Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Jangan Lupa Bahagia

Pantai di hadapanku saat ini tidak ada beda dengan pantai pada umumnya. Pasir putih. Halus. Sebagian sudah ada yang nyelip masuk ke dalam sandal. Cuaca terik khas kota minyak. Masih terlalu pagi untuk bertemu sunset

Suasana pantai pada umumnya. Anak-anak kecil penasaran dengan air yang bisa maju mundur, mengajak bermain kejar-kejaran. Para orang tua yang awas di sekitar anak-anak dengan kacamata hitam. Sore ini memang silau sekali.

Anak-anak ABG berfoto-foto ria. Pakaian mereka lebih cocok buat pergi ke mall dari pada mejeng di pantai. Bergerombol dalam satu geng atau sekedar datang berdua. Pasti sedang pacaran. Cinta monyet. Lidahku kecut. Aku datang ke pantai ini sendiri.

Lebih tepatnya aku menunggu seseorang. Kami sudah janjian bertemu.

Bagaimana kabarnya saat ini? Bahagiakah dia saat ini? Atau jangan-jangan sudah sukseskah karirnya? Entahlah…

Mengirim pesan padanya ketika mendarat di Bandara Sepinggan saja rasanya seperti mimpi. Tahu-tahu harus menghadiri meeting bersama client karena si boss kedatangan tamu dari Korea. E-tiket sudah nongkrong di email beberapa jam setelah boss memberikan mandat. Dan seperti otomatis, diantara orang-orang yang sedang menanti baggage claim, jempolku sudah lompat-lompat di layar ponsel. Andai saja pesan itu tak dibalas, aku tidak akan sadar. Alam bawah sadarku masih mengenangnya. Mungkin rindu? Entahlah…

Langit mulai kemerahan. Siang ini terlalu panas, menjelang petang akan menyisakan rona merah kecokelatan. Itu teoriku selama mengamati senja di Jakarta, Bandung, Bogor dan Bali. Entah bagaimana kalau disini.

Aku melirik jam tangan dan membenarkan dudukku. Apakah aku gugup? Entahlah… Hari ini aku banyak tidak tahu. Bicara apa padanya nanti pun aku juga tak tahu. Semua ini terasa mendadak. Aku akui, aku menikmati kemendadakan ini. Tuh kan, aku tidak bisa menyembunyikan senyum ini. Kalau ada pengunjung pantai yang memperhatikanku, aku bisa disangka orang gila. Duduk sendiri, pakai kacamata hitam kotak dan senyum-senyum sendiri.

“Hallo Dion,” sesungguhnya suara itu mengagetkanku. Aku tertegun melihat kehadirannya. Reflek berdiri, menjabat tangannya, bertanya kabar yang masing-masing kami jawab “baik”. Kaku dan formal, aku merasa canggung.

Dia bertanya bagaimana aku bisa sampai kota ini. Sebuah tamparan kecil bagiku yang dulu hanya bisa mengeluhkan nasib. Mana mungkin bisa terbang sampai Balikpapan. Aku pengecut, selalu punya alasan untuk kalah.

Aku ceritakan semuanya, betapa aku tidak menyangka bisa mencelat melintasi Laut Jawa. Selama ini, pulau yang pernah aku pijak selain Jawa baru Bali.

Dia menyimak ceritaku dengan senyum tipis di bibir penuhnya. Lihat pipinya, sekarang dia lebih gempil. Tidak cekung saat masih kuliah dulu. Jerawat di wajahnya juga sudah memudar. Dulu dia paling sebal dengan jerawat penuh di pipi, ia jadi tidak bisa dandan pakai blush on. Rambutnya masih lurus hitam kecokelatan. Ini potongan favoritku. Tanpa ia ketahui tentunya. Dia mengenakan kacamata hitam bingkai oval. Kontras dengan kulitnya yang kuning langsat. Dulu dia paling anti pakai kacamata hitam atau bingkai hitam, dia bilang, memberi kesan galak pada wajahnya. Aku masih mengamati, ia justru terlihat mengesankan.

Kami bukan lagi anak kuliahan yang hanya memikirkan tugas dan rekreasi, kami menua. Pricila membuktikannya padaku. Gadis itu sudah berubah jadi wanita anggun.

Gantian aku yang bertanya tentang kabarnya. Pricila melepas kacamatanya. Ia kenakan di kepala seperti bando. Sepasang soft lens transparan dan segaris tipis eyeliner menghiasi mata almondnya. Dia sudah tahu bagian terindah dari wajahnya. Tak perlu lagi lipstik, pensil alis, maskara apa lagi blush on. Begini saja sudah… cantik.

Pricila belum berubah. Ia masih seperti dulu. Bicaranya penuh tenaga dengan gerakan tangan aktif di udara. Artikulasinya jelas, secepat apapun ritme bicaranya, aku tetap paham apa yang ia bicarakan. Logat sunda masih tersisa sedikit. Bergantian dengan dialek jawa dan melayu yang muncul silih berganti. Dulu aku yang mengajarinya bahasa sunda saat masih kuliah di Bandung, logat medok Jawa warisan dari keluarga besarnya, dan dialek melayu ia dapatkan saat setahun bekerja di Bintan Lagoi, Kepulauan Riau.

Lihatlah Pricila, dia sudah melanglang buana ke berbagai tempat. Wawasannya semakin luas. Pola pikirnya semakin kompleks sekaligus sederhana. Makhluk ini memang tidak pernah tidak mengesankan.

“Di sini memang selalu ramai seperti ini?” Aku melepas kacamata hitam, melihat sekitar dan kembali menatapnya.

“Kita berada di pantai kebanggaan warga Balikpapan. Pantai pasir putih di tengah kota. Air tidak bening seperti Pantai Seminyak di Bali, tapi segini sudah sangat menghibur.” Seorang anak berseru sambil menunjuk ke arah pantai. Sebuah banana boat melintas lalu menjungkir balik seluruh penumpangnya. Aku dan Pricila ikut tertawa melihat pemandangan itu. Cukup menghibur.

“Pacarmu disini?” Entah tersedak pasir pantai atau apa, aku tahu-tahu aku bertanya soal pacar. Aku menatap Pricila lamat-lamat. Mengamati perubahan ekspresi di wajahnya. Mana tahu ia tersinggung.

“Belum… Belum tahu kapan dia bisa disini.” Jawabnya ramah.

“Dia tidak di Balikpapan?” Dan masih saja aku teruskan. Sial! Tapi aku betulan bertanya. Penasaran.

“Dia masih di Bintan Lagoi, baru promosi jadi Asisten Manager. He-he padahal rencananya dia mau resign,” Pricila masih menjawab ringan. Tak ada tanda-tanda risih. Atau dia sudah makin mahir menyembunyikan perasaannya? Itu bisa jadi.

Long distance relationship lagi dong,” aku menyesap jus mangga dingin. Menyembunyikan kekhawatiranku bila ekspresi wajah Pricila tahu-tahu berubah. Itu tandanya ia tidak nyaman atau tersinggung. Sunggguh aku tidak ingin merusak momen ini.

“Iya… Mau gimana lagi?” Pricila mengekeh renyah di akhir kalimat.

“Gak takut?”

“Takut gagal? Sudah biasa Dion. Kamu tahu sendiri, kan?” memang benar. Dia pasti sudah bebal.

Waktu SMU dia pernah stres sampai masuk UGD karena menstruasinya tidak berhenti selama dua minggu. LDR Balikpapan-Malaysia kandas sebulan sebelum anniversary. Waktu kuliah, Tiga tahun LDR dan selesai begitu saja. Pricila langsung demam karena ia terlalu menghargai perasaan sang mantan. Dia demam di pelukanku waktu itu. Hari-hari berikutnya ia lewati dengan biasa saja. Ia pasti sudah belajar banyak dari pengalaman.

Ponsel Pricila berdering. Apakah pacarnya menelpon? Tapi wajah Pricila datar-datar saja. Tanpa meminta izin padaku ia mengangkat telpon. Aku kembali menyesap jus mangga yang sudah mau habis, tapi diam-diam aku menyimak percakapannya.

“Hallo… Ya saya sendiri… Hai dok, baik… Sudah jauh lebih baik, tidak ada masalah… sibuk? Sekarang? Tidak, aku lagi off duty, tapi sedang ada tamu dari luar kota… next time? no problem…” tak lama kemudian telpon berakhir.

“Berani taruhan, pasti telpon dari laki-laki.” Sahutku sok asik.

“Apa lagi?” Sudah kuduga, Pricila pasti suka permainan ini.

“Dokter. Tentu saja bukan pacarmu. Kemudian dia mau ajak kamu bertemu tapi sayang sedang ada tamu jauh macam aku ini.” Bingo! Pricila tergelak. Aku juga ikut tertawa. Dua jam bertukar cerita, akhirnya aku dapat menyingkirkan suasana canggung diantara kami.

“Kamu memang belum berubah, Cil,” komentarku skeptis.

“Dion, aku tidak sedang main belakang. Dia dokter yang tangani adikku waktu demam berdarah. Dan kami bertemu lagi waktu aku operasi usus buntu. Aku ditangani dokter lain waktu itu, tapi hampir setiap sore dia datang ke bangsalku. Dan selanjutnya aku tidak pernah muncul di rumah sakit.”

“Aku dan Fabian masih survive hingga saat ini. Dengan rencana hidup masing-masing tentunya. Kalau pun yang ini kembali gagal, aku sudah siap. Sangat siap malah.”

Pricila paham kemana arah bicaraku. Ia menangkis telak-telak dengan penjelasan ini. Dulu Pricil tidak segan-segan kencan dengan laki-laki lain karena pacarnya tidak dapat mengimbangi wawasan luasnya. Jadilah Pricil mencari pelengkap yang sepadan. Entahlah… kenapa jadi aku yang merasa sangsi?

Pricila menyandarkan punggungnya. Bibirnya terkatup. Sorot matanya jatuh ke pasir pantai. Senja sudah tiba, tapi aku justru merasa bersalah. Aku sudah merusak momen ini.

Aku meraih tangannya. Mengelus punggung tangannya. Tatapan mata kami bertemu.

“Gagal atau tidak, itu bukan salahmu, Cil. Aku tahu kamu selalu berusaha memberikan yang terbaik.” Wanita ini membalas tatapanku lekat-lekat. Lengkung di bibirnya kembali terbit. Ia membalas genggaman tanganku. Aku merasa lega bukan main.

Pantai Kemala senja ini terasa menenangkan dengan Pricila di hadapanku. Masih menggenggam tanganku. Rasanya ingin kurekatkan super glue agar tidak perlu lagi kami berpisah pulau.

***

Aku menyesali mengapa kemendadakan ini terlalu sesaat. Selepas meeting, aku sudah harus meluncur ke Bandara Sepinggan, check in, dan kembali ke Jakarta. Bandara ini megah. Selalu jadi pembanding yang seimbang dengan Bandara Kualanamu di Medan. Tapi siapa yang peduli kalau suasana hati sudah sekalut ini.

“Pricil?” Sosok itu benar-benar Pricila. Ia berdiri di jalur keluar check in. Rambut panjangnya diikat kuda. Setelah gaun batik dan flat shoes warna senada. Bandara juga jadi tempat bidadari mendarat dari khayangan? Entahlah. Yang aku tahu, kaki ini sontak ingin mendekat saja.

“Tiga hari terlalu singkat ya?” Pricila melepas kacamata hitamnya. Mata almond itu menatapku lembut. Aku hanya bisa mengangguk setuju tanpa sepatah katapun. Terlalu banyak yang ingin aku tumpahkan, berharap banyak bicara dapat memperlambat waktu. Tapi sepertinya tidak akan mengubah apapun.

Lagi-lagi, entah terdorong dari angin mana, tubuhku merengkuh wanita anggun ini dengan sekali langkah. Dapat kurasakan Pricila mematung kaku dengan nafas teratur. Aku mengelus punggungnya. Sebuah detail yang amat ia suka. Aku berharap dengan begitu ia akan melunak dan balas memelukku. Ternyata tidak. Hingga akhirnya aku yang akhiri sendiri dekapan ini.

Malu… Sumpah aku malu sekali.

Dari aku Pricil belajar bagaimana caranya menyembunyikan perasaan dengan berlagak datar dan tenang atau cenderung ramah, tapi sekarang aku yang tidak mampu menampung rindu yang membuncah dan rasa ingin mengaku… bahwa persahabatan ini sudah tidak bisa lagi dijadikan kedokku.

Aku yang tidak sanggup.

“Dion…” Dia memanggil namaku lembut. Menemukan sepasang mataku yang sudah layu. Dipaksanya aku menatapnya balik.

“Jangan lupa bahagia…” Begitu katanya. Senyumnya merekah. Sudut-sudut matanya juga ikut merekah. Ia bicara dengan wajahnya.

Aku menghela nafas kuat-kuat. Memaknai kalimat terakhirnya dalam-dalam. Kalau bisa, ingin aku bungkus rapat-rapat dan kuawetkan. Dan tubuh itu mendekapku hangat. Mengelus punggungku pelan. Menenangkan.

“Kamu juga… Jangan lupa bahagia.” Balasku lirih tepat di telinganya. Pricila mengangguk.

Aku tidak peduli dengan orang-orang yang menatap kami risih. Aku tidak peduli panggilan dari pengeras suara. Aku tidak peduli dengan pacarnya yang berkarir bagus di perbatasan Indonesia sana. Aku tidak peduli…

Bisa memelukmu lagi… itu kebahagiaan tertinggi yang pernah aku raih.

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

what is 5 in addition to 8?