Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Sudah Waktunya

Mia meraih ponsel pintarnya. Jenuh dengan pekerjaan yang serupa siklus, tidak ada henti-hentinya. Kemudian telunjuk berhenti menyentuh layar. Matanya tertuju lurus pada sebuah nama dan foto kecil di sisinya. Ini selalu terjadi setiap kali ia membuka aplikasi chatting tersebut. Berulang kali tertegun. Berulang kali mengerjap. Berulang kali terjun ke kolam penuh memori indah dan menenggelamkan diri disana. Begitu menyentuh dasar realitas, ia menyembul dari kolam dan berenang ketepi.

Dan disitulah ia berada saat ini. Berdiri tegak dengan masa lalu di belakang punggungnya. Dulu ia terjerembab tak sanggup berdiri. Berjalannya waktu, ia berhasil berdiri dengan bantuan tongkat yang ia temukan di sekitar tempatnya bersuaka. Kemudian ia berhasil berdiri tertatih dan gemetar tanpa bantuan tongkat itu lagi. Saat ini Mia sudah berdiri tegak. Kokoh menantang dunia.

Tanpa ada seorangpun yang tahu bahwa hatinya masih ambruk berkeping-keping. Khusus untuk yang satu itu, Mia tidak tahu caranya memperbaiki. Yang dilakukannya hanyalah mencoba percaya dengan takdir. Menerima dan pasrah. Yang ia takutkan akan datang sesuai dengan waktunya. Bahkan lebih dari itu.

Telunjuk Mia membelai foto kecil tersebut. Foto yang sejak beberapa bulan lalu tidak lagi berisi satu wajah–yang amat Mia rindukan, tentunya, melainkan dua. Dan dua-duanya sedang tertawa bahagia.

Gemuruh di hatinya ingin protes, tapi cukup dengan satu tarikan nafas, ia menjinak dan kembali tunduk dengan takdir. Selalu ini yang Mia lakukan terhadap hatinya yang hancur lebur tak bertubuh. Sebagai pengingat, takdir berkuasa atas segalanya.

Oh! Takdir punya asisten pribadi yang sangat setia, yakhi: waktu.

Dulu wajah kedua itu adalah wajahnya. Tertawa bahagia dan sah-sah saja menyatakan rindu bila sedang dipisahkan oleh ruang dan waktu. Dulu segalanya terasa wajar dan benar saat bersama dan mengarungi dunia bersama. Hingga ruang merenggang, fisik mereka semakin jauh. Hingga waktu merenggang, rasa kehilangan mulai merayapi dinding hatinya yang sudah muram duluan.

Silih berganti banyak yang datang dan pergi, Mia terlajur cinta atau memang pria itu adalah cinta mati dan cinta pertamanya. Bersama orang lain, rasanya tidak pernah sesuai. Tidak pernah benar. Tidak pernah pas. Tidak akan pernah lagi sama. Ia sendiri walau orang lain melihatnya berdua, bertiga, bersama-sama di tengah keramaian.

Mia merasakan matanya perih. Ia menanggalkan ponselnya di meja. Tangannya bertemu dengan sebuah buku novel yang seminggu lalu datang bersama pak pos. Proofread telah ia rampungkan hanya dalam hitungan jam. Isi tulisannya masih sama, bahkan makin bermakna. Ia sedih, muram dan tertawa membaca tulisannya sendiri. Betapa upayanya untuk menghibur diri sendiri sudah cukup berhasil.

Mia memutar kursinya. Mengetik sebuah laman website di keyboard. Di layar muncul sebuah web. Mia kembali mengetik sesuatu di dalam kolom kecil bertuliskan ‘search‘. Kelingkingnya menekan enter. Dengan kecepatan internet kantor, layar tersebut cepat berubah.

Sebuah kolom dalam website menampilkan sebuah sampul buku bernuansa biru dan abu-abu. Sama persis seperti sampul novel yang saat ini sudah seminggu bercokol di mejanya. Membuatnya menangis, tertawa dan berdeham lagi dan lagi.

Buku perdananya sudah terbit dan dapat dipesan melalui website penerbit ini. Mia menghela nafas lega. Hatinya masih ambruk tapi rasanya tidak lagi pilu. Sebuah gagasan dalam kepalanya berkata, “Sudah waktunya, Mia. Sudah tiba saatnya…”

Mia menarik nafas dalam-dalam kemudian meraih pulpen. Tangan yang lain membuka sampul buku tersebut dan ia mulai menulis di halaman pertama.

Untukmu Dewa,

Dulu kamu bernah bekelakar soal rindu.

“Mampus kau dihujam rindu,” tuturmu sambil mengetiknya di memo ponselku.

Ya, aku memang dihujam habis-habisan sampai mau mati rasanya. Sempat mati putus asa kemudian aku memutuskan untuk hidup lagi.

Kenapa? Karena aku memang harus hidup.

Hujaman rindu ini aku olah dan jadilah sebuah karya yang membawaku merampungkannya dalam buku ini. Jadi jangan kaget bila isinya hanya tentangmu. Hebatkan? Aku mampus dan optimis bersamaan.

Dewa, buku ini untukmu. Untuk melepasmu secara utuh. Dan lagi, kamu berhak dan memang sudah saatnya bahagia. Kebahagiaanku ketika kau membagikan bebanmu padaku dulu. Tapi kebahagiaanmu bukan lagi hakku. Tenang, aku punya ribuan cara untuk mengisi bagian kosong ini.

Dewa, jangan lupa bernafas.

Selesai.

Ajaib! Bahunya ringan. Nafasnya ringan. Bibirnya melengkung ringan. Rasanya beban seumur hidup menguap begitu saja. Pikirannya jernih.

Mia bahagia. Tiba-tiba dan begitu saja…

Gadis dengan sepulas senyum tipis itu meraih ampol cokelat. Menenggelamkan buku yang telah ia selipkan surat pamit lengkap dengan tanda tangan ke dalam amplop. Menuliskan alamat yang amat ia hapal.

Amplop tersebut telah duduk manis di sudut meja kerja. Jauh di depannya, Mia kembali memusatkan perhatian pada tumpukan berkas di sisi komputer. Ia telah menemukan kembali tenaganya untuk melanjutkan hari. Hari ini. Besok. Lusa. Minggu depan. Bulan depan…

“Selamanya. Amin…” doanya dalam hati.

Category: Bilik Kecil

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 4 times 8?