Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Hallo

Hai guys... I’m back

Belakangan banyak hal yang musti dihadapi. Ada satu fase, dimana introvert ini kambuh lagi. Banyak hal yang terjadi, tapi… rasanya lebih baik disimpan sendiri. Diresapi sendiri. Dipikirkan sendiri. Disimpulkan sendiri dan menjawab segala pertanyaan tentang diri sendiri.

Jadi bagaimana kabarku saat ini?

Inilah yang mau aku bagi. Setelah sekian banyak kejadian yang terlewat lengkap dengan emosinya, aku sudah memutuskan. Aku butuh menulis lagi.

Tulisan ini dibuat dengan si leptop ungu kesayangan yang akses internetnya di-tethering pake paket dari smart phone. Ditulis di atas meja kayu yang punya banyak fungsi. Ditulis dalam suhu ruangan 25°C yang di-setting dengan pendingin ruangan. Ditulis di dalam gedung dormitory berlantai dua. Aku di lantai dua yang jendelanya langsung berhadapan dengan jalan Bintan Lagoi yang familiar disebut township. Ditulis setelah hampir sebulan berada disini sebagai Food Hygiene & Sanitation Inspectorat. Ditulis dalam keadaan sedang beradaptasi dengan banyak sekali hal baru. Ditulis—masih—dengan kacamata minus-silinders-anti radiasi laptop screen. Ditulis setelah sekian lama membelenggu hingga akhirnya bulat memutuskan untuk memberi kabar. Ditulis dengan sangat tenang. Ditulis dengan senyum simpul yang tahu-tahu melengkung sendiri, seperti otomatis. Ditulis dengan sensasi reuni setelah lama tak menulis. Terutama menulis untuk diri sendiri.

Tidak mudah… Itu yang bisa aku kabarkan saat ini guys. Bulan yang sama tepat setahun lalu, aku dengan riang gembira mengenakan baju toga lengkap dengan bucket bunga yang kalau dibawa bisa sampai pegal saking banyaknya. Sebelas bulan teroambang ambing sama perasaan sendiri ketika Tuhan sudah gariskan takdirnya. Kembali soal waktu. Aku yang gak terampil menunggu. Tapi toh ketika waktunya tiba, dia akan datang tanpa terlambat. Terlampau tepat malah.

Jadilah aku terbang ke ‘antah berantah’. Nama tempat yang baru aku dengar setelah proses interview berlangsung secara digital via skype. Nama yang gak familiar bagi warga Indonesia namun cukup tersohor bagi turis asing. Nama yang bikin perut mules karena membayangkannya saja sudah bikin sakit kepala. Berbagai tertimonial dari para blogger yang mirip-mirip rainbow cake, beragam luar biasa. Nama tempat yang lambat laun akan tercantum di curriculum vitae sebagai salah satu sejarah hidup.

Nama itu… Bintan Lagoi.

Ini masih di Indonesia… Ringkasnya, dia berseberangan dengan Pulau Batam. Ya, Pulau Batam yang terlalu dekat dengan negara tetangga itu. Aku juga sudah menjejaki pulau itu. Dalam rangka penasaran bersama teman-teman rantau yang senasib dan sepenanggungan. Terbersit ide untuk menjejaki negara tetangga. Kembali kepada rencana yang berkoordinasi dengan garis Tuhan. Soal waktu.

Aku terlalu asik menikmati suasana baru disini. Sampai lupa kalau disini masih ada sinyal. Lupa kalau masih punya twitter, facebook, path, instagram… ayo apa lagi? hehehe… Lupa. Ya itu dia, momen itu datang bersama dengan kambuhnya introvert yang sepertinya ingin meredam minat menulis hingga energinya cukup. Dipendam sampai nanti meledak lagi seperti tiga tahun lalu.

Ini cuma masalah waktu…

Okey guys. Ini yang mau aku bagi malam ini. Maaf… Tulisannya gak secerewet dulu hehehe… ini juga sudah diupayakan. Sampai jumpa di postingan berikutnya.

Bye

Category: Uncategorized

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is that thing with fingers at the end of your arm (one word)?