Jika harus terus terjaga meski demikian aku kehilangan mimpiku, maka akan kulakukan

Jika harus terus tersenyum untukmu meski kadang hidup tak memberikan senyuman, maka akan kulakukan

Jika harus berpeluh keringat setiap saat, maka akan kulakukan

Jika harus kehilangan sebagian anggota raga ini, maka akan ku ikhlaskan

Jika harus berteman dengan kesedihan untuk selalu menjadi pelipur laramu, akan kulakukan

I’ll do… Jika Tuhan mempertemukanku dengan waktu itu

Karena memang engkaulah pemenang yang telah dipilih Tuhan

Hidup sering kali tidak memberikanmu kebahagiaan, tapi Tuhan selalu memberikanmu pilihan. Selalu ada pilihan.

Satu tarikan nafas panjang mengiringi kepergian itu

Berlalu dengan waktu tak terasa sudah

Menenggelamkan diri dalam telaga abu-abu

Membuat enggan beranjak dari tempat itu

Seolah ingin mencari kembali ruh yang dulu pernah hidup

Diantara lumpur dan gemercik air

Namun, tak kunjung juga ditemukan.

Melongok sebentar kearah dunia

Banyak jalan yang telah menanti

Namun tak tahu harus mengambil arah

Apakah harus mengikuti angin yang menerbangkan asa?

Atau memilih dengan mata tertutup?

Sedangkan dunia berubah dengan cepat dan akan meninggalkannya

Bagaimana denganmu?

Sementara hatimu penuh dengan bimbang dan keraguan

Bahkan tak tahu tujuanmu selanjutnya

Seperti anak ayam kehilangan induknya.

Kali ini saya ingin bercerita sedikit, sebuah cerita untuk direnungi dan digali hikmahnya.

Suatu malam saya berkendara menuju jantung Kota Pelajar. Dahulu kota ini tidak penuh sesak dengan kendaraan. Seiring dengan pergeseran waktu dan zaman, banyak orang lebih mudah untuk bermobilisasi. Seperti malam-malam sebelumnya yang tidak begitu ramai, saat itu adalah hari Sabtu malam. Ya, Sabtu malam jalanan Jogja terasa penuh sesak dengan motor dan mobil, denan berbagai tujuan masing-masing.

Saat itu, waktu sedang menunjukkan sekitar ba’da Isya. Saya bergegas untuk menarik gas motor saya dan berkendara menuju tempat tujuan saya. Kalau tidak salah saat itu saya ingin ke Toko Buku, hanya sekedar melepaskan penat saja. Di tengah perjalan di sekitar Jalan Lingkar Utara, lebih tepatnya di depan Monumen Jogja Kembali saya memelankan laju kendaran motor saya.

Ada apa gerangan yang menarik hati saya? Ternyata di Monumen Jogja Kembali jika malam tiba telah berubah menjadi Taman Pelangi. Taman elangi adalah sebuah rekreasi keluarga yang menyuguhkan berbagai model lampuh hias dan lampion yang indah. Banyak orang menghabiskan waktu malamnya disini. Tetapi saya tidak terkesima oleh indahnya lampion yang menghiasi di Taman Pelangi itu. Letak Taman Pelangi di Pelataran Monumen Jogja Kembali dan juga bisa dilihat dari pinggir jalan Lingkar Utara Yogyakarta memang mudah mengundang mata pengendara yang melintasinya untuk “singgah” sementara.

Tidak hanya letaknya yang strategis, tetapi juga lampion-lampion yang disuguhkan di Taman Pelangi cukup besar sehingga dengan mudah mampu menarik perhatian para pengendara. ┬áTidak seperti hari-hari biasa yang saya lewati ketika melintasi Taman Pelangi itu. Malam itu, saya benar-benar merasa ditegur oleh Tuhan. Bukan karena Taman Pelangi itu, tetapi oleh sebuah “frame” kehidupan yang sering luput dari pandangan saya.

Saya trenyuh ketika saya melihat seorang lelaki tua. Mungkin usianya sekitar 60 tahunan atau lebih. Bapak itu memanggul dua buah keranjang besar. Keranjang itu penuh berisikan buah kelapa. Bapak itu juga penampilannya sangat sederhana, memakai sandal jepit, celana panjang dan sebuah kaos yang lusuh, juga membawa buntalan sarung dipundaknya yang lain. Saya “mengcapture” momen ketika Bapak itu tengah asik melihat pemandangan yang warna-warni di Taman Pelangi. Bapak itu tengah berjalan melintasi jalan di depan Taman Pelangi itu. Pandangannya tengah asik bergelut dengan cahaya lampion yang menyala-nyala berbagai warna. Bukan raut keceriaan yang ditampakkannya, namun seberkas kesedihan yang saya tangkap di wajah Bapak itu.

