Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Jatuh Cinta #1

Ini sungguh diluar dugaan. Perjalanan yang semula amatlah menyenangkan sampai lupa waktu dan lupa order tiket travel menuju Bandung, sekarang seperti kunjungan menuju… entah, kepala Mika tak sanggup menemukan perumpamaan yang sepadan.

Jalan ini tak lagi seramai jalan-jalan protokol di tengah kota. “Ini sudah masuk daerah Cinere. Sebentar lagi kita sampai, kamu jangan laper dulu ya he-he,” dia di balik kemudi bicara tanpa menoleh. Mika yang melirik seadanya dan ikut tersenyum samar.

Namanya Baskara, dari awal ia hanya ingin dipanggil Abas. Mika menyandarkan kepala di sandaran kursi dan tersenyum lagi mengingat kesan pertama pertemuan mereka. Mika bukan main malu waktu itu. Kaos polos putihnya jadi bernoda cokelat gara-gara seorang remaja terpesona ketika rombongan pilot dan pramugari melintas. Ia berjalan sambil terperangah dan menabrak Mika yang sedang merunduk mengikat sepatu. Begitu Mika berdiri, buk! bahu mereka saling beradu, segelas kopi panas dari vending machine tumpah. Mika sontak mundur selangkah dan memekik kaget, kopi itu mengguyur tangannya.

“Kalau jalan lihat-lihat dong! Kopi saya tumpah semua!” Mika yang mengibas-kibas tangannya yang kepanasan sontak melotot heran. Dia yang menabrak, kenapa jadi dia pula yang marah. Sedetik kemudian Mika sadar bahwa itu hanya trik. Gadis itu melirik ke satu titik di belakang Mika kemudian marah-marah lagi dengan volume suara yang lebih keras. Mika memutar bola matanya dan berlalu menuju toilet, tak mengindahkan gadis remaja yang masih berteriak-teriak di balik punggungnya.

Dasar anak alay! Umpat Mika kesal sambil mencoba menyeka noda kopi dengan tisu basah. Lumayan bisa hilang sedikit, tapi baunya belum. Mika mengernyitkan hidung, dia tidak suka kopi. Sama seperti durian, baunya aneh. Gara-gara ini pula Mika digoblok-goblokin oleh teman-temannya karena Mika menghindari salah dua dari jenis surga dunia.

“Dul, pinjem jaket lu dong,” Sebelum Bedul memberikan jaket yang terlampir di puncak tas gunungnya setelah Mika kembali ke ruang tunggu, hidungnya mengendus-endus dan menemukan sebuah bekas noda di kaos Mika.

“Sejak kapan lu minum kopi, Ka?” Bedul malah balik bertanya. Mika jadi harus mengingat-ingat kejadian memalukan tadi. Suara remaja sableng itu sudah ngalah-ngalahin toak. Jangankan rombongan pilot, semua orang dalam jarak radius 10 meter menghujani Mika dengan tatapan heran campur kesal karena terganggu. Mulut Bedul membulat lebar begitu Mika menceritakan kejadian tadi dengan sesingkat-singkatnya.

Mika, Bedul dan empat orang lagi yang duduk saling berhadapan di ruang tunggu adalah para pemenang kompetisi blog tingkat nasional yang baru pulang liburan dari Kepulauan Komodo dengan kulit hangus. Bahkan tanpa harus ditumpahi kopi, Mika dan kelompok kecilnya ini sudah menarik perhatian banyak orang selama mengarungi Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Bule dengan kulit merah terbakar, itu sudah biasa, tapi kalau pribumi yang hangus bagai areng ini nampak kurang kerjaan saja.

Singkat cerita, Mika dan teman-teman terbang ke Semarang dengan penerbangan pagi untuk menghadiri sebuah perhelatan dimana mereka akan menerima hadiah simbolis sebagai pemenang kompetisi blog. Aneh memang, hadiahnya sudah dicicipi, simbolisnya baru menyusul.

Mika menarik resleting jaketnya hingga dagu dengan harapan bau kopi tidak akan menggelitik cuping hidung selama perjalanan menuju Semarang.

***

Acara perhelatan sponsor berjalan dengan baik. Mika dan teman-teman pulang ke hotel tepat waktu. Sebelum ia mengantuk, Mika berkemas-kemas, karena besok akan terbang ke Jakarta pagi-pagi, penerbangan pertama.

