Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Panggung

Entah aku cukup berkapasitas untuk membicarakan hal ini atau tidak. Pantas atau tidak.

Intinya aku resah dan butuh menulis. Itu saja.

Bila ternyata ada yang tidak berkenan, silahkan tinggalkan komentar atau bisa hubungi aku via email yang tertera dalam widgets blog ini. Yang jelas aku paling tidak suka berdebat. Beradu pengetahuan sampai beradu kedudukan siapa yang paling tinggi. Berani taruhan! Yang merespon sinis pastilah orang-orang yang merasa tersindir dan ingin membela diri. Continue reading

Berpendidikan Saja Sudah Cukup?

Dulu. Waktu usiaku masih belasan tahun. Seragam masih putih biru. Aku terkesima dengan wanita-wanita karir berbaju rapih, berdiri tegak menantang, bicara lugas tanpa teriak dan kharismatik. Ibuku bilang, supaya jadi seperti mereka, aku harus banyak belajar. Semakin banyak hal yang kupelajari, maka semakin terlatih pula sikapku nanti. Jadilah aku anak yang rajin belajar. Selama SMP, aku tidak pernah lepas dari perikat 5 besar di kelas dan 10 besar di angkatan.  Continue reading

Pergi #7

Hari-hari di kantor bergulir dengan semestinya. Sebulan dua kali rapat umum bersama HSE Department. Lebih sering melintasi jendela-jendela besar berisi wajah Jakarta dari berbagai tingkat lantai. Kemana matanya tertuju, disitulah Jakarta berada. Namun untuk seminggu kedepan ia harus melakukan inspeksi Behavior Based Safety Program di salah satu site milik mitra perusahaan. Delta Mahakam di pesisir Kutai Kartanegara. Meninggalkan Jakarta sebentar. Continue reading

Pergi #3

Dia tidak berhenti diam. Thomas melirik. Memastikan Prisa masih disana. Memang masih disana, tubuhnya, Thomas bisa pastikan ruhnya tertinggal jauh di belakang. Memanggil namanya, hanya akan membuat tubuh tanpa ruh ini ambruk. Hingga akhirnya sebulir air mata terbit. Tangan Prisa menyeka lemas. Thomas bergerak cepat, menyodorkan sebungkus tissue utuh. Masih tersegel. Tissue di tangan Prisa sudah lama kumal. Dari tadi hanya digenggam bercampur keringan dingin. Prisa menyambut tanpa menatap Thomas. Mengeluarkan selembar dan ia sapukan ke wajah. Continue reading

Pergi #2

Ia ingin membunuh sepi. Sepatah-dua patah ia ucap agar mendapat sambutan hangat. Alih-alih didengar, kadang Prisa harus mengulangnya dua kali barulah sambutannya berbalas. Tapi balasannya dingin. Prisa sudah membeku di tempat sejak awal. Edgar bisa dibilang mengabaikannya. Perhatiannya hanya pada layar ponsel lalu berganti dengan segelas jus strawberry kesukaannya kemudian berpaling lagi pada ponsel. Continue reading