empty cup

seng salah iku, seng ora gelem sinau.

Archive for February, 2013

baik dan jelek – membangun rasa syukur optimis positif.

Semua buku, informasi, data, pangalaman dan sebagainya adalah baik, paling tidak kebaikannya terletak pada ia sudah berbagi dan memberi wawasan baru bagi kita.

Baik, jelek adalah persoalan perspektif. Baik , jelek adalah urusan managemen.

Bagaimana otak kita mengelola benda-benda tersebut sehingga bernilai dan usefull, ketimbang kita menggerutu, menyesali apalagi mengutuknya. So, baik, jelek atau buruknya sesuatu adalah tergantung bagaimana kita memandang dan mengelolanya.

Maka untuk urusan yang paling “jelek” sekalipun, tetaplah optimis!. Sadari bahwa itu adalah kebaikan agar kita tidak melewati hal yang sama, agar kita tidak terjatuh pada lubang yang sama, agar kita tidak terperangkap pada ranjau yang sama, atau supaya kita lebih bersyukur bukanlah kita yang melakukan hal jelek tersebut.

Jika kita sudah memiliki perspektif yang seperti ini, tentu kita tidak akan mudah marah, ragu-ragu, atau malah pesimis dalam melewati sesuatu. Diri kita akan lebih berpeluang untuk lebih PERCAYA DIRI dan OPTIMIS POSITIF.

Ada satu petikan menarik dari tokoh berikut;

“Nobody can hurt me without my permission.”
Mahatma Ghandi

 

 

 

kegalauan bangsa kita, tak tau mana anak mana istri

ndak sampai ati tiap menyimak berita pencabula orang tua atas anak sendiri.

tak tanggung-tanggung, sampai 5 tahun.

kok bisaa???

semoga mereka bertaubat beneran atas perbuatan bejatnya tersebut.

 

Kenali dirimu sendiri, dulu.

engkau akan TAU

apa-apa saja kebutuhanmu,

apa-apa yang menjadi penting dan tidak penting untuk di hiraukan,

apa-apa yang perlu dan tidak perlu di masukkan hati,

atau apa-apa saja yang perlu di fikirkan atau cukup di berikan respon saja,

Perlakuan apa saja yang tidak kau sukai, untuk tidak kau perlakukan pada orang lain

Jadi, KENALI DIRIMU karena hal ini

SANGAT PENTING!!

Pendidikan jangan dikotori

Masa remaja adalah masa-masa pencarian jati diri. Juga masa asik untuk menikmati kebersamaan dengan teman-temannya. Dalam pencarian jati dirinya, remaja relatif labil dalam mengambil sikap dalam setiap perbuatannya. bahkan yang banyak, mereka     memilih untuk melawan aturan atau peraturan dari pada mengikutinya.

Terbukti, untuk ijin keluar malam adalah hal yang mudah, cukup ke kantor, bilang keperluan dengan alasan logis kalau perlu alasan kuatnya dan akan dapat ijin. Remaja-remaja santri lebih tertarik tidak melewati hal tersebut. Mereka langsung pergi tanpa ijin. Sepulang dari kegiatan mereka harus berkumpul dikantor untuk memperoleh pembinaan. Memberikan penjelasan atas perilaku yang sudah dipilih tersebut. Beberapa santri nampak menyimpan kejengkelannya entah sebab apa. dugaanku mereka males dengerin penjelasanku.

dulu, mendapati anak yang jengkel saat diberi penjelasan yang logis seperti ini, diriku “goyah”. Perasaanku cukup tertekan dan muncul beberapa kekhawatiran; takut dijauhi, dibenci atau dihindari, itu dulu. Tentu saat ini sudah beda cerita. sebab mau belajar.

