Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Diversitas Tanpa Batas

Yes! Finally the day is coming.

Udah lama banget pengen nulis atau sharing seputar menghilangnya aku dari dunia maya dan segenap dunia nyata he-he. Entah kenapa, ada kekuatan Maha Dasyat yang menekan sepuluh jari ini untuk sekedar cerita bagaimana kehidupan aku setahun terakhir ini. Dulu sih panik, tapi sekarang sudah selow. Pasti ada sesuatu yang harus diendapkan terlebih dahulu sebelum akhirnya aku tulis di blog.

Ternyata benar. Layaknya fermentasi, selain mengendap, ia juga mengurai dan melebur kemudian membentuk sebuah formasi baru yang lebih layak disajikan dalam posting kali ini.

Here we go!

Tentang diversitas atau keberagaman.

picture source from Pinterest.com

Mental ini sebenarnya sudah aku dapat dari jamannya Nation Building Beswan Djarum angkatan ke-27 November 2011. Sekitar empat tahun dua bulan yang lalu, aku mau nggak mau harus beradaptasi dengan keberagaman para penerima beasiswa Beswan Djarum yang berasal dari seluruh Indonesia.

Dulu aku takzim bukan main. Selama setahun kedepan rasa takjub itu memudar jadi hal yang biasa. Berinteraksi dengan keberagaman ini bisa aku tangani dengan baik. Bangga, sudah jelas. Aku sudah bertemu dengan keberagaman Indonesia yang… entahlah… lebih hebat dari kata hebat itu sendiri.

Dibalik kebanggaan itu, ada sebuah fakta bahwa diversitas yang aku temui masih berada di range usia yang sama dan intelegensi yang sama (karena kami yang lolos di Beswan Djarum telah melewati proses psikotes yang cukup alot, pastilah ada kesamaan dari setiap individu Beswan itu sendiri).

Februari 2013 aku bergabung di gerakan Kelas Inspirasi Bandung perdana yang waktu itu serentak di 7 kota besar di Indonesia. Disini aku terperangah (lagi). Variasi umur dan latar belakang para relawan yang terlibat bukan main beragam. Dari mahasiswa ingusan seperti aku sampai para profesional seperti Kang Emil (yang saat itu belum menjabat sebagai Wali Kota Bandung), Kang Farhan (yang semua orang tahu siapa beliau), Kang Kiki Gumelar sebagai founder Cochodot, Kang Gilbhas sang stand up comedian dan masih banyak lagi.

Itu baru relawannya, belum lagi anak-anak SD yang aku temui di Hari Inspirasi yang bikin ketawa ngakak, geleng-geleng, terbelalak heran sampai ngelus dada. Aku belajar banyak bahasa anak-anak sejak hari itu. Biasanya paling kesel sama anak kecil yang kerjanya cuma bisa teriak-teriak sama bikin rumah berantakan. Sejak hari itu, semua berubah.

Gak sampai situ aja. Akhir November 2013 aku kembali terlibat di gerakan Kelas Inspirasi Bandung putaran kedua sebagai panitia. Nah! Ini lebih gila lagi. Mahasiswa ingusan ini ditunjuk jadi ketua divisi publikasi. Anggotaku waktu itu juga bukan main mengagetkan. Setengah dari jumlah keseluruhan anggota adalah bapak-bapak, ibu-ibu, akang-teteh yang lebih tua dari aku. Communication skill aku jelas-jelas diuji disini.

Ini berkah Tuhan yang tak ada duanya. Nggak cuma berinteraksi dengan para profesional dan relawan, aku juga harus menjalin komunikasi dengan pihak sekolah mulai dari Kepala Sekolah, Staff Guru, mamang Satpam dan pemeran utama dari setiap sekolah, yak! anak SD.

Kesimpulannya, aku naik kelas. Level diversitas aku meningkat. Nggak cuma budaya dan latar belakang, tapi juga usia. Tapi lagi-lagi ini belum diversitas yang sebenarnya. Kenapa? Karena sebagian dari kami masih berada di tingkat intelegensi yang rata-rata sama.