Hati dan pikiran saya saat itu kemudian beradu cepat seolah ingin saling berlomba. Dengan sebuah “frame” yang saya dapatkan malam itu, saya berpikir dan menerka-nerka. “Apa yang Bapak itu pikirkan saat melihat ke dalam Taman Pelangi itu? sementara barang yang dibawanya masih penuh dua keranjang”, “Lelahkah dengan apa yang ia kerjakan saat ini?”, “Apakah dagangannya laku?”, “Berapa anaknya, bagaimana kondisi keluarganya”. Itulah beberapa pertanyaan yang saling berlomba muncul di hati dan pikiran saya.

Dua kondisi yang sangat berbeda, mungkin ia sedang berpikir, kapan Ia bisa mengajak anak dan isterinya. Meski memang terlihat sederhana dan tak berarti bagi orang lain, bagi saya menjadi sesuatu yang sangat “nampol” hati saya. Mengajarkan tentang bagaimana bersyukur dengan keadaan saya. Mengajarkan untuk menghargai apa yang sudah saya dapatkan saat ini, serta mengingatkan saya betapa besarnya pengorbanan kedua orang tua saya. Terimakasih Tuhan untuk malam yang sangat menyentuh itu. Seumur hidup, menjadi salah satu pengingat untuk selalu bersyukur kepadaMu.

Teringat pula oleh perkataan seorang kakak, “uang lima ribu bagimu mungkin tak berarti, tetapi bagi orang lain sangat berarti”.

“Kesabaran, pandai bersyukur dan sebuah hati yang penuh keikhlasan merupakan anugerah Tuhan yang paling manis”

Karang di tepian samudera terlihat begitu kokoh dan kuat,

Seolah tak peduli berkali-kali dihantam gelombang yang ganas

Namun, pada akhirnya ketegarannya perlahan tergerus oleh setianya waktu

Begitu pula dengan manusia

Apalagi hatinya tidak terbuat dari batu

Ahhh bukan waktunya bersedih

Ada waktunya untuk bisa merasakan bahagia

Bersabar adalah kuncinya dan ikhlas

Meski tidak mudah, meski sangat berat dan meski menghabiskan seluruh hati

Semua tergantung dari niat dan apa yang tertanam didalam hati dan otak

Bismillah… semua ada waktunya dan sangat penuh hikmah.

Hati hanya harus diajak untuk bersyukur, bersabar dan ikhlas sembari terus berusaha

Bersemangattttt bersemangatttt dan berlari untuk menjemput semangat serta bersembunyi dari rasa malas yang mengejar.

Si hitam malam mengajak berdansa
Ditemani derik dari jangkrik bersahutan menyapa
Ribuan mata tertutup lelah
Setelah satu waktu panjang ditemani kemilau cerah

Si bulan bertanya dalam diam
Menunggu bintang disembunyikan awan temaram
Setia ditemani suara beberapa kuda besi
Bila hanya sepi dan sunyi yang dirasakan ditengah ramai hiruk kota ini

Malam yang tenang berubah gaduh,

Setelah ketukan-ketukan lembut dalam keyboard yang tak pernah bertalian

Jarak yang membentang tak menjadi halangan menyambung lidah

Bahkan jemari seolah lebih pandai menari tanpa komando hati

Wahai kawan, tahukah engkau

Tiap ketukan dalam keyboardmu bisa menjadi menyakitkan

Manakala tak kau sertakan hati dalam setiap hentakannya

Wahai kawan, tahukah engkau

Sesungguhnya Tuhanlah yang membuka jalan kebaikan untukmu

Tapi engkau menghalanginya sendiri

Dihadirkannya sahabat yang siap membantumu

Tapi apa yang kau lakukan?

Sekali lagi apa yang dulu pernah terjadi terulang lagi

Sesungguhnya, tak belajarkah dari pelajaran yang lalu?

Memberi bekas luka kepada satu orang? Tak puaskah? Tak cukupkah?

Sungguh sudah cukup, cukuplah engkau sebagai contohnya

Tak mau kami mengikuti dan meniru jejak langkahmu

Memilih untuk menjadi terbatas tapi masih menyertakan hati dalam keterbatasan

Sungguh, hati ini miris melihatnya

Sekali lagi, sudah lupakah?

