Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Hak Waktu

Ponselnya bisu sejak tadi pagi. Tidak ada notifikasi. Terakhir cuma pesan dari pacar, dia bilang selamat pagi dan maaf tidak bisa mengantar ke kantor karena Vice Presiden tempatnya bekerja tahu-tahu datang dari Singapure dan mengadakan meeting pagi-pagi buta. Itu saja sudah bikin nafasnya berhembus berat. Jalan ke terminal Trans Jakarta makin terasa berat. Saat terpaksa lembur sesore inipun masih terasa berat. Kepalanya juga berat.

Pias mengirim pesan ke pacar. Menanyakan kabar. Bau-baunya, pesan ini baru akan dibalas nanti malam, larut malam, atau besok. Pias setengah melempar ponselnya ke atas meja. Harus kembali cemburu dengan realita berpacaran dengan asisten manager. “Apalah aku ini yang cuma supervisor,” keluhnya sambil membanting tubuh ke kursi kantor.

Layar komputer meredup dan jadi hitam gelap. Lama tak disentuh tetikusnya. Disana memantul langit senja Jakarta. Hijau, jingga, abu-abu dan merah. Seperti cat air yang tumpah di kertas warna biru terang.

Pias memutar kursi berodanya. Posisi kubikalnya membelakangi dinding kaca. Disana membuncah tumpahan warna di gradasi langit biru cerah hingga biru kehitaman dilumat malam yang sedang mendekat.

Pias tahu siapa yang bisa ia hubungi untuk urusan senja yang satu ini. Ponsel ia raup sembarangan. Kalau handphone bisa ngomong, mungkin dia sudah protes karena benjol. Tapi justru jemarinya yang protes.

Nama itu ada di depan mata. Tinggal sentuh dan terbukalah laman percakapan. Bibirnya mengatup rapat. Meringkuk jauh ke belakang. Pias lupa kalau semua sudah bukan lagi haknya.

***

Apa lagi yang dikeluhkan manusia twenty something kalau bukan pernikahan. Teman-teman semasa sekolahnya dulu sudah mulai bernikahan. Undangan pernikahan datang seperti musiman. Sekali datang, keroyokan seperti musim duren. Mendadak muncul kedai-kedai di pinggir jalan dengan modal terop yang ditarik dari punggung mobil pick up dan tumpukan duren pastinya.

Pias memutuskan untuk hadir di salah satu pernikahan teman kuliahnya di Jakarta. Klise, karena undangan yang lain berlokasi di luar kota. Lagi pula Pias ingin mengajak Adrian, pacar barunya. Pias yang baru-baru ini membuat hatinya berdebar lagi, jatuh cinta lagi. Sebuah sensasi yang datang bak reuni.

Pias sudah terlalu lama menutup diri. Menutup banyak akses yang ingin mendekat sejak terakhir kali ia jatuh hati dan jatuh sakit. Pias menepis keras-keras setiap hati yang ingin hadir mengisi. Tapi untuk Adrian, makhluk yang satu ini bisa dibilang tahan banting. Pias keras menangkis, Adrian tangguh melawan. Jadilah Pias luluh dan bersedia diremukkan benteng pertahanannya.

Dengan berbangga hati Pias menggandeng Adrian yang juga tak henti tersenyum. Dadanya membusung tegap, merasa penting karena kekasihnya dandan habis-habisan dan memperkenalkan dirinya kepada siapa saja yang Pias kenal.

Sepasang mata telah memperhatikan Pias sejak pertama kali ia memasuki ball room. Mengikuti kemana langkah Pias menganyun untuk memastikan bahwa ia tidak salah orang. Yang pasti punggung itu… punggung mungil nan ringkih itu amat ia kenal. Amat ia pahami komposisinya hingga ia terlihat begitu rapuh. Paham luar dalam.

Cairan super glue mendadak lumer di sol sepatunya. Kedua tungkainya kaku membeku. Punggung mungil itu sudah ada yang merengkuhnya. Sudah ada yang menggantikan posisi lengannya dulu. Sudah ada yang menyanggah dan berjaga-jaga bila tubuh ini tahu-tahu tumbang.

Seorang teman lama menyadari keberadaannya yang mematung cukup lama disana. Seperti suara ding-dong dari jam klasik dongen Cinderella, aura magisnya merasuki Keenan. Dalam sekejap ia melupakan cairan super glue di telapak sol sepatu dan berjalan menghampiri sang teman lama yang tadi memanggil namanya. Punggung kecil itu setengah berputar. Mata mereka bertemu… bertumbuk. Keenan sudah tahu cara mengantisipasi semua ini. Dengan luwesnya ia menjabat tangan Pias berikut dengan lengan baru yang sama kokohnya dengan dirinya.

Tidak lama, sejurus kemudian Keenan pamit dan pergi dari lingkarang masa lalu ini. Ia bukan aktor ulung. Jam klasik dongen Cinderella berbunyi lagi dan menghisap kembali seluruh daya magis yang tadi Keenan pinjam. Tapi Pias terlalu mengenalnya. Ia tahu, sesungguhnya Keenan belum mempersiapkan dirinya untuk kondisi ini.

Adrian merengkuh Pias lebih kuat hingga wajah cantik ini kembali menatapnya setelah sekian detik mengikuti kearah punggung Keenan menjauh.

***

Senja habis dilahap malam. Warna-warni cat tumpah tadi dibilas tinta hitam penuh glitter. Ponsel masih ia genggam. Digenggam saja. Sepasang tangannya jatuh lunglai di samping tubuh yang sudah ambruk lagi ke bumi. Tidak ada yang benar-benar ia tatap. Matanya menerawang ruang hati dan menterjemahkan bahasanya satu per satu. Dari sekian komplek bahasa kalbu, hanya satu yang bisa Pias garis bawahi…

Hanya waktu yang berhak atas semua ini.

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 8 in addition to 9?