Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

As You Wish

Hati Ben sedang berbunga-bunga. Mulai dari bangun tidur, mandi, sarapan sampai gosok gigi sambil senyam-senyum. Pagi ini Ben memilih atasan kaos dan jeans warna khaki kesukaannya. Santai memang, karena hari ini akan sangat melelahkan. Selesai mematut diri, Ben kembali membaca pesan singkat dari Dika. Pujaan hati yang cukup lama ia rindukan.

“Jam sepuluhan ya, dad. Kita langsung ketemu disana aja.”

                                                            -Mommy Dika-

Begitulah mereka saling menyapa satu sama lain. Dika panggil Ben dengan daddy Ben atau daddy bear karena tubuh Ben tinggi besar seperti beruang kutub. Ben panggil Dika dengan mommy Dika atau kadang-kada mommy bunny karena Dika punya dua gigi seri yang ukurannya lebih besar

Rencananya Ben akan melamar Dika di sebuah rumah yang sudah berhasil Ben beli sebagai mahar pernikahan mereka kelak. Mereka sudah pacaran cukup lama, empat tahun. Dua tahun long distance relationship karena Dika dipindah tugaskan di Kalimantan. Mereka jarang bertemu. Tahap awal pacaran jarak jauh sangat alot. Bagi Ben, Dika cerewet dan manja. Setiap hari harus meladeni telpon dan smsnya. Katanya kangen. Cerewetnya semakin menjadi-jadi kalau Ben ketahuan sakit oleh Dika.

“Tuh kan sekarang sakit. Pasti kamu merokok lagi ya. Hari ini sudah berapa bungkus? Sudah berapa hari gak tidur? Kapan terakhir kali makan? Banyak makan sayur dong dad biar nutrisi kamu seimbang…” dan masih banyak lagi. Ben risih. Tapi ini belum seberapa. Dika pernah mengamuk tentang Ben yang sedang dalam proses promosi untuk naik jabatan. Semua orang tahu tentang itu, tapi tidak dengan Dika. Yang Dika tahu pacarnya sedang gila kerja sampai berhari-hari lembur, makan tidak teratur dan mengabaikannya yang mengkhawatirkan kesehatan Ben.

“Kalau kamu sudah gak butuh aku, bilang. Jangan begini. Minimal aku gak perlu repot-repot mengkhawatirkan kamu kendati aku jadi orang yang paling gak bisa berbuat apa-apa.” Dika tidak membanting pintu, memecahkan kaca atau berteriak. Intonasi bicara Dika sangat tenang. Artikulasinya jelas sambil diselingi isak tangis samar-samar. Tapi justru ini adalah kalimat paling mengerikan yang pernah Ben dengar dari Dika yang manja dan kekanak-kanakan.

Ben membeku waktu itu. Andai jarak mereka dekat, Ben ingin merengkuh bahu mungil Dika dan mengecup lembut keningnya. Cara itu selalu ampuh untuk menenangkan Dika. Apa daya, tangan tak sampai.

“Aku sadar. Memang aku yang gak mau cerita. Aku gak mau bikin kamu khawatir. Aku ingin kamu cukup dengar kabarku baik-baik saja disini. Maaf… ternyata tindakan aku salah. Aku masih ada kesempatan kan?” Dan akan selalu ada kesempatan kedua, ketiga, keseratus untuk Ben.

Tapi proses itu semua telah mampu mereka lewati. Hingga hari ini datang. Dika kembali ditempatkan di ibu kota. Dika telah kembali.

Rindu kian membuncah di rongga dada Ben. Beberapa kali ia melirik refleksi wajahnya di kaca spion. “Ganteng,” begitu batinnya berdecak penuh percaya diri. Sejurus kemudian Ben memelankan laju mobilnya dan menepi di bahu jalan. Kakinya nyeri. Dipijatnya tempurung lutut yang sudah tidak bulat lagi bentuknya. Jemari Ben meraba bekas jahitannya yang menyembul dari kulit. Dengan sedikit memaksakan diri, Ben kembali menginjak pedal gas. Ia tidak ingin membuat Dika menunggu terlalu lama.

Dika sudah berada disana saat Ben tiba. Mereka berpelukan lama. Saling melepaskan rindu yang sama-sama mau meledak. Dika bercerita banyak hal. Tentang Kalimantan dan Mahakam Blok yang sangat kaya akan minyak dan gas alam. Ben menyimak sambil menggenggam salah satu tangan Dika dengan lembut. Rasanya tak ingin lepas.

Dika tidak pernah tidak bersemangat saat sedang bercerita. Tangannya bergerak-gerak saat bercerita tentang bentangan kilang minyak yang penuh dengan pipa logam yang meliuk-meliuk. “Setiap kali aku lewat jalan kilang minyak itu, rasanya seperti dililit ulat bersisik logam,” Ben tertawa dengan perumpamaan Dika. Pertama, tidak ada ular yang bersisik logam. Kedua, Dika tidak berubah, tetap pengkhayal ulung.

“Okay, sekarang giliran kamu.” Ben tersedak saat menyeruput green tea latte.

“Ya… aku disini gitu-gitu aja, mom. Sibuk… tapi tenang, aku sudah ganti rokok pake kopi hitam, jadi paru-paru aku aman.” Ben meremas lembut tangan Dika yang mulai tersirat ekspresi khawatir. Tapi tak lama Dika kembali rileks. Ben berhasil meyakinkan Dika.

“Habis ini kita mau kemana, dad?” tanya Dika ketika tiba-tiba Ben mengakhiri obrolan mereka, bergegas menggiring Dika masuk ke dalam mobil dan menutup matanya dengan kain. Ben tidak menjawab, ia hanya mengecup tangan Dika. Sambil menyetir pun Ben enggan melepas genggaman ini.