“Bawa hatimu dalam setiap kata yang keluar dari lisanmu”

(Note to my self)

Ya bunuh saja saya sekalian daripada hanya menyengsarakan dan membebanimu saja. Bunuh saya sekarang daripada harus hancur hati saya.

Titik hujan enggan beranjak dari dinginnya malam

Meninggalkan sepi yang terlewati

Mengajak sang rembulan bersembunyi dibalik hitamnya awan

Sendu malam terasa tanpa hadirnya bintang malam ini

Berapa banyak hati yang merasakan rindu

Ribuan, ratusan bahkan jutaan kah?

Ya… tak sendiri, di tempat yang jauh sana ada banyak hatiyang sedang menahan rindu

Rindu kepada orang terkasih, orang-orang tercinta dan rindu kepada apapun

Rindu, sebuah penantian yang begitu indah

Seperti daun yang menunggu angin menerbangkannya

Seperti awan yang terkondesasi dan menunggu tumpah

Seperti tanah yang menantikan langit menjatuhkan air tanda kemurahanNya

Seperti sebuah sungai yang selalu bermuara ke samudera

Selalu sabar menunggu waktu untuk menumpahkan rindu

Hanya saja manusia, ya dengan egonya tak pernah bisa bersabar

Tak bisa seperti daun yang setia kepada ranting hingga dilepasnya pergi bersama angin

Bahkan hanya untuk sebuah rindu

Sebuah rindu, sebuah anugerah, dan dua buah cobaan bagi sebuah keimanan

Rindu, bisakah engkau berpaling dan berpura-pura tak merasakannya?

Sementara hatimu berontak tersiksa merasakannya?

Karena engkau tak menyandarkan kepada Pemilik rindu yang sejati..

Apa yang bisa ku katakan lagi tentangmu?

Apa yang bisa ku pikirkan lagi tentangmu?

Apa yang bisa ku rasakan lagi tentang kehadiranmu?

Selain rasa syukur yang tak berkesudahan…

Ujian terberat dalam hidup, ketika disodori oleh kebahagiaan

dan apakah kita bisa bersyukur kepadaNya…

Wahai Pemilik hati kecil ini, terimakasih

Pagi itu, hari ke tujuh belas dalam bulan Januari 2012 yang cukup panas saya dengan tergesa meninggalkan gubuk kecil orang tua saya. Dengan hati yang membuncah dipenuhi rasa penasaran. Ya, pagi itu saya meninggalkan kamar kecil saya yang berukuran 3×3 m. Diantarkan oleh abah tercinta, menuju bandara untuk sejenak meninggalkan kota tercinta. Destinasi saya yang pertama adalah Kota Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dasar orang yang “ndeso” yang hanya jago kandang saja alias tidak pernah bepergian kemana-mana, pagi itu menjadi momen penentu bagi saya untuk men”judge” penerbangan saya yang pertama kali. Setelah di Airport, hal pertama yang menarik perhatian adalah semua orang berlalu lalang dengan kepentingan masing-masing. Setiap orang mempunyai destinasi, entah keluar negeri atau hanya di dalam negeri atau kemana saja lah.

Bagi saya mengamati orang bepergian entah di bandara, di stasiun atau di pelabuhan itu sangat menyenangkan. Bahkan bila saya harus menunggu cukup lama di bandara, stasiun ataupun pelabuhan maka saya akan dengan senang hati menikmatinya. Mengapa menjadi menarik? Ada banyak hal yang bisa saya amati dan dapatkan dari aktivitas menunggu itu. Mata saya bebas beredar kemana saja mengamati apa yang ada kemudian belajar dari apa yang dilihat.

Mulai dari barang bawaan orang, keluarga pengantar, petugas bandara, supir taksi, penjual makanan, petugas kebersihan, sampai beredar kepada toko-toko yang ada didalam bandara. Menyenangkan sekali bisa mengamati banyak hal. Ujung-ujungnya adalah bersyukur dengan kondisi sekarang yang telah Tuhan beri kepada saya.

Pukul 8.20 WIB, setelah menunggu di ruang tunggu bandara dan kembali mengedarkan mata di ruangan itu, akhirnya terdengar dari pengeras suara yang memanggil saya dan penumpang lainnya. Seseorang dengan nada suara sangat sopan, rapi dan dengan bahasa yang tertata rapi, memanggil untuk segