Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Panggung

Entah aku cukup berkapasitas untuk membicarakan hal ini atau tidak. Pantas atau tidak.

Intinya aku resah dan butuh menulis. Itu saja.

Bila ternyata ada yang tidak berkenan, silahkan tinggalkan komentar atau bisa hubungi aku via email yang tertera dalam widgets blog ini. Yang jelas aku paling tidak suka berdebat. Beradu pengetahuan sampai beradu kedudukan siapa yang paling tinggi. Berani taruhan! Yang merespon sinis pastilah orang-orang yang merasa tersindir dan ingin membela diri.

Sudah ya… Pembelaan diri tak berlaku untuk aku.

Baiklah, aku mau cerita dulu.

Aku kenal istilah relawan atau volunteer saat aku merantau dan kuliah di Bandung. Kerelawanan aku yang pertama saat bergabung di paduan suara kampus Jinggaswara.

Kenapa? aku suka bernyanyi. Aku bahagia setiap kali bernyanyi bersama-sama. So simple.

Jangan tanya soal kerelawanan aku. Demi bisa merasakan kebahagiaan setiap kali bernyanyi dan berekspresi di setiap nada, sebisa mungkin aku selalu sempatan waktu untuk latihan. Pagi, siang, sore, malam, kapanpun dan dimanapun.

Kemudian betah karena nyaman. Ada kekeluargaan dan toleransi yang amat kental dan hangat disana.

Banyak pilihan kegiatan kemahasiswaan kala itu, tapi aku pilih paduan suara yang saat itu belum populer. Prestasi belum banyak. Kenapa? Karena aku suka bernyanyi, titik! Tak peduli unit lain lebih keren atau terkenal. Hatiku tidak disana.

Memasuki tahun-tahun terakhir aku dipertemukan oleh sebuah komunitas yang bergerak di bidang pendidikan. Indonesia Mengajar. Dedikasi yang menakjubkan demi pendidikan Indonesia yang jauh dari jangkauan sentralisasi. Aku tertarik, tapi belum cukup bernyali. Satu tahun, bagiku itu bukan waktu yang main-main.

Aku adalah korban dari progam-program percobaan Departemen Pendidikan waktu jaman sekolah dulu. Tentulah aku tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang protes dan pesimis terhadap sistem pendidikan di negeri ini. Alangkah baiknya bila aku bisa bertindak. Jauh lebih terhormat ketimbang mencela dan diam ditempat. Cuma mulut yang bergerak, tubuh tak turut turun tangan.

Tapi aku tak cukup nyali untuk terjun ke pelosok.

Kemudian aku mendengar sebuah gerakan yang masih berbasis di sektor pendidikan namun berlokasi di ibu kota. Aku merasa punya kesempatan. Tapi sekali lagi kandas. Salah satu syarat untuk terlibat haruslah profesional yang minimal sudah dua tahun mengemban sebuah profesi. Apalah aku, mahasiswa yang berkutat di laboratorium LIPI Bandung untuk penelitian skripsi.

Melalui seorang teman, kabar baik itu datang. Aku tetap bisa terlibat dalam gerakan tersebut sebagai dokumentator. Tidak ada syarat tentang profesional atau batasan umur. Jadilah aku mendaftar untuk menjadi relawan fotografer berbekal kamera saku.

Aku belum berkapasitas untuk menjadi inspirator, tapi langkahku bisa dimulai dari dokumentator. Mengabadikan momen inspiratif tersebut. Jadi saksi hidup.

Dan aku resmi terinspirasi.

Berjalan dengan waktu, kesempatan kembali datang untuk menjadi panitia Kelas Inspirasi. Aku kembali maju-mundur (nggak pake cantik). Penelitian skripsiku telah memasuki tahap hasil.

“Skripsi itu dikerjain, bukan dipikirin!” Seru seorang teman. Kalimatnya memecut dan membakar semangat. Terima kasih, kawan.

Jangan tanya bagaimana kerelawanan saya saat itu. Menjadi panitia dan menjalani skripsi. Hari inspirasi dan hari wisudaku saat itu hanya berselang tiga hari.

Alhamdulillah semua bisa dilewati dengan sangat baik. Skripsiku lulus dengan nilai sempurna “A”, dan hari inspirasi berjalan dengan amat membahagiakan. Bahagia tak terhingga bisa mengajak orang-orang hebat untuk rehat sebentar dari rutinitas dan menawarkan sebuah kehormatan untuk kembali main ke sekolah.

Waktu terus berjalan. Aku sudah mulai bekerja tapi dedikasiku belum padam. Walau terbentang jarak dan waktuku yang mulai terbatas, yang namanya rela pasti selalu ada jalan untuk terus bergerak demi pendidikan Indonesia. Bahkan dari langkah terkecil sekalipun.

Kenapa? Kenapa aku bersedia melakukan ini semua?

Karena aku mau dan bahagia. So simple.

Bagaimana dengan komunitas lain yang juga punya gerakan-gerakan positif untuk lingkungan sekitarnya?

Aku tidak peduli! Hatiku sudah disini!

Tapi belakangan hatiku risau. Gerakan-gerakan seperti ini sudah mulai banyak yang tahu. Semula aku senang, berarti banyak orang baik yang mau berbagi di tanah air ini. Tapi setelah itu aku muram.

Kenapa?

Tak sedikit yang memanfaatkan momen kepopuleran gerakan berbasis relawan ini untuk panggungnya meraih ‘lampu sorot’. Agar dilihat. Agar terlihat. Agar eksis. Dan masih banyak lagi ‘agar-agar’ yang lain.

Tidak usah melirik orang lain. Tidak perlu menuduh. Tidak usah cari kambing hitam. Berkaca dan lihatlah diri kita sendiri.

Sudah ikhlaskah berbagi? Sudah tuluskah memberi? Pamrihkan atas segala yang telah dilewati? Menyesalkah kita di kemudian hari?

Aku masih berharap, masih banyak orang-orang baik berhati mulia yang memang tulus mengisi kekosongan sektor pendidikan di muka tanah air ini.

Aku risau tapi masih optimis.

Siapa yang merasa tersindir? Siapa yang merasa dilecehkan melalui tulisan ini? Saya tunggu Anda. Mari kita luruskan persepsi ini dengan kepala dingin.

Salam Inspirasi!

Category: Uncategorized
  • yusna says:

    keresahan yang sama,terima kasih sudah menuliskannya ayu.jd semacam self reminder juga,jangan-jangan aku juga udah melakukan hal yang sama :)

    February 28, 2016 at 9:18 pm
  • ayu emiliandini says:

    self reminding for me too, mbak…

    March 8, 2016 at 8:00 am

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What color is fresh snow?