Dari segi pendidikan, para relawan adalah orang-orang terdidik yang terketuk hatinya untuk terlibat sebagai relawan di bidang pendidikan. Dari segi pola pikir juga aku merasa dipermudah karena kami punya visi, cita-cita dan tujuan yang sama. Proses pendewasaan diri ini rasanya belum menemukan kesulitan yang berarti. Belum…

Jadi? Jadi, intinya masih ada keberagaman yang lebih besar di luar sana. Yang belum aku temui.

Hingga saat itu tiba

Setelah sebelas bulan menganggur, aku diterima di sebuah perusahaan pengelolah kawasan resort di Bintan Lagoi, Kepulauan Riau.

Ini juga merupakan keputusan hidup yang besar dengan menantang diri sendiri untuk bekerja disana. Ini pengalaman kerja pertama dan di tempat yang entah bagaimana bentuk fisiknya. Aku nggak pernah punya pikiran untuk menginjak Kepulauan Riau.

Nah! Disini pengetahuan aku tentang diversitas kembali diuji.

Begitu pesawat landing di Bandar Udara International Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang, aku seperti lompat ke pemandangan tahun 90an. Maksudku, secara infrastruktur, Kota Tanjung Pinang ini seperti wajah Balikpapan jaman aku kecil dulu.

Dari sini bulu kudukku merinding. Betapa pertumbuhan dan pembangunan disini jauh berbeda dari kota-kota yang pernah aku kunjungi. Ah iya! Seperti di Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Tanjung Pinang mirip-mirip sama Labuan Bajo waktu aku bertandang ke sana akhir tahun 2012.

Dari informasi yang aku dapat di internet, Pulau Bintan ini terkenal di manca negara tapi nggak untuk masyarakat Indonesia. Orang-orang tahunya Batam. Padahal ibu kota Kepulauan Riau ada di Pulau Bintan, yaitu Tanjun Pinang. Kalau terkenal sebagai kawasan resort, kenapa yang aku lihat justru seperti ini. Yak! Salahku juga, begitu dengar kawasan wisata, pikiran aku sontak membayangkan Pulau Bali. Nope! Bintan nggak bisa disamakan dengan Bali.

Perjalanan dari Bandara Tanjung Pinang menuju kawasan resort, Lagoi. Satu jam dari Tanjung Pinang. Aku sama papa sibuk bisik-bisik di mobil.

“Mirip Balikpapan ya, pa. Tanahnya merah,” kataku sambil lirik-lirik pemandangan dari luar jendela.

“Iya. Nih deretan rumah di pinggir jalan, mirip rumah-rumah di kilometer 20.” Papa nunjuk deretan rumah yang masih berjauhan. Aku manggut-manggut, memang mirip.

Sampailah di pintu gerbang masuk menuju kawasan Bintan Beach International Resorts dan dari sinilah semua keterkejutan bermula hingga satu tahun aku bekerja disana.

Ffiiuuhh…

Saking kagetnya, kalian tahu, aku sampai stress. Bukan main! Hampir sebulan sekali asam lambungku naik. Jerawatku tak terkendali lagi. Disamping karena ada alergi sama kandungan kaporit berlebih dari water supply disana, cuaca yang super panas juga cukup berpengaruh. Kulit muka bakal gatel-gatel kalo kena panas langsung. Ditambah lagi aku 80% keluyuran dari restoran ke restoran untuk hygiene audit. Diperparah dengan kantor yang nggak pake AC. Ulala~ perfecto!

Gak terhitung berapa kali aku migrain karena over thinking. Pemurung karena meratapi nasibku hingga satu tahun kedepan. Nafsu makan gak terkendali karena pelarian dari stress itu sendiri. Dan aku nggak bisa nulis saat itu. Damn! Aku bingung harus dilampiaskan kemana kekacauan otak ini?!?!?! Sinyal susah. Gak ada wifi, wohooooo… Gak ada mall. Gak ada bioskop. Gak ada angkot.

