Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Isi Kepala Saat Ini

Ibarat adonan roti. Otak ini rasanya seperti merekah di dalam oven. Setiap titik sel baru yang terbentuk, akan menarik garis dengan sel lain hingga membentuk jaringan, kemudian jaringan ini semakin lebar… dan semakin luas. Seperti popcorn yang bergemeretak di dalam teflon, begitulah bunyi yang aku dengar setiap kali jaringan otakku mengembang.

Bayangkan. Satu titik realitas disini beresonansi realitas yang lain. Dan hebatnya lagi, ikatan sebab-akibat membuatnya terhubung satu sama lain.

Aku harus menghadapi ini setiap hari. Setiap jam. Bahkan dikala akhir pekan, aku harus terima kenyataan, bahwa otak ini masih terus merekah dan bergemeretak seperti kaca retak yang enggan pecah.

Belum lagi unsur perasaan yang kadang kala ikut tersangkut arus dan berturbulensi di dalamnya. Jadi adonan kue yang bergejolak hingga bentuknya tak karuan.

Ini yang namanya dunia nyata?

Ini yang orang-orang sebut dengan welcome to the jungle— a.k.a the real world?

Dan ngerinya lagi… ini baru permulaan.

Mau tak mau aku harus menghadapi gelombang besar. Iya… intuisi juga sudah memberikan alarmnya.

Apa aku harus bertahan?

Setiap realitas yang aku terima ternyata menantang integritas hingga idealisme. Takut, sudah pasti. Aku takut kualitas diri ini yang jadi taruhannya. Tapi kalau kembali ke teori kerang, tanpa tekanan dan kesusahan, butiran pasir dan mineral tidak akan pernah jadi mutiara.

Jadi aku harus bertahan? Jadi mutiara?

Baru hitungan tiga detik tadi hari nuraniku bilang, “ya, kamu harus bertahan.”

Tinggal tunggu… apakah nurani datang bersama dengan keyakinan atau sekedar menyapa selamat datang saja.

Ini berat. Jelas… realitas tidak pernah ringan. Tidak pernah enak. Apalagi manis. Wait! Abaikan! Barusan itu kalimat putus asa. Keceplosan. Tapi tak apa, kalau ia pantas jadi bahan pertimbangan.

Intinya.

Aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selama setahun kedepan. Ketidaktahuan ini akan jadi tekanan berharga atau panik konyol yang biasa orang sini sebut dengan ‘terkejut-kejut monyet’.

Mungkin karena aku lihat satu per satu temanku pergi dengan takdirnya masing-masing.

Atau takdirku masih disini? Entah!

Kompleks? Memang… lihat saja tulisan ini. Sudah jadi jarring laba-laba yang berpilin rumit tapi masih rapih dan berkilau. Belum terlalu buruk hingga jadi benang kusut. Belum… jangan sampai.

Aku harus tahan. Minimal untuk satu tahun kedepan…

Disamping itu, aku harus cari satu titik pencerah. Dan, sudah aku temukan pertenghan bulan ini. Semoga beliau bisa jadi jalan keluarnya. Amin…

Category: #LiveInBintan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 8 times 7?