Share Everything of My Wonderful Life

Because Sharing Is Caring

I love (ch)eating!!!

Siapa sih yang ngga suka makan?ngga adalah yah pasti. Manusia kan salah satu kebutuhan pokoknya adalah makan. Kita dimanjakan dengan kekayaan alam yang didapat oleh Tuhan untuk diolah menjadi makanan yang lezat. Hmmm… ada rendang, sop, ayam goreng, gurame bakar, steak, opor, dan masih banyak lagi makanan. Haha, bukan2, kali ini saya bukan ngomongin makanan, tapi ngomongin Cheating! Apakah Cheating juga merupakan kebutuhan pokok selain eating?hahaha… heh, jangan bilang iya!

Kalo nanya pernah cheating kayaknya 99% jawabanya pernah (hayo ngakuu…). Terlepas dari berbagai macam pengertian cheating itu sendiri ya. Bisa curang, bisa nyontek, bisa ngelaba (bahasanya sangat up to date skali -_-), dan masih banyak interpretasi dari kata cheating itu sendiri. Tentunya dengan bangga (hehe..ngga deng) saya akan mengatakan saya pernah melakukan cheating, tapi bukan hobi loh! Cuma kalo kepepet aja. Hahaha. But actually, you will never be proud of the achievement you got because you cheated.

Berbuat curang ibaratnya udah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari. Curang pas maen game sama temen, atau curang pas ujian, atau menipu si pacar, kayaknya udah bukan hal yang aneh. Dan yang paling terlihat dalam sebuah kecurangan di lingkungan kita adalah KORUPSI. Siapa sih yang ngga tau tentang korupsi yang terjadi di Negara kita tercinta ini.

Sebenernya kenapa sih para koruptor itu melakukan korupsi?sedikit berbagi ilmu, walaupun sebenernya saya ngga punya ilmu yang cukup untuk membicarakan masalah ini. Saya hanya ingin memberikan sedikit gambaran.

Korupsi (bahasa latin: corruptio dari kata kerja corrumpere = busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) menurut Transparency International adalah perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintahan rentan korupsi dalam praktiknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, di mana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.

Pemberantasan terhadap korupsi belakangan ini sedang gencar-gencarnya. Tapi begitu kompleksnya korupsi dan begitu banyaknya orang-orang yang terlibat mengakibatkan korupsi menjadi hal yang sulit untuk diberantas dan dihilangkan.

Dalam dunia percurangan (eis2..) ada yang namanya Fraud. Fraud adalah kecurangan mencakup segala macam yang dapat dipikirkan manusia, dan yang diupayakan oleh seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain, dengan saran yang salah atau pemaksaan kebenaran, dan mencakup semua cara yang tak terduga, penuh siasat, licik, atau tersembunyi, dan setiap cara yang tidak wajar yang menyebabkan orang lain tertipu.

Nah, hayoooo… coba diinget2, dari definisi diatas, pernahkah kalian melakukan fraud?hmmm….

Korupsi merupakan bagian dari fraud. Lalu, kenapa fraud atau korupsi bisa terjadi? Nah, mungkin gambar ini bisa sedikit menjelaskan.

segitiga fraud I love (ch)eating!!!

Gambar diatas adalah segitiga fraud.

Pressure. Adanya dorongan dalam melakukan korupsi. Sebagai contoh, disuruh atasan, atau tekanan karena keadaan.

Opportunities (kesempatan). Korupsi ada karena adanya kesempatan. Banyak kesempatan yang ada, misalnya peraturan yang tidak ketat, celah-celah dalam peraturan, dan lain-lain.

Rasionalisasi. Adanya pembenaran dalam setiap hal yang dilakukan. Contoh: saya nyontek soalnya yang lain nyontek, saya curang soalnya blum blajar, saya selingkuh soalnya dia rese. Rasionalisasi menganggap benar apa yang telah dia perbuat.