Pendidikan adalah pendidikan. Bukan ancaman tapi penyadaran. Senakal apapun orang, apalagi anak remaja, meraka butuh di tolong, bukan sebaliknya di ancam dan di hukum tanpa memperdulikan dan mempertimbangkan masa depannya. ya, mereka butuh lampu untuk membuka tabir-tabir gelapnya.

*dalam proses penulisan latar belakang tugas akhir,

di PP AN – Mlangi, Yogyakarta, 2013

0.02 WIB 

karena pahit untuk mengerti manis

Sama sekali tidak ada yang salah dengan perbedaan. beda adalah niscaya, karenanya tidak perlu diminta. beda itu berkah.

Ini soal pengalamanku di jogja. Pertemuanku dengan orang-orang baru dengan berbagai latar belakangnya, unik dan segar, membuatku terlatih, dan semakin mampu memahami apa itu perbedaan. Karenanya aku temukan serpihan diriku yang tlah lama “aku hilangkan”, dan aku minta maaf pada diriku sendiri, aku tak akan mengulanginya lagi.

aku sering diberi nasi dengan lauk yang tak aku suka

tak bisa disalahkan, tak ada yang mengajari konsepnya

aku “terpaksa” menerima, itu lama sekali.

waktu kian menjauhkanku dari usia itu, remaja dan mulai dewasa.

ada tatanan norma, nilai dan budaya,

sebab itu aku kesulitan “mempertanyakannya”.

kini, aku di “ajari” dan mempelajari, kenapa hal itu lama sekali

kini, aku juga mengerti, sebab doaku bukan untuk diriku sendiri

setidaknya aku juga cukup mengerti, jika tidak menyelam sedalam ini, sedasar dan selama ini,

bagaimana aku bisa berbagi?

 

pahit ini ada, untuk tau bahwa ada rasa manis.

semakin lama pahit terasa, semakin aku paham dan mengerti bagaimana menjelaskan arti manis kepada siapa saja.

 

jogja, 1.34 dini hari

usai jadi narasumber diskusi mingguan PP Aswaja Nusantara dan nonton perahu kertas 2. 

 

NATION – niat then action.

Tidak seperti biasanya, hari-hariku ini berasa ringan dan damai. Aku percaya, salah satu pengaruhnya adalah sebab dari puasa yang sedang aku jalani. Terlebih hari ini, padahal semalam hanya tidur sekitar satu setengah jam saja, namun usai subuh sampai siang masih dalam kondisi On fire, Alhamdulillah.

Aku menduga, ini sebab niat yang aku buat. sekembalinya lagi ke Jogja, dari kota kecilku Kudus, aku memang mempunyai satu niat, ingin mengembalikan kebiasaanku dulu pada awal-awal hidup di jogja, tepatnya semester satu. kebiasaan menghabiskan banyak waktuku terisi dengan hal-hal yang bermanfaat dan itu disertai niat. bukan ASLAN alias asal jalan.

memang aku sendiri dulu terheran-heran melihat aktifitasku sendiri yang seperti tak ada istirahatnya, hanya tidur malam waktu untuk melepas lelah. selainnya adalah untuk kuliah, nyambi kerja, ngabdi ngajar, dan ngerjain tugas, ini rutin. sabtu dan minggu tetep ON activities.

Semoga ini pertanda kebaikan itu aku peroleh lagi. Aku memang rindu waktu itu, syukur Alhamdulillah… 3 hari berjalan dengan menyenangkan. Selalu saja, galau, sukses, galau lagi, sukses lagi. semakin yakin petikan ayat dalam surat “Al-Insyirah” yang intinya sesungguhnya setelah kesulitan adalah kemudahan-kemudahan.

Mlangi, 13.30 wib

usai berbalas pesan untuk 2 adikku di kudus.

Tidak mudah, tapi jangan “dibikin” susah

Jum’at yang cerah, dalam terang redup hatiku. Bukan apa-apa, hanya labil dalam proses penulisan tugas akhirku. Kadang-kadang semakin tahu teori menulis, disaat itu semakin sulit kita menuangkan ide. Ada rasa kurang percaya diri menyertai proses tersebut. Tapi bukan ada maksud aku ingin mengatakan bahwa, teori itu tidak penting, bukan.

jika secara proporsional dan profesional kita menggunakan teori tersebut tentu akan lain ceritanya. Sebab memahami sistematika penulisan adalah kunci untuk menguasai dunia ini. Seperti sebuah “rumus” dalam ilmu hitung, kita mungkin bisa menyelesaikan soal tanpa menggunakan rumus tersebut, tapi tentu prosesnya tidak akan efektif. Ngalor-ngidul, tidak jelas, meski ujungnya tersampaikan hasilnya dengan benar.

Sebagai pemula dalam “dunia” apapun, proses di atas tentu adalah niscaya untuk dilewati. Tidak ada sesuatu tiba-tiba jadi dan bagus. Aku belajar lagi, dan lagi untuk tidak ragu menuliskan apa yang ada. Tapi aku juga tak mau menghabiskan banyak waktu dan tidak efektif dalam setiap proses penulisanku, hanya sebab aku tak paham teorinya.

So, Tuliskan saja sambil jalan pelajari teorinya, sambil jalan evaluasinya. Learning by doing ajah!!.

 

2 alat bukti buat si (katanya) “pendidik”

Jogja selain terkenal dengan kota budaya, ia juga disebut-sebut sebagai kota pelajar. Yang terakhir ini, aku salah memahami, karena keterbatasan wawasan. *pengakuan.com* Fikirku sebagai kota pelajar, sekaligus penulis sendiri berpredikat sebagai pelajar, aku menganggap semua pendidik disini keren dan hebat-hebat. Dan anggapanku tidak meleset. Aku menemukan figur-figur tersebut, namun aku juga dipertemukan dengan sosok yang tidak sesuai dengan fikiranku.

Meski aku menemui model yang begini bukan kali ini saja, tapi yang terakhir ini mampu membuatku sangat bete, cukup bete dan sekarang tinggal bete saja (coba berubah jadi mete kan lebih gurih, #lho…??!!) :D.

Ini soal nilai pelajaran kuliah. Aku menyadari betul, sisi subjektif seorang pendidik, sekaliber apapun dia tetap akan ada, namun kadarnya tentu ya tidak banyak. Berbeda dengan yang satu ini, ia tidak kaliber amat si, karena hampir semua teman sekelas mengeluhkan caranya mengajar yang “katanya” edutainment tapi suasananya justru kok sebaliknya, kadar subjetifitas untuk penilaiannya begitu dominan bagiku (saja).

Ini baru asumsi memang, tapi aku menuliskannya, karena ada temuan 2 alat bukti (lagi trend ala KPK, haha….) yang sudah cukup menjadikannya sebagai “tersangka”. Pertama, dibanding si A, kata temanku aku lebih segalanya darinya ; baik presensi, keaktifan, sumbangsih wacana keilmuan, dia “lewat” dariku. Dan keduanya ini yang tak kalah penting, tugas akhirku lebih lengkap darinya, dia bahkan kurang menyertakan salah satu tugas akhirnya, secara disengaja.

Aku bukan menyesal soal nilai, aku tegaskan bukan. Aku lebih menyayangkan predikat yang disandangnya, sebagai seorang pendidik.

Bahkan, ada asumsi alat bukti terakhir yang membuatku sampai jijik dan kepengen ketawa ngakak, jika memang itu benar, dugaan alat bukti ini memang sulit dibuktikan, karena sifatnya berita dari seorang kawan yang kebetulan di curhati olehnya. Kata temanku, dia tidak suka caraku mengajar pas microteaching, yang menurut pandangannya tidak sopan dengan salah satu temannku yang berperan sebagai murid dikelas saat itu.

Ceritanya aku dan satu sahabatku adalah team teaching, temanku yang lain sebagai murid TK. Materi sudah siap, begitu juga peranku sebagai pendidik TK. Dalam pertengahan kegiatan belajar mengajar (KBM), salah satu temanku ingin “ngerjain” aku. Ia teriak-teriak tidak jelas, dan membuat gaduh kelas. sebagai pendidik tentu aku tidak boleh tinggal diam, ku datangi temanku yang saat itu predikatnya adalah sebagai siswa TK, ku ajak ngobrol, dan aku “pura-puranya” meraih kedua lengannya.

Nah yang terakhir inilah letak asumsi alat bukti ketigaku. ia menganggap aku beneran meraih lengannya, atau kah ia menangkap histeris teriakan dan rengekan “siswa TK” ku sebagai bagian ketidak nyamanannya padaku. Ia menyimpulkannya dan curhat pada temanku bahwa ia tidak suka caraku ini, katanya aku tidak sopan.

Sodara-sodaraku… sebangsa tanah dan sebangsa air yang tercinta, aku hanya ingin mengingatkan saja, ini adalah kelas microteaching. Semua setting peranan sudah ditentukan. Aku dan satu temanku sebagai guru, sisanya jadi siswa TK. Siswa TK. Aku ulangi yang terakhir, sisanya selain aku dan satu temanku adalah siswa TK peranannya. Puassssss??. :p

Lagian aku juga pura-pura meraih dan tidak beneran meraih lengan temanku yang kebetulan cewek tersebut. meski beneran, dalam konteks pendidikan anak TK boleh jadi adalah dibenarkan, sesuai rule kesepakatan awal (aku terpaksa ulangi lagi) ia BERPERAN jadi SISWA TK dalam kelas microteaching. Unbelievable!!. Itu dibilang tidak sopan. Perlu juga diketahui, ia sendiri yang menentukan perannya. Aku hampir tak percaya. Tak percayanya, ia katanya pendidik yang memiliki jabatan penting dengan sederet panjang yuniornya. Kok seperti itu caranya menilai. Oh no… haha… icon biggrin 2 alat bukti buat si (katanya) pendidik

Sungguh terlalu. Aku hanya kasihan, dan menyayangkannya. Soal kejelasannya, aku akan klarifikasi. Saran dari salah seorang pendidik lain, yang gantian aku curhati, hehe… aku disuruh menemuinya, meminta kejelasan mekanisme penilaiannya. Hal ini dimaksudkan sebagai bagian dari EDUKASI. Aku memang sudah berfikir demikian jauh sebelum curhat. Tunggu nanti lah, kalau pas kosong, sok sibuk ah…. icon wink 2 alat bukti buat si (katanya) pendidik .

sudah aku mulai, pagi ini.

dulu, saat masih ngangsu kaweruh (belajar) dari para kyai. ada satu keterangan, aku lupa sumbernya, saat sebelum tidur malam kita mempunyai niat untuk bangun pagi sebelum waktu subuh, nanti akan dibangunkan oleh malaikat. bagiku ini terbukti dan benar adanya. berkali-kali aku selalu terbangun jika sebelum tidur aku niati untuk bangun pagi. seperti pagi ini, aku bangun sekitar jam 2.

aku tidak bermaksud membahas tentang mimpi atau teman-temannya. tapi bangun pagiku hari ini adalah awal ukiran tinta baruku yang aku “ugemi” (berharap kuat) dari kota kecilku kemarin.

sejak kemarin perjalanan dari kudus ke jogja, hati ini memiliki keinginan besar kedepan. intinya ingin lebih baik. targetnya tentu sudah ada, salah satunya selesai tugas akhirku dengan lancar. sementara target lainnya sudah aku ukir tebal sekali. dimulai dari hari ini. sebelum menyesal nanti, semoga tidak lagi.

kebulatan tekad sudah ada, sudah aku mulai malam ini. sedikit dan terus, tidak boleh mandek. sebisanya apa, dikerjakan. pasti ada hikmahnya.

3.44 waktu mlangi yogyakarta.

 

 

HIDUP TIGA MASA

Hidup itu apa? Sederhana sekali bukan pertanyaan tersebut. Namun tak se-simpel itu untuk menjawabnya bukan?. aku yakin itu.

Ada yang berpendapat masa kecil adalah masa paling menyenangkan dalam kehidupan kita. Soal ini, dulu aku belum bisa menanggapi. Saat ini aku tidak begitu sependapat. Karena aku adalah salah satu dari sekian bagian anak kecil yang tak seindah pendapat tersebut. Selanjutnya ada satu pendapat umum yang juga banyak di”amin”ni masyarakat kita; bahwa masa muda adalah masa-masa paling indah. Aku juga sama, tak sependapat dengan ini. Aku lagi-lagi merasa menjadi bagian diluar pendapat tersebut.

Pandapat terakhir, cukup berbeda. Bagi mereka yang tidak siap, pendapat ini justru dapat membuatnya takut menatap masa tuanya. Ya, ini soal masa tua. Masa yang di sebut-sebut sebagai masa paling sulit dalam fase kehidupan manusia. Pendapat ketiga ini aku mempertanyakannya. Aku demikian, karena dua fase sebelumnya aku selalu berada diluar pendapat umum.

Adanya pendapat mengenai tahapan masa tersebut yang sedemikan rupa aku memandangnya adalah wajar-wajar saja. Anak diidentikkan dengan masa paling menyenangkan, karena umumnya anak-anak memang terlihat ramai dan senang dengan dunianya sendiri. Tidak jarang mereka lupa orang disekitarnya saat tengah asik bermain. Begitu juga masa muda, keindahan yang dimaksudkan umumnya adalah masa-masa berbagi kasih dengan sesamanya, ini soal jatuh cinta, orang-orang menyebutnya masa pacaran. Sementara masa tua diidentikkan dengan sebuah beban dan tanggung jawab hidup yang sangat besar. Seolah-olah hidup dimasa ini (hanya) menanggung dan menyelesaikan masalah-masalah yang selalu berdatangan.

Bagiku, ketiga masa itu adalah sama. Sama-sama dalam kadar senangnya, indahnya dan kadar kesulitannya.

Mereka yang berpendapat diatas, mungkin melewatkan pandangannya ke sisi anak-anak yang tinggal dilingkungan keluarga yang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya saja teramat susah. Anak-anak korban buliying, teror dan “intimidasi” oleh teman-temannya. Jadi, masihkah bisa dibilang masa mereka disebut masa yang menyenangkan?. Soal, pendapat kedua, sebenarnya sudah banyak yang menentang, karena barangkali rasa sakit bagi mereka yang sudah tidak merasakan keindahan cinta pada masa tersebut lah menjadi salah satu alasannya. Untuk pendapat ketiga, saya kira berlebihan. Tidak sedikit kita bisa jumpai orang-orang tua dengan kemapanan dan kedamaian dalam hidupnya. Mereka tidak merasa terbebani hidup difase tersebut. Mereka mampu menjawab tantangan dan kebutuhan hidup. Kehidupan mereka sungguh menarik.

Jadi, bagi saya tidak ada satu fase masapun yang utuh cukup terwakili oleh satu atau dua kata; baik itu kata senang, indah ataupun sulit. Setiap masa ada tantangannya. Hidup adalah soal melewati dan menikmati masalah secara kontinou dan sungguh-sungguh. Kontinuo karena kita akan terus melewati masalah demi masalah tidak pernah selesai, sebelum surga diakherat menjadi milik kita. Bijaklah dalam menjalani siklus kehidupan ini. Perputaran siklus ini tidak mungkin berhenti. Karena itu, tidak perlu kita berlebihan, istilah jawanya “seng sedengan”.