Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Errorilationship

Pandangannya tertumbuk pada sesuatu di layar ponsel. Hanya butuh sedetik untuk mengenalnya, mengenang kapan ia menuliskannya disana, bagaimana suasana hati saat menulis satu kata yang mewakili dirinya dan dia—kita—begitu ucapnya, dulu. Tisya tersenyum simpul. Menemukan dirinya dulu pernah bahagia dan berbunga-bunga. Hingga satu kata ini ia nobatkan sebagai kata ‘kita’ dalam dirinya dan diri dia disana.

Dari sebuah buku novel fiksi yang pernah ia baca—Happily Ever After dari Winna Efendi, Tisya mengutip: “Orang yang ditakdirkan untuk ada di sisi kita, pada akhirnya akan bersama kita. Mereka yang ingin pergi tidak bisa dipaksa untuk tinggal.” Dan ada satu lagi, Tisya mengutipnya masih dari buku yang sama:”Orang-orang yang punya insting defensif—sebelum ditinggalkan, mereka akan meninggalkan lebih dulu.”

Dua kutipan itu… Tisya termangu untuk beberapa waktu. Menggaris bawahi dengan tinta gel hitam kemudia dibaca lagi lebih pelan, lebih pelan, dengan penuh penghayatan. Memaknainya dengan takzim.

Kutipan kedua membawanya terbang ke Indonesia. Ketika ia merasa telah ditinggalkan Andri walaupun fisiknya masih terjangkau oleh tangan, namun Tisya tak mampu lagi menyentuh hatinya. Disaat itulah Tisya merasa… sudah waktunya aku pergi. Maka ia pergi ke bagian sudut bumi yang lain. Meninggalkan Andri berikut dengan orang-orang yang kapan saja dapat menyebut nama Andri. Instingnya mengatakan pergi. “Sama persis…” Desis Tisya saat menemukan kutipan ini.

Kutipan pertama tak membawanya kemana-mana. Diam ditempat, tapi hatinya meraba ke dinding waktu. Mengkalkulasi banyaknya satuan hari yang telah ia lalui. Satuan menit yang telah menyapa kemudian pergi. Dan, satuan nafas yang masih melafalkan  nama Andri di dalamnya.

Tisya termangu lama. Hingga pada akhirnya ia mengulum senyum dan mengekeh di dalam bibir terkatup. Menemukan dirinya sedang dihujam rindu sambil berharap. Betapa ia ingin bertemu, namun saking naifnya, Tisya ingin takdir saja yang mempertemukannya dengan Andri. Tisya tersenyum lagi. Sudah tidak ada lagi yang perlu dipungkiri.

Setelah menerawang jauh ke belakang, Tisya kembali pada layar ponselnya. Mengelus lembut tepat di bagian kata itu terukir dibalik LCD. Mengejanya dengan sekali hembusan nafas tentang Andri. Kata itu … Errorilationship.

Yang dulu pernah ia maknai sedalam inti bumi.

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 7 multiplied by 9?