Jadi, untuk memberantas korupsi, kita harus memerangin si segitiga tersebut. Dimulai dari mengecilkan atau kalau bisa menghilangkan kesempatan seseorang untuk berbuat korupsi serta menghindari tekanan demi menjalankan kebenaran. Semoga saja korupsi bisa kita berantas sampai ke akarnya yaa…amiiieeenn…

Lalu kita harus bagaimana?budayakanlah berbuat jujur dalam segala hal yang kita lakukan. Karena dengan budaya, mudah-mudahan attitudes atau rasionalisasi bisa kita berantas yang mengakibatkan adanya korupsi itu. Semua bermula dari kita, dalam diri kita, maka mulailah dari hal yang kecil. Yaitu membenahi diri kita, jika jiwa telah siap, maka segala bentuk kesempatan atau tekanan untuk melakukan fraud akan tertangkis (alaah..) dengan iman kita!amiinnn.

Semoga bermanfaat.. =)

Mari berantas KORUPSI! Say I DON’T LOVE CHEATING! icon biggrin I love (ch)eating!!!

Cheers,

edited 168x300 I love (ch)eating!!!

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

4 Responses to “I love (ch)eating!!!”

  1. ndee says:

    hey mbak bunga, salam kenal.. beswan baru ya?? maaf kalo salah.. hihihi.. aku tertarik ma tulisanna coz akukan nak hukum, na tulisannya mbak bunga nyinggung kesana.. fu fu fu
    emang susah sih hilangin kebiasaan curang kayak gitu. parahna orang pada berasumsi kalo ntu udah membudaya. padahal keliru, budaya ya budaya, kebiasaan ya kebiasaan. suatu saat kebiasaan akan berubah menjadi kebudayaan, apabila hal tersebut sudah dianggap baik dan diterima oleh masyarakat. nyesek kalo korupsi udah masuk bagian dari budaya kita..

  2. tristyantoprabowo says:

    iya nich prihatin sekali ya kalau bangsa ini terus2an mempertahankan budaya cheating, maian suap, main curang kontraproduktif sekali…. apa kit aemang perlu hukum yang lebih tegas lagi ya? menurut bunga gimana?

  3. bunga says:

    @ ndee : iya, ak beswan baruuu..jyahahaa..YES mdh2an krn muka ak muda :P heheee ngga deng, ak beswan angkatan tua :P
    menariikkk niih, yg dsampein nde,,jadi terbuka bahwa kebiasaan sm budaya beda…sbenernya pengen mengumpamakan bahwa korupsi d negara ini udh kayak budaya,,dan mnurutku it karena aspek yang ketiga yaitu rasionalisasi/attitude-nya. Pembenaran atas apa yang dilakukan,,membuat semua yg melakukan it jadi blg “ah, dia aja melakukan”..hihiii..
    korupsi it skrg efek domino,,saking udh banyakny yg terlibat…ya harus berani mencabut akarnya..
    karena km org hukum, menurut km, hukuman apa sih yg pantes buat para koruptor?terus sebenernya salah dimana nih mengenai penegakan hukum untuk koruptor?nampak tidak adil (mnurut pandanganku sbg org awam) :)

  4. bunga says:

    @masbowo: ditulisanku ngga menyinggung hukum yah?hihi..padahal hukum berkaitan erat yah dengan pemberantasan korupsi. emm, untuk saat ini ak belum percaya sih sm keadilan hukum di negri ini…jadi ak lebih menyorot bagaimana peran kita untuk memberantas, dimulai dr hal kecil :D
    kalo diumpamain pake benang, korupsi it kayak benang kusut, pas kita tarik satu, eh ternyata bukan ujungnya, malah makin kusut. hukuman yang tegas tapi yang punya otoritas mengenai ketegasan hukum sndiri bs d suap sih nampak tdk berpengaruh banyak :(
    tapi patut kita coba :D #plinplan

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 in addition to 7?