Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Pagiku #11

Pidiiip… Pidiipp… Pidiiip… Pidiiip…

Melengking dengan ketukan teratur. Lengkingannya sampai ke telinga Naya. Posisi tidur menyamping dengan tangan kiri jadi alas kepala. Belum apa-apa lengkingan itu akan lebih dulu menjentik telinganya. Dirinya tersentak. Alam bawah sadar beserta mimpi seketika jatuh bersama gravitasi. Masuk lagi ke dalam kepala. Sepasang pelupuk yang tadi tertutup harus beradu dengan lengketnya kelopak mata. Tubuhnya masih ingin tidur. Continue reading

Sejarah Tawa Riang #8

Langit cerah. Birunya segar. Dibasuh semburat sinar matahari bersama kilau keemasan. Secerah nuansa hati Naya bersama seluruh siswa-siswi kelas 2 lainnya. Pagi penuh keceriaan untuk menyambut liburan singkat. Beberapa hari kedepan. Menyambut datangnya minggu Ujian Nasional bagi siswa kelas 3. Tak hanya sekedar 3 hari kosong tanpa kegiatan belajar di sekolah. Ada kegiatan berkemah ke daerah puncak, Bogor. Siapa yang tak riang menyambut indahnya pagi ini. Naya dan beberapa kawan sebaya tak habis tenaga untuk terus tersenyum dan tertawa. Continue reading

Pertunjukan #2

“Dari tadi aku nonton pertunjukan ini, Jess.”

Hingga akhir kalimat, senyumnya enggan budar. Merekah bersama lantunan kata. Sangat luas hingga menyerupai tawa tanpa terbahak. Senyum dari bibir yang merekah kemana-mana. Bahkan sampai sudut mata. Kelopak lebar Tatiana menjadi lebih sipit. Tertekan gumpalah daging bagian pipi, menekan ke atas.

Continue reading

Pertunjukan

Tubuhnya meringkuk. Duduk menekuk lutut dan agak membungkuk. Mendekap sepasang tungkai dalam sudut 30 derajat. Kedua tangan mengunci. Duduk bungkuk di atas pasir putih. Menatap segala yang ada di hadapannya. Memunggungi belasan teman sejawat yang tertawa bersama. Musik menyentak material padat. Bass juga menyentak tapi teredam prematur. Berdegum-degum. Getarnya berdegum sampai dada. Lama-lama sesak.

Continue reading

Kelas 2 Ipa 1 #6

Seingatnya, beberapa menit lalu ada niat ingin menyelesaikan pekerjaan yang ia bawa pulang. Pekerjaan rumah? Bukan. Layout yang ia bawa pulang. Lantas yang ia lakukan kini?

Duduk agak membungkuk. Tubuhnya condong kedepan sedikit. Kedua siku tangannya berpangku pada permukaan meja. Meja yang menahan beban pc beserta tikus wirelessnya. Kalau Naya termangu begini, beban meja bertambah sekian newton. Masih kuat. Sudah kodratnya di timpa beban ini itu, disini-disitu.

Continue reading

Kedua di Lapangan Upacara #5

Pantulan cahaya berbagai warna. Sempat biru lembut yang berbinar lalu berganti cepat dengan rona kemerahan. Berpindah cepat lagi. Kini lembayung menyelimuti keseluruhan wajah Naya. Mungkin bagian mata tak ikut terpapar. Ada lensa anti radiasi, jadi cahaya datang balik mantul. Standby hampir satu setengah jam di sana. Nyantol di tulang mancung hidung . Bagian tangkai melengkung juga bersandar di tulang rawan telinga perempuan ini. Tertutup lembaran cokelat berkilau lembut. Selembut rambut bayi.

Continue reading