Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pergi #finalpart

Kamar Prisa selalu kosong sejak ia memutuskan untuk bekerja di Jakarta. Selama itu pula Thomas selalu menganggap keputusan Prisa hanyalah sementara. Semula begitu. Setelah mendapati kamar Prisa yang akan selalu kosong, Thomas meluruh. Bahwa Prisa sungguh-sungguh dengan keputusannya.

Selepas makan malam di penghujung akhir pekan, Thomas bertolak ke kamar Prisa. Stephania dan suaminya lambat laun mengerti. Anak lelaki mereka sedang merindukan adik tirinnya. Bila tak sengaja terbangun di tengah malam karena haus, Stephania sering menemukan Thomas tidur di kamar Prisa. Entah malam ini Thomas juga akan menghabiskan malam di kamar Prisa atau tidak.

Tiba-tiba Thomas ingat tentang series novel pemberian Edgar. Empat buah buku yang sempat ia gunakan untuk mengancam Prisa agar berhenti menangis tanpa sepengetahuannya. Thomas menghampiri rak buku Prisa. Telunjuknya menyapu judul-judul buku yang tidak Thomas kenal. Hampir semua buku Prisa berbahasa Indonesia.

Ketemu! Dan lengkap. Keempat buku itu bersarang manis di rak.

Prisa tidak membawa serta hadiah pemberian Edgar ke Jakarta. Sebuah keputusan yang baru Thomas ketahui.

Thomas mengingat-ingat perdebatan terakhirnya dengan Prisa. Berdamai… Berdamai dengan Edgar… Apa itu artinya Prisa akan menemui Edgar di Jakarta? Keputusan yang cukup membingungkan. Lututnya lemas. Thomas mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur. Benar saja jika Prisa menuduhnya tidak mengerti apa-apa. Thomas memang tidak mengerti.

Pip! Pip!

Ponsel Thomas berkedip. Notifikasi email masuk. Email dari Prisa. Thomas tidak memperhatikan tulisan di badan email. Perhatiannya tertuju pada sebuah data yang dilampirkan Prisa. Satu kali klik, data terbuka. Sebuah foto.

Thomas terkesiap. Lama ia menatap Prisa di dalam foto. Prisa yang ia ketahui si wajah berat. Jarang sekali senyum. Tapi disini bibir Prisa melengkung sempurna. Wajahnya merekah dan merona. Deretan giginya terlihat dan matanya setengah hilang karena pipinya mengembang seperti strawberry cup cake. Di sisinya ada seorang pria yang juga tersenyum sama lebarnya dengan Prisa. Kacamata kotaknya sampai harus beradu dengan pipi gempil yang menyencang karena tertawa. Mereka berfoto di arena taman bermain.

Barulah Thomas berkulir pada isi badan email.

Subject: :)

Aku mengerti kekesalanmu saat aku kembali ke Jakarta. Kamu pasti berpikir aku akan menemui Edgar. No, Thom. Aku tidak menemuinya. Namun aku menemui dunianya. Jakarta adalah dunia Edgar.

Berada di Perth memang menjauhkanku dengan Edgar, tapi aku tidak merasa urusan hati ini bisa selesai karena jauh. Itu sebabnya aku kembali ke Indonesia. 

Aku ingin urusan ini selesai. Ini yang aku butuhkan, Thomas.

Dan sekarang sudah benar-benar selesai. Aku sudah bisa terima Edgar sebagai sejarah hidup. Cukup jadi sejarah. Aku menempatkannya di masa lalu. Tidak masa kini apa lagi masa depan.

Sekarang aku ingin mengenalkanmu kepada seseorang. Namanya William Havcnah. Satu hal yang harus kamu ingat. Dia punya cita-cita yang sangat basic

Aku melampirkan foto kami berdua. Dari foto kami, coba kamu tebak, What his basic dream is.

Thomas kembali dengan foto Prisa.

Tanpa ia sadari. Stephania telah duduk di sisinya. Mengelus bahu Thomas lembut. Thomas memberikan ponselnya pada ibunya. Turut menunjukkan wajah terbaru Prisa. Terbit senyum di wajah Stephania. Seperti Prisa menularkan senyumnya pada Stephania. Sama seperti yang ia rasakan saat pertama kali melihat foto ini.

She looks happy.” Kata Stephania singkat. Thomas mengangguk setuju.

His name is William Havcnah, Mom.” Tukas Thomas juga singkat.

They look happy.” Stephania menimpali lagi sambil tetap tersenyum.

Otak kecil Thomas berputar sejenak. Tentang teka-teki di akhir email Prisa. Thomas mencoba menyimpulkan semuanya.

Mom, aku akan meminta Prisa menghabiskan akhir tahun di rumah.” Stephania mendongak. Mengembalikan ponsel Thomas dan masih tersenyum khas wanita hebat. Satu tangan Stephania membelai wajah Thomas yang terlihat lelah sepulang kerja.

“Tentu… Kami semua merindukan Prisa. Terutama kamu, sayang.”

“Bagaimana kalau kita undang juga William?”

selesai

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What has leaves, a trunk, and branches, and grows in forests?