Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Ayah

Tubuhnya banyak kehabisan tenaga. Perhatiannya juga tak berdaya. Fokus pun bisa lemah. Ia jalankan tuntutan dengan sangat baik. Hingga tiba waktunya. Tuntutan tahap awal butuh pertanggungjawaban. Dihadapannya saat itu, terduduklah dosen pembimbing beserta co-bing. Dalam hati penuh harap karena tak ingin dikecewakan. Di deret kursi yang sama. Seorang penguji. Tugasnya menguji. Continue reading

Menjenguk #55

Meninggalkan bunda, ia akan sendiri. Siapa tega? Walau saat aku dan Jordan menyatakan siap hidup bersama di atas altar, aku tahu, bunda berat melepaskanku. Aku? Tak pernah terpikirkan untuk terlepas saja dari rona hangatnya. Kalau selama ini aku lah satu-satunya alasan mengapa bunda tak ingin menikah lagi, karena segala hal tentang ayah tertanam dan tumbuh dengan baik dalam diriku. Kini segala hal tentang ayah tak akan menemani hari-harinya. Aku menemukan konflik baru.

Continue reading

Job #49

Aku sudah siap dikala waktunya tiba. Waktu tak akan datang atau pergi. Hanya terus bergerak, aku antara mengejar atau tertinggal. Itu saja, sesimpel itu sebenarnya. Waktu untuk mendengar tentang satu kesimpulan instan. Hidup dalam bayang-bayang ayah. Ayahku, Antonio Abraham. Pernyataan ini sebentar lagi akan menggema seantero indera pendengaranku. Masa bodoh. Tinggal ku kerahkan instruksi untuk tuli dan semuanya selesai.

Continue reading

Sarjana Teknik Arsitektur #48

Tak ada yang tak luar biasa untuk seorang Lia. Teman semasa bocah putih abu-abu hingga dewasa prematur. Dewasa karena proses selama hidup di kampus dan berbagai interaksi dengan manusia hebat semacam dosen. Usia belum sentuh 25 tahun tapi pemikiran seperti sudah melampau batas usia yang akan semakin menua. Dewasa juga adalah keputusan. Dewasa prematur. Prematur sekalipun, tak ada yang salah. Bagiku bukan sebuah kecacatan fisik atau tindakan terlalu dini. Ini keputusan.

Continue reading