Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Jauh

Pemandangan diluar jendela selalu menarik. Bila ada waktu, kapanpun, ia akan menoleh sebentar ke jendela. Barang semenit-dua menit kemudian kembali berpijak lagi ke bumi yang ia arungi. Seperti setiap pagi dari jendela kamar indekos lantai tiga. Waktu menyibak tirai untuk memastikan apakah matahari sudah hadir. Seperti cipratan pagi yang menyilaukan sudut mata dari jendela kopaja. Sangat menarik untuk ditilik sebentar saja.

Seperti saat ini. Waktu langit Jakarta mulai berwarna. Sapuan warna tak wajar yang hanya hadir setiap senja dan selalu berbeda setiap harinya. Momen seperti selalu beralasan untuk dinikmati. Dia menikmati sendiri.

Bibirnya melengkung tipis. Tangan-tangan rindu menyingkap satu kenangan yang selalu hangat setiap kali diputar ulang. Ketika dulu, saat masih bisa membagi senja dengan sang terkasih.

Bibir itu masih mengulum senyum ketika ia meninggalkan jendela di samping tangga. Berjalan mantap kembali ke dalam kubikal dan lembur hingga entah kapan.

Namun pekerjaan tak kunjung ia kerjakan. Sejenak, hangatnya masa lalu mengalihkan perhatiaannya. Kursor komputer bergerak-gerak, menelusuri folder demi folder. Kadang ia harus kembali ke folder berikutnya, lupa-lupa ingat dimana dulu ia simpan. Dan ketemu. Dua kali klik, puluhan foto berjejer rapih memenuli layar.

Kursornya membuka foto satu persatu.

Senyum tipisnya terukir lagi, tapi cepat berubah jadi senyum penuh sanksi.

Dilihat wajahnya selalu tersenyum lebar dan sang terkasih mengukir senyum yang sama lebarnya. Foto saat makan bersama. Foto saat sedang mengantri tiket nonton di bioskop. Foto saat di bandara, ketika salah satu harus pergi dan nyatanya entah kapan dapat kembali.

Cintanya masih tersimpan rapih. Bersama waktu, malah jadi semakin wajar. Tak banyak berontak dengan takdir yang tak pernah pasti. Tak banyak menuntut dengan kemampuan diri yang serba terbatas. Tak banyak membantah lantara pemahaman semakin luas dan dalam. Bahwa, ada kalanya cinta hadir bukan untuk bersama. Ada kalanya cinta harus berdamai dengan semesta. Sebuah proses berat yang harus ia tempuh selama bertahun-tahun.

Kini rasanya jauh. Sang terkasih terasa jauh.

Cintanya terasa dalam. Merasuk dan melebur di satu titik inti jiwa raganya.

Itu saja. Seperti pemandangan Jakarta lewat bingkai jendela. Ia nikmati setiap hari. Ia maknai sedalam inti bumi. Ia resapi, bahwa, Tuhan menyediakan kapasitas cinta sesuai dengan kemampuan umatnya.

Begitulah ia menyimpulkan kerinduan yang tak pernah sampai.

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 5 + 3?