Aku ditempatkan di posisi yang bener-bener menguji segala potensi yang aku punya. Bayangkan, aku dapet atasan originally Singaporean yang sudah belasan tahun di Indonesia tapi gak paham-paham Bahasa Indonesia.

-Dari sini teman-teman bisa simpulkan sendiri bagaimana tingkat intelegensinya ya-

Katakanlah bilingual communication skill aku diuji abis-abisan. You know, guys, Singapore-English itu menurut aku aneh. Menyalahi aturan grammar yang selama ini aku pelajari. Miss-communication sama si boss hampir setiap hari. Rasanya kayak dijajah sama tetangga sebelah.

Itu baru dari segi bahasa. Masih banyak lagi “keajaiban” yang ada pada diri si boss yang menantang nalar ini untuk tetap berpikir rasional. Sampai-sampai aku punya ide untuk ngasih tes IQ ke si boss waktu itu. Saking takjub dan herannya.

Aku berada di tempat kerja yang nggak repot-repot kalau urusan ganti logo perusahaan. Tinggal ganti, beres. Padahal di tempat lain, urusan logo perusahaan bisa sampai sikut-sikutan atau malah bunuh-bunuhan. Logo perusahaan kan sakral, tapi disana belum se’sakral‘ itu.

Aku berada di tempat kerja yang didominasi oleh orang-orang lama yang telah nyaman di posisinya masing-masing. Enggan bergerak maju, enggak berubah, enggan belajar hal baru. Amat enggan. Inilah sebab musabab kenapa aku merasa disedot mundur ke tahun 90an. Aku dipaksa untuk mundur. Dan ini mustahil. No! Aku patang mundur.

Aku berada di tempat kerja yang mengharuskan aku jadi serba bisa tanpa harus dibayar lebih. Kalau bisa terbang malah lebih bagus, jadi nggak perlu pakai kendaraan kantor. Bahkan untuk kebutuhan operasional, aku request kendaraan sampai ke GM. Bukannya itu hak aku sebagai karyawan? Toh ini juga demi pekerjaan aku.

Ya itu dia, nalarku diuji untuk tetap berpikir rasional ketika semua terasa terbalik. Bener kata Ariel, “Kaki di kepala~ Kepala di kaki~ Jeng… jeng…”

Dengan tingkat stress yang sudah sampai merambah ke kesehatan fisik, aku tetap harus bertahan sampai satu tahun masa kontrak kerja. Dan itu rasanya sudah diujung antara hidup dan mati.

Jadi begini rasanya berkorespondensi dengan lingkungan berintelegensi yang… yaahhh katakanlah ‘berbeda’ dengan orang-orang yang terbiasa dengan perubahan yang serba cepat. Intelegensi orang-orang yang telah nyaman dengan zonanya dan enggan menanggapi perubahan di luar sana.

Satu tahun berlalu, sekarang aku sudah kembali pulang ke Balikpapan.

Aku merasa kalah. Aku payah. Aku gak sanggup menghadapi tingkat diversitas yang satu ini. Rasanya ingin pasang bendera putih di atas ubun-ubun. Nggak sanggup. Yang bisa aku lakukan adalah menunggu hingga masa kontrak habis. Aku sempat optimis dan berusaha mengubah keadaan dengan membuat inovasi-inovasi di tempat kerja, tapi semua nihil. Bossku yang “luar biasa” itu selalu merespon dengan jargon andalannya, “Cannot lah!”, “No need lah”, “You must go deeper and detail”, “Your hygiene standard is too low”, dan masih banyak lagi.

Optimisku resmi patah. Kandas!

Sepulangnya aku ke Balikpapan, aku baru sadar, ternyata orang-orang berintelegensi “penyuka zona nyaman” itu stoknya banyak banget di kota kelahiranku sendiri. Dimana-mana. Aku merinding lagi.

Kelak, diversitas apa lagi yang akan aku hadapi di tempat kerja berikutnya?

Category: Uncategorized
  • hendra says:

    Apapun bisa dihadapi, yang penting jangan TERJEBAK atas nama apapun termasuk diversitas….hahahaha

    Salam,

    hendra

    February 12, 2016 at 2:56 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 9 * 7?