Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Jangan Seperti Ini, Rea #61

Jordan sudah tak injak lagi pedal gas, tapi mesin mobil masih meraung pelan. Beralih pada pedal rem, ia injak pelan. Alasan yang sederhana. Agar mobil yang ia kendarai dapat berhenti pelan-pelan. Ada aku duduk di sisinya. Agar aku juga tetap merasa nyaman saat mobil berhenti. Tangan kiriku tak harus berhenti membelai puncak perutku karena terkejut. Berhenti di depan kantor. Jordan mengantarku sampai depanĀ loby kantor. Setiap hari juga seperti itu.

Continue reading

Menjenguk #55

Meninggalkan bunda, ia akan sendiri. Siapa tega? Walau saat aku dan Jordan menyatakan siap hidup bersama di atas altar, aku tahu, bunda berat melepaskanku. Aku? Tak pernah terpikirkan untuk terlepas saja dari rona hangatnya. Kalau selama ini aku lah satu-satunya alasan mengapa bunda tak ingin menikah lagi, karena segala hal tentang ayah tertanam dan tumbuh dengan baik dalam diriku. Kini segala hal tentang ayah tak akan menemani hari-harinya. Aku menemukan konflik baru.

Continue reading

Sedikit Celah #36

Message sent

Aku balas cerita Jordan kali ini dengan rentetan kesibukan yang aku lalui di Semarang selama jadi LO. Bangun lebih pagi dan tidur lebih awal. Mengatur barang-barang bawaan peserta di hari pertama. Mengatur segala bentuk konsumsi mereka yang diberikan pada jam-jam tertentu. Mengabsen dan memastikan peserta selalu lengkap berikut dengan apa-apa yang harus mereka bawa. Semuanya. Semuanya?

Continue reading

Standing Applause #35

“Terapi hari ini selesai. Kamu hebat, Rea”

Pegawai fisio terapi yang menangani aku kali ini seorang wanita paruh baya yang luar biasa ramah. Senyum khas seorang ibu yang sabar. Bahkan sangat sabar. Lembut dan selalu tersenyum. Awalnya aku enggan menghiraukan keramahan ini tapi belum apa-apa aku sudah ikut tersenyum karenanya. Mungkin karena aku nyaman? Bisa jadi.

Continue reading