Telpon kamar berdering. “Ka, jaket gue masih di elu ya?” Mika sontak menepuk jidatnya begitu teringat dengan jaket dan kaosnya yang masih di laundry. Mika menelpon resepsionis begitu tahu bajunya belum juga datang. Mika berdecak kesal, telpon tidak bisa tersambung. Dengan langkah menghentak-hentak Mika keluar kamar dan meluncur ke lantai dasar.

***

“Sebentar kami cek ke bagian laundry ya, dek. Harusnya sudah selesai dari tadi sore,” ujar seorang front office sebelum melanjutkan pembicaraan dengan telpon yang tersambung ke bagian laundry. Mika memutar bola matanya. Dek? Yang benar saja? Celetuknya dalam hati.

“Permisi. Ini kartunya macet, pintu kamarnya nggak mau terbuka,” Mika tidak akan menoleh andai saja suara itu tidak terdengar berat sekaligus ringan di telinga Mika. Sebuah kombinasi yang membingungkan. Suara itu sebenarnya sedang protes tapi staff resepsionis tersebut justru tersenyum ramah dengan mata berkilat senang. “Tolong cepat sedikit,” suara itu kembali berbunyi ketus tapi empuk di saat yang bersamaan. Sungguh Mika tidak tahan untuk tidak menoleh.

Dengan gerakan kikuk, Mika menoleh. Seperempat detik pertama, matanya melebar sedikit, sadar akan sikapnya yang bisa jadi memalukan bila pria tinggi tegap itu tahu-tahu menoleh, Mika kembali menatap kemana saja asal jangan ke samping kiri.

Dua menit kemudian seorang staff hotel membawa sebungkus plastik transparan berisi kaos dan jaket abu-abu kusam terlipat rapih dan licin. Mika menghela napas lega dan terkesiap, sejak tadi napasnya tertahan? Mika menemukan dirinya terbelah dua, antara ingin cepat-cepat kembali ke kamar karena saat ini ia mengenakan kaos oblong, celana panjang tidur motif batik dan sandal hotel, tapi setengah tubuh yang lain ingin tetap tinggal untuk mendengar pria ini bersuara lagi.

Dengan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, Mika menangkis gagasan kedua dan beringsut mendekati lift.

Tepat saat pintu lift akan menutup, suara derap langkah terdengar mendekat dan sosok tinggi tegap itu beringsut masuk ke dalam lift. Semula ia hendak menekan tombol angka lantai tujuan, tapi tahu-tahu jarinya berhenti begitu tahu angka yang hendak ditekan telah menyala lampunya. Mika termenung begitu menemukan jantungnya berdetak lebih kuat dari biasanya. Sangking kencangnya, Mika sampai bisa merasakan denyutnya dari balik bungkusan plastik yang ia dekap di depan dada.

Mika ingin menampik reaksi aneh tubuhnya, jadilah ia sok sibuk membuka bungkus plastik dan mengundus-endus kaosnya. “Hhhmm… masih bau kopi!” Gumamnya pelan. Tercium samar karena tertutup wewangian detergen dan pelembut pakaian, tapi di hidung Mika, jejak kopi itu masih ada.

“Laundry nya wangi kopi? Keren!” Pria itu berseru dengan suara khasnya yang sejak awal telah menarik perhatian Mika. Mika sontak menoleh dan wajah mereka bertemu. Dua hal yang langsung nemplok di ingatan Mika, dia punya dua mata yang bulat dan lebar serta senyum samar yang menyenangkan.

“Kemarin bajuku ketumpahan kopi di bandara. Begitu sampai hotel, langsung aku laundry, tapi baunya masih tersisa,” pria tersebut tidak bertanya tentang riwayat kaos Mika, tapi entah mengapa justru kalimat ini yang keluar dari mulutnya, lengkap dengan ekspresi mengernyitkan hidung.

Ting! Pintu lift membuka. Semula Mika mengira ia akan bernapas lega bila pria berpostur gagah dengan seragam yang masih terlihat rapi walau ini sudah jam 10 malam ini akan mengambil jalan yang berbeda. Ternyata dia juga berbelok ke kiri. Lorong yang sama dengan kamar Mika.

“Sayang sekali kamu enggak suka kopi. Kalau saya paling benci bau durian,” tuturnya santai seraya menelusuri lorong. Mata Mika membulat tanda bahwa ia setuju sekali dengan ungkapan pria tersebut.

