Kaca Mata Saya

segala hal yang terlihat oleh saya

Kaca Mata Saya - segala hal yang terlihat oleh saya

Ayah

Tubuhnya banyak kehabisan tenaga. Perhatiannya juga tak berdaya. Fokus pun bisa lemah. Ia jalankan tuntutan dengan sangat baik. Hingga tiba waktunya. Tuntutan tahap awal butuh pertanggungjawaban. Dihadapannya saat itu, terduduklah dosen pembimbing beserta co-bing. Dalam hati penuh harap karena tak ingin dikecewakan. Di deret kursi yang sama. Seorang penguji. Tugasnya menguji. Continue reading

The Day

Waktunya datang juga. Setelah segala proses yang telah dilalui. Sejauh mataku mengamati, ibarat manusia power bank. Aku bingung kapan anak ini bisa cape. Tuntutan keluarga yang tak mungkin dihindarkan. Kehidupan kampus beserta tetek-bengek yang tak pernah mudah. Baginya, gerakan kaki tetap melesat. Aku disini jadi lihat serba cepat.

Continue reading

Arsitek Hebat #56

Sesekali meremas telapak tangan kanan. Kalau sudah bosan tangan kiri yang jadi korban berikutnya. Kedua telapak tangan sudah jenuh. Keringat dingin, indikator kejenuhan. Berubah gerakan, sekarang jadi seperti berada di peraduan Bandung dalam hawa beku dataran tinggi Lembang. Mengusap satu sama lain sampai hangat. Telapak tangan kanan dan kiri beradu kemudian panas dengan sendirinya. Gesekan antar kulit yang disengaja. Tapi pemilik kedua tangan tak sedang di belantara dinginnya Lembang. Bukan.

Continue reading

Peluk (maaf) Bunda #46

“Hai bunda”

Kudapati pintu kamar bunda tak terkunci. Bahkan terbuka sedikit. Hanya lirikan kecil dari ekor mata sudah terlihat bunda duduk di depan cermin meja rias. Dari celah antara pintu dengan bingkainya. Memoles lekuk mata, alis, pipi hingga dagu dengan kapas. Berputar kemana-mana. Membersihkan wajah dengan milk cleanser. Tak bergeming saat setengah tubuhku muncul diantara celah pintu.

Continue reading

Tugas Akhir #45

Seisi perutku berputar-putar bak bianglala. Harusnya perutku lebih pantas pusing ketimbang kepalaku. Aku sudah melewatkan momen makan siang. Tetap berdalih bahwa aku gak akan menunggu lebih lama lagi. Awalnya jantungku berdentum seperti bass drum tapi termakan oleh waktu. Tadi gugup, sekarang mengantuk. Mataku mulai malas untuk fokus. Untung sofa di salah satu ruang tunggu dosen lumayan empuk. Cukup nyaman untuk sekedar mengandarkan otak kecil berikut isinya. Menatap langit-langit. Aku bahkan sudah bosan dengan warna dan bentuk langit-langit ruangan ini. Putih gading.

Continue reading