Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Malaikat #20

Ada suara jepretan kamera dari arah pintu. Gak kaget, lapisan cream cheese yang sudah hampir selesai juga masih rapi. Aku menegakkan kepala dan Jordan sudah di tepi pintu dapur dengan kamera dari handphone blackberry yang menghadap kearahku. Senyum tipisnya sudah nangkring di wajah dewasanya sejak mata ini tertuju pada si sumber suara.

Continue reading

Rappelling #14

“udah siap?”

Aku hanya menatap instruktur simulasi tempur. Nafasku berantakan. Bibir bawah mungkin sebentar lagi akan berdarah, aku gigit sekuat tenagaku. Segalanya sudah siap. Tali pengaman sudah melilit kencang dilingkar panggulku. Sarung tangan sudah hinggap sempurna dikedua tanganku. Ya, tinggal meluncur ke bawah. Meluncur dari ketinggian 8 meter dari permukaan tanah.

Sorak sorai teman-teman regu 8 menyemangatiku dari bawah sana. Tetap aja aku sulit untuk memulai.

Continue reading

Aku Disini #13

Berkali-kali aku perhatikan, itu memang Gery. Name tag di dadanya makin meyakinkanku. Tertulis ‘Gery’ dengan huruf kapital yang tegas terlihat jelas walau aku berdiri hampir 5 meter darinya.

Masih berusaha menenangkan lonjakan emosi didadaku. Mendadak sedikit sesak. Untungnya masih ada beberapa peserta yang berdiri di depanku. Yah minimal Gery tidak melihat keberadaanku. Entah lah, aku belum siap. Belum siap kelak dia akan tersenyum lebar ke arahku lagi. Lagi? Yah, setelah yang pertama kali dia lakukan di bawah langit PRPP yang berwarna-warni.

Continue reading

Disana #12

Pagi-pagi buta, masih dingin, luar biasa dingin. Sayup-sayup gemuruh suara ribut dalam barak putri sudah sampai ke telingaku. Walau berat. Lengketnya ampun-ampun tapi bagaimana pun caranya mata ini harus bisa terbuka.

Masih blur dan samar-samar, Tika yang tidur tepat di sampingku sudah lenyap dari ranjangnya. Sleeping bed miliknya juga sudah dilipat rapi. Mungkin dia sedang mandi.

Continue reading

Next National Event #11

Gemuruh suara lantai bus. Ditempa hentakan belasan pasang kaki yang sibuk berjalan kesana-kemari. Bus sudah berhenti dengan sempurna. Sekarang giliran isi dari bus yang harus turun. Termasuk aku. Butuh dua langkah yang lebar agar aku bisa sampai ke tanah. Kenapa anak tangga bus terlalu tinggi? Atau kenapa tubuhku yang terlalu mini? Yeah, tanyakan saja pada rumput basah. Basah habis diguyur hujan. Sekarang pun masih gerimis.

Continue reading

Email #10

Bandung habis diguyur hujan deras. Sangat deras dan ujung blue jeans dekat sepatu, masih sangat basah. Sepatuku juga basah. Sudah pasti kaos kakiku basah kuyup tapi kulit kakiku belum sampai keriput. Mungkin sebentar lagi. Setiap kali aku hentakkan kaki ini ke lantai, seperti ada bekas di lantai. Bekas cipratan air yang mencuat saat sepatu ini benbenturan dengan lantai bus. Ya, aku sedang di dalam bus. Sudah sekitar setengah jam yang lalu aku berada dalam bus ini. Perjalanan Bandung – Cikole aku rasa gak butuh waktu yang lama seperti Bandung – Jakarta.

Continue reading