan apa yang sedang ia lihat. Wajah itu terus merekah hingga Prisa akhirnya tertawa walau pelan.

Thank you for reminding me, Prisa.”

Prisa masih tetap dengan wajah bahagianya. Willy menamainya… Senyum Prisa. Senyum yang akan selalu Willy kenang sebagai bagian dari kebahagiaannya. Bahagia yang akan selalu baik untuk dibagi. Dan Prisa mengizinkan Willy membagi bahagia dengannya.

“Willy…”

“Ya?”

Look!

Telunjuk Prisa tertuju pada Jakarta berbalut biru, hijau, jingga dan senja. Satu persatu lampu Jakarta menyala bak berlian yang datang kepagian. Dan titik tempat William berdiri adalah titik yang sama dengan gambar di kamera Prisa.

“Willy…”

What else,Prisa.”

Belum apa-apa mereka sudah tergelak lagi. Mengingat hari ini Prisa cukup sering memanggil nama Willy.

Thank you so much, Willy”

Your welcome.

bersambung

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 7 * 8?