“Durian itu seperti bau kentut. Enggak paham kenapa orang-orang pada suka,” lanjut Mika dengan dahi berkerut samar.

“Itu sebabnya aku jadi pilot. Enggak akan mungkin ada bau durian di dalam kabin pesawat he-he,” sahutnya sambil mengekeh ringan. Mika juga sama, tertawa kecil, tentu saja tidak diperbolehkan ada bau menyengat di dalam pesawat.

“Sebentar! Kamu yang di Bandara Ngurah Rai itu kan? Yang ketumpahan kopi?” Napas Mika tertahan lagi. Oh asgata! Dia ada di salah satu rombongan pilot dan pramugari itu! Tak tahu harus bagaimana lagi agar bisa bersikap normal, Mika cuma bisa nyengir asem-asem manis.

“Anak ABG itu memang sukses bikin saya malu. Tapi minimal, koper saya terbebas dari bau kopi untuk perjalanan besok pagi,” Ujar Mika. Jelas tidak ada korelasi antara kalimat pertama dengan kedua, tapi toh pilot tersebut tidak menyadarinya. Semoga betulan tidak.

“Besok pagi kamu check out?” Tanya pria tersebut begitu Mika telah sampai di depan pintu kamarnya.

“Besok subuh,” ralat Mika. “Besok penerbangan pertama tujuan Surabaya,” imbuh Mika.

“Pakai maskapai apa?” Tanyanya lagi. Mika menyebutkan nama sebuah maskapai penerbangan dan pria tersebut mengangguk.

“Jadi kamu tinggal di Surabaya”

“Balikpapan, dari sini nanti transit di Surabaya dulu baru lanjut Balikpapan,” jawab Mika singkat.

Setelah itu kecanggungan mengisi diantara mereka.

Alright, see you next time. Kamarku disini,” pria itu kembali bersuara sambil menunjuk pintu di depannya.

Okay, see ya. Kamar ku disini,” Mika menunjuk pintu di hadapannya. Sontak dua orang asik tersebut tergelak.

“Saya pikir kamu nganterin saya sampai pintu dan nungguin saya sampai masuk ke dalam,” kata pria tersebut di sela-sela tawanya.

“Saya pikir kamu juga begitu,” sungguh ini kejadian menggelikan yang lebih baik dari pada ketumpahan kopi di bandara dan diteriaki anak ABG.

“Baskara, panggil saja Abas,” pria itu mengulurkan tangannya ke arah Mika. Mika balas menyebutkan namanya. Malam itu mereka sama-sama menghilang di balik pintu kamar yang saling berhadapan.

***

Keesokan paginya, Mika tidak bertemu dengan Abas. Pintu kamar di seberang kamarnya tertutup ketika Mika keluar dan tidak ada pemandangan pria berseragam putih dan jas biru gelap di restoran. Ternyata sejak semalam, Mika nyaris tidak bisa tidur karena menyangkan akan bertemu lagi dengan pilot bermata belok itu.

“Maaf, dengan mbak Mika?”

“Ya? Saya,” Mika terkesiap ketika seorang staf hotel memanggil namanya ketika hendak menaiki mobil hotel yang akan mengantarnya ke Bandara Ahmad Yani.

“Ada pesan untuk Anda,” staf tersebut menyerahkan secarik kertas dan langsung pamit undur diri. Merasa tak pernah punya urusan dengan siapapun di hotel, Mika membuka kertas lipatan tersebut tanpa ekspektasi apapun.

Berkali-kali saya transit di Balikpapan tapi belum juga kesampaian nyoba seafood yang kata orang-orang enak banget itu. -Baskara. Panggil Abas saja-

Di bawa kalimat tersebut tertera deret angka nomor handphone. Jangan tanya bagaimana senangnya Mika. Begitu tahu ini pesan dari Abas, suara pria tersebut terngiang di telinga ketika Mika membaca ulang kalimat tersebut. Perjalanan Semarang – Balikpapan memakan waktu 6 jam karena harus transit sekian jam di Surabaya, namun seharian itu sama sekali tak terasa berat.

Mika menyelipkan kertas itu di dalam dompetnya, takut hilang. Jangan sampai hilang!

bersambung

Category: Serpihan Kaca

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Before you post, please prove you are sentient.

What is 5 times 3?