Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pergi #7

Hari-hari di kantor bergulir dengan semestinya. Sebulan dua kali rapat umum bersama HSE Department. Lebih sering melintasi jendela-jendela besar berisi wajah Jakarta dari berbagai tingkat lantai. Kemana matanya tertuju, disitulah Jakarta berada. Namun untuk seminggu kedepan ia harus melakukan inspeksi Behavior Based Safety Program di salah satu site milik mitra perusahaan. Delta Mahakam di pesisir Kutai Kartanegara. Meninggalkan Jakarta sebentar. Continue reading

Pergi #3

Dia tidak berhenti diam. Thomas melirik. Memastikan Prisa masih disana. Memang masih disana, tubuhnya, Thomas bisa pastikan ruhnya tertinggal jauh di belakang. Memanggil namanya, hanya akan membuat tubuh tanpa ruh ini ambruk. Hingga akhirnya sebulir air mata terbit. Tangan Prisa menyeka lemas. Thomas bergerak cepat, menyodorkan sebungkus tissue utuh. Masih tersegel. Tissue di tangan Prisa sudah lama kumal. Dari tadi hanya digenggam bercampur keringan dingin. Prisa menyambut tanpa menatap Thomas. Mengeluarkan selembar dan ia sapukan ke wajah. Continue reading

Pergi #2

Ia ingin membunuh sepi. Sepatah-dua patah ia ucap agar mendapat sambutan hangat. Alih-alih didengar, kadang Prisa harus mengulangnya dua kali barulah sambutannya berbalas. Tapi balasannya dingin. Prisa sudah membeku di tempat sejak awal. Edgar bisa dibilang mengabaikannya. Perhatiannya hanya pada layar ponsel lalu berganti dengan segelas jus strawberry kesukaannya kemudian berpaling lagi pada ponsel. Continue reading

Pergi #1

Rak buku setinggi dua meter tempatnya menyimpan buku-buku kesayangan tidak lagi penuh buku. Sejauh ini masih seperempat buku yang berhasil ia pilah sesuai dengan kategori hatinya. Ini hhmm tinggal saja. Oh yang ini harus dibawa. Buku yang tak lagi menarik ia masukkan ke dalam kardus. Ada label di permukaannya “Donor”. Buku yang ia kehendaki kehadirannya di rumah baru, dimasukkan ke dalam kardus lain. Continue reading

Idiot

Tok.. tok.. tok…

Chris tersenyum di ambang pintu. Daun pintunya terbuka setengah. Berjalan masuk dengan sekantung plastik makan malam praktis. “Sudah berapa lama kamu seperti?” Chris menatap peratalan kimia bergantian. Gelas ukur mulai dari 5 ml, 10 ml, sampai 1 liter. Gelas kimia dengan berbagai diameter. Pipet berbagai bentuk. Dan semuanya transparan tanpa warna. Bening saja. Yang berwarna hanyalah cairan yang tertampung di dalamnya. Semua didominasi warna hijau tosca. Warna pekat hingga pudar sebening air putih. Continue reading

Sahabat Kecil

Baru saja berakhir hujan di sore ini.

Menyisakan keajaiban kilauan indahnya pelangi.

Aku masih melihatmu begini. Terus menulis tanpa henti. Kamu pernah cerita, bahwa kamu ingin menulis hingga tua nanti. Saat itu aku membatin. Aku akan tetap disini, melihatmu menulis. Ikut tersenyum saat kamu terbawa suasana dan resah saat kau tak kunjung temukan ending cerita yang tepat. Continue reading