Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Menilaimu Dengan Bijak

Cukup lama dirinya memandang megapolitan dari ketinggian gedung lantai 18. Jutaan orang berjudi dengan keadaan. Mempertaruhkan setengah nyawa di tengah kemacetan Jakarta.

Tisa mendesah untuk yang kesekian kali. Meeting bersama mitra kantor terasa hambar. Dari mulai pukul 8 pagi, selesai pukul 5 sore. Itupun belum benar-benar sepakat. Pihak mitra ingin untung lebih besar dari kantornya. Debat berbau sindir acap kali meletup kecil. Selama itu hambar. Coffee break setiap tiga jam sekali. Teh manis, full cream coffee dan kudapan berbagai rasa. Masuk mulut, semua hambar.

Lampu kamar sengaja ia padamkan. Yang berpendar hanya kamar mandi yang sengaja dibuka pintunya. Tirai jendela ia tarik hingga tersungkur di tepi-tepi jendela. Tisa menghadap kaca raksasa. Tubuhnya duduk di tepi tempat tidur. Secangkir cokelat panas di tangan. Dan masih hambar.

Tisa tahu kemana semua rasa berpindah.

Jakarta dengan langit biru matang selepas senja. Kecil-kecil binar galaksi sudah mulai bermunculan. Sebentar lagi kota ini akan berpendar. Lampu hijau, biru kekuningan. Digital billboard akan menawarkan cahaya tersendiri. Namun Tisa masih hambar di kamarnya. Sepi.

Ia ingin menyepi untuk menyesali diri.

Ia bisa bayangkan sebagian refleksi dirinya akan memantul di jendela kaca bila ia menyalakan lampu kamar. Melihat dirinya dari ujung rambut hingga kuku kaki. Menimpali diri dengan penyesalan amat sangat tentang sebuah pemikiran sempit. Kini ia benci dengan pemahaman itu lagi.

Pemahaman bahwa dirinya benar. Pemahaman bahwa keputusannya untuk pergi adalah benar. Pergi diam-diam. Mundur pelan-pelan tanpa tahu apa yang sesungguhnya Setya butuhkan. Ia hanya tahu bahwa dirinya ingin Setya, tapi sayangnya Setya ingin Tisa sebagai… entah.

Pemahaman bahwa Setya selama ini tak benar-benar terlibat dalam dunianya. Bahwa sesungguhnya Setya sedang pura-pura terlibat agar ia tetap punya alasan untuk bersama. Bahwa sesungguhnya Setya menutup dirinya rapat-rapat tanpa tersentuh oleh Tisa. Tisa merasa dirinya tak pernah diizinkan untuk melebur bersama Setya.

Pemahaman bahwa Tisa mencintai pemuda bertopeng.

Yang dulunya indah namun kini rusak parah karena ketahuan bertopeng. Mulanya Tisa berpikir Setya berubah. Sesungguhnya Setya hanya tidak lihai menggunakan topengnya. Setya tidak tahu bahwa topeng memiliki batas waktu. Bila sudah waktunya, ia akan meluruh dengan hujan dan meleleh oleh matahari.

Pemahaman Tisa tentang kesimpulan yang ia tarik sendiri. Bahwa Setya ingin bersama Tisa tanpa tali. Tanpa label. Namun Tisa melihat ini sebagai sebuah ketidak mampuan Setya berikrar. Minimal untuk menetapkan hatinya.

Akan ada pria yang lebih baik dari Setya. Tisa meyakini dirinya patut mendapatkan yang lebih pantas.

Jadi Tisa pilih pergi. Tanpa izin Setya. Tanpa sepengetahuan Setya. Pergi tanpa tanda.

Hingga seorang sahabat datang dan menjelaskan sebuah pemahaman yang sebenarnya kepada Tisa. Bahwa Setya bukanlah pemuda normal dengan keluarga tanpa kurang seperti dirinya. Bahwa Setya bukanlah pemuda berprestasi dengan segudang medali sepertinya. Bahwa Setya bukanlah pemuda kharismatik yang sangat mudah dicintai orang-orang disekelilingnya. Bahwa Setya bukan seseorang yang peduli dengan label sosial.

Bahwa Setya adalah tulang punggung keluarga. Bahwa Setya adalah anak yang berbakti kepada orang tua. Bahwa Setya sedang memikul beban yang tidak akan Tisa mengerti. Bahwa Setya sedang menutup dirinya dengan berpura-pura baik-baik saja.

Tisa masih memangku cangkirnya. Cokelat di cangkir hitam sudah tidak panas lagi. Bercampur dengan air mata yang mengalir dari mata, pipi, dan terjun di ujung dagu.

Mendapati dirinya yang sesungguhnya tidak pantas bersanding dengan Setya. Bahwa dirinya tak lebih baik dari Setya. Bahwa dirinya memang tidak akan pernah menerima kenyataan.

Kenyataan bahwa ia sudah melangkah pergi. Sudah cukup jauh. Kemudian melihat kebelakang dan menyesal, namun tak akan punya kesempatan untuk berjalan mundur.

Tisa tertanam disana.

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is a typical spring leaf?