Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Kertas Putih

Tungkai kecilnya bermain-main di udara. Punggung mungilnya bertumpu di kasur seharga nyaris sejuta. Bantal empuk menopang tengkuk dan kepala yang penuh dengan detail semesta. Ia serap saat menghirup udara sore atau sekedar menyimak cerita Emp tentang orang-orang hebat di dunia maya. Orang-orang hebat itu nyata, tapi Emp simak riwayat hidup mereka di jejaring sosial. Continue reading

Tolong Tinggalkan Petunjuk

Rasakan fluida angin sore setiap kali berselancar bersama. Menelusuri jalan. Tanyakan pada sepeda motor yang pernah bawa kita pergi kemana saja. Asalkan saat itu sore benderang. Kamu pernah bilang jalan-jalan sore itu menyenangkan. Aku juga demikian. Sejak saat itu muncul belasan rencana, ketika menjelang sore matahari masih bercahaya. Kita selalu bahagia dikala sore itu datang. Continue reading

Sahabat #2

Ini untuk yang kesekian kali dirinya melirik. Adik perempuan satu-satunya hanya duduk tenang, earphone di telinga, dan jari telunjuk yang mengetuk-ketuk chasing handphone. Duduk di sampingnya. Sambil terus memandang satu titik ke luar kaca waiting room. Ada banyak pesawat sedang parkir. Selebihnya sibuk bergerak maju-mundur untuk masuk dan keluar dari tempat parkir. Bahkan Key tak banyak bicara sejak acara lauching buku pertamanya semalam. Continue reading

Sahabat

Dalam benaknya ada banyak keluh kesah. Bibirnya terkatup rapat cukup lama. Beringsut masuk ke dalam perbendaharaan kata. Bisa saja ia pilih salah satu dan berucap seperti biasa. Bahkan ketakutan mendominasi. Membuatnya dungu berdiri sekian jam disana. Hilang kemampuan memilih mana kata yang tepat. Berulang kali Liz gagal berucap segala keluh kesah yang dirasa. Jadi cuma bisa megap-megap. Setiap temukan satu kata yang tepat, tertelan lagi. Karena takut.  Continue reading