Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Jatuh Cinta #1

Ini sungguh diluar dugaan. Perjalanan yang semula amatlah menyenangkan sampai lupa waktu dan lupa order tiket travel menuju Bandung, sekarang seperti kunjungan menuju… entah, kepala Mika tak sanggup menemukan perumpamaan yang sepadan.

Jalan ini tak lagi seramai jalan-jalan protokol di tengah kota. “Ini sudah masuk daerah Cinere. Sebentar lagi kita sampai, kamu jangan laper dulu ya he-he,” dia di balik kemudi bicara tanpa menoleh. Mika yang melirik seadanya dan ikut tersenyum samar. Continue reading

Kosong

Belakangan Dira banyak diam. Mengunci diri di dalam kamar. Dulu dia tidak begitu. Dulu wajahnya penuh tawa. Ucapannya penuh kelakar yang menghangatkan banyak hati. Sepasang mata yang menyipit setiap kali terbahak dengan candaan yang ia buat sendiri. Yang lain tidak ikut tertawa, Dira tidak peduli. Selama itu lucu, dia tertawa. Continue reading

Myle #1

Suasana sudah mulai gelap. Tubuh mungilnya di tengah-tengah lautan manusia. Walau begitu, ia masih bisa melihat sekelompok band di atas panggung. Sudah dimulai, batinnya. Seorang vocalist mulai memegang mic. Satu-satunya lampu sorot tertuju pada sang diva. Diva pada pertunjukan malam itu. Orang-orang disekitarnya turut membuka mulut, sama persis seperti sang vocalist. A… i… u… e… o… Bukaan mulut mereka sama. Semua orang ikut bernyanyi, batinnya lagi. Ya, satu graha sedang berdendang. Sesuai tebakannya. Continue reading

Realistis

Tangan kurusnya tadi lembab. Menahan keringat dingin. Ia remas sekuat tenaga supaya jangan sampai kram. Sepucuk amplop merah gelap meminta disambut. Tergeletak di atas meja ruang tamu. Kisar diam mematung. Duduk termangu di sofa. Memijat-mijat kedua telapak tangan. Hanya ditatap dengan segenap tenaga yang tersisa. Nafas yang tersisa. Tubuh yang tersisa. Kepala yang tersisa. Continue reading

Kanya, aku Kaca

Bukan hadir karena pertemuan cinta dan kasih yang saling melengkapi. Ia diciptakan karena memang banyak yang butuh. Hari-harinya tertanam bersama komponen selubung bangunan. Setiap atom tubuhnya sudah direncanakan sedemikian rupa. Sesuai dengan kebutuhan. Sesuai dengan takdirnya. Ketebalan tertentu agar sanggup berhadapan dengan ganasnya atmosfer ibu kota. Agar enggan rubuh waktu angin riuh akibat perubahan tekanan udara. Dia dirancang untuk itu semua. Continue reading