Mobil Ben berhenti di depan sebuah rumah yang sudah cukup lama ia beli kredit melalui sebuah bank. Ben menuntun Dika hingga masuk ke ruang tengah yang masih kosong melompong. Hanya ada dinding, langit-langit dan lantai yang serba warna putih.

Dika terkesiap saat kain penutup matanya dibuka. Ben dapat mendengar Dika menarik nafas panjang kemudian tertahan di dada. Kaget bukan main. Dika mengedarkan pandangan penuh takjub. Meninggalkan Ben yang sedang merogoh kantong celana jeansnya. Ingin mengambil kotak cincin yang sudah ia persiapkan. Harapannya ia sudah dalam posisi berlutut saat Dika berbalik badan.

***

            Dika seperti sedang bermimpi. Tahu-tahu dihadapannya terbentang dinding, lantai dan langit-langit serba putih. Kusen pintu dan jendela dicat hitam. Dika mencubit lengannya berkali-kali. Sakit. Berarti rumah ini sungguhan.

            Saat Dika akan berbalik badan, ia mendengar suara erangan. Ia mendapati Ben sedang membungkuk sambil memegangi lutut kanannya. Rasa sakit tergambar jelas dari wajah Ben yang berusaha menutupinya.

            Dika tersentak tak kalah hebat. Setelah terbang melayang-layang seperti mimpi, kini tubuhnya tersedot kembali oleh grafitasi dan terhenyak di muka bumi. Mimpi indah ini sudah berakhir

***

            DAMN!!!

            Rasa nyeri ini datang lagi. Boro-boro berlutut, Ben membungkuk sambil memijat bekas jahitan di tempurung lutut. Kotak cincin terlepas dan jatuh ke lantai. Tanggannya menggantung di udara saat akan mengambil kembali benda kecil itu.

            “Bekas jahitannya masih sakit ya?” tanya Dika. Ben bergidik. Intonasi bicara Dika tidak lagi ceria. Terdengar tenang dan… hampa.

            Ben menegakkan tubuhnya. Sebisa mungkin mengabaikan rasa sakit di kaki. Ia mendapati Dika masih berdiri satu meter di depannya. Wajahnya datar. Bibirnya terkatup. Tatapan matanya… entahlah, Ben tak menemukan secercah emosi apapun di sana.

            “K-k-kamu… kamu sudah…” Ben terbata.

            “Iya. Aku sudah tahu semuanya.” Jawab Dika datar. Mata bulat itu menatap Ben kosong.

Sejurus kemudian diisi dengan hening. Ben berulang kali membuka mulut tapi tak kunjung bicara. Dika menatap kosong seperti boneka manekin. Pikirannya melayang entah kemana.

“Malam itu kamu pulang larut dengan kondisi tidak tidur cukup selama lima hari. Kamu ngantuk sekaligus ingin cepat-cepat sampai rumah…” Dika berhenti sejenak. Menarik nafas dalam-dalam.

”Kecelakaan itu cukup parah. Mobilmu terguling dan trotoar koyak. Lututmu cedera hingga tujuh jahitan. Lima jahitan dalam dan dua jahitan di luar. Kamu izin sakit seminggu di rumah sakit dan seminggu di rumah. Minggu ini harusnya kamu ada jadwal fisioterapi, tapi kamu jarang datang. Seperti biasa, kamu memang keras kepala!”

Marah. Akhitnya Ben menemukan setitik emosi dari sorot mata Dika. Tanpa penekanan, tanpa teriakan histeris, dan tanpa suara bedebam benda di banting. Dika selalu marah dalam tenang.

“Aku tahu semuanya. Sudah jelas, kamu gak akan pernah benar-benar melibatkan aku.” Tuturnya lagi.

Isi kepala Dika memutar ingatan pahitnya ketika teman-teman kantor Ben—yang juga teman Dika—mengabarkan keadaan Ben yang semakin parah. Puncaknya, saat seorang teman SMU yang berprofesi sebagai dokter mengabarkan kecelakaan Ben lengkap dengan seluruh perkembangan medisnya. Sebenarnya Dika tidak mencari, informasi itu datang dengan sendirinya.

Sambil terpincang-pincang, Ben menghampiri Dika. Meremas lembut kedua tangan Dika. “Aku gak mau bikin kamu khawatir. Aku cuma ingin kamu dengar kabarku yang selalu baik. Itu saja.” Sangat hati-hati Ben mengulang alasan yang sama. Dika de javu.

Kecemasan Ben tak berlangsung lama. Bibir mungil yang semula terkatup itu pelan-pelan melengkung. Tersenyum. Tatapan matanya tak lagi marah. Ben tak tahu pasti emosi apa yang sedang terpancar dari wajah Dika, pastinya ekspresi ini jauh lebih baik.

“Kamu pikir, aku khawatir?”

Bagaikan tetesan air di atas rakitan bom. Berdenting dan meledak! Ben terbelalak dibuatnya.

I have obeyed your wish, Ben.” Tetesan air kembali berdenting dan meledak lagi, lebih hebat.

Entah apa yang hancur, tapi Ben rasanya ingin ambruk. Sakitnya bukan lagi di tempurung lutut. Merembet ke seluruh saraf.

Ben tidak ingin percaya dengan apa yang telah ia lihat. Kedua lengan kokohnya mendekap Dika erat. Bibirnya mengecup kening Dika dengan penuh perasaan. Tangannya mengusap punggung Dika dengan lembut. Tapi tubuh ini kaku. Tubuh ini mematung.

Ben mendekap lebih erat lagi. Ben mengutuk dirinya sendiri, tapi percuma. Semua sudah terlambat.

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is melted ice?