Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pertahankan Aku #39

Diam-diam aku tarik perlahan lengan jaket Gery yang menenggelamkan lebih dari setengah tubuhku. Cukup melirik karena aku gak mengangkat tanganku tinggi-tinggi. Sebuah sudut 30 derajat antara dua jarum di dalam arlogiku. Jam 11 malam. Sudah malam sekali. Sekarang aku tahu kenapa udara Malang luar biasa dingin. Seluruh kancing jaket Gery yang aku pakai ini tertutup rapat.

Continue reading

Akrab #27

“Laper, Re?”

Pertanyaan Gery cukup mengagetkanku tapi mulut ini masih tetap gak berhenti mengunyah. Gak cukup kaget sampai menghentikan pergerakan rahangku. Aku hanya mengadahkan kepala sampai kedua mata ini sejajar dengan mata Gery. Melihat wajah Gery. Wajahnya datar. Mulutnya terkatup dengan sedotan dari segelas soft drink bergelantung disana, tapi matanya memandangku heran. Aku tahu itu ekspresi wajah keheranan Gery. Cukup satu anggukan aku rasa cukup menjawab pertanyaan Gery. Aku kelaparan. Dan kembali fokus pada ayam goreng chrispy dan gumpalan nasi sebesar kepalan tangan di atas piringku.

Continue reading

Aku Disini #13

Berkali-kali aku perhatikan, itu memang Gery. Name tag di dadanya makin meyakinkanku. Tertulis ‘Gery’ dengan huruf kapital yang tegas terlihat jelas walau aku berdiri hampir 5 meter darinya.

Masih berusaha menenangkan lonjakan emosi didadaku. Mendadak sedikit sesak. Untungnya masih ada beberapa peserta yang berdiri di depanku. Yah minimal Gery tidak melihat keberadaanku. Entah lah, aku belum siap. Belum siap kelak dia akan tersenyum lebar ke arahku lagi. Lagi? Yah, setelah yang pertama kali dia lakukan di bawah langit PRPP yang berwarna-warni.

Continue reading

Selamat Ulang Tahun Rea #9

“Re”
“Ya?”

Suara panggilan Gery yang lebih mirip seperti berbisik, mengusik perhatianku dari kembang api yang masih berkelap-kelip di sana. Aku pikir setelah memutarkan kepala aku akan melihat wajah Gery. Tapi ada yang menutupi penglihatanku. Kecil dan buram.

Lensa mataku seketika menyesuaian diri karena objek ini berjarak kurang dari 20 cm dari batang hidungku. Kecil. Silver. Berkilau. Itu bintang kecil berkilau berwarna silver. Bukan. Ini seperti deretan baru yang berkilau. Cantik. Aku fokuskan kembali penglihatanku pada Gery yang menjadi background objek ini.

Continue reading

Kembang Api #8

“Kenapa tertawa?”
“Heheheee..”

Setelah menunggu tidak terlalu lama, akhirnya aku dan Gery naik di salah satu gerbong atau apa lah namanya. Yang pasti masih bagian dari bianglala ini. Seperti kotak yang tak terlalu besar dan bisa menampung maksimal 4 orang untuk ikut berputar searah jarum jam.

Aku dan Gery duduk berhadapan.

Aku baru sadar kalau nafas Gery mengeluarkan uap yang lebih mirip seperti asap. Tempat ini benar-benar dingin. Tanpa sadar aku sedikit terkekeh karena biasanya uap yang keluar dari mulut dan hidung terlihat seperti asap kalau aku berada di Ciwidey atau Cikole. Tapi sekarang itu terjadi, berarti tempat ini memang benar-benar dingin.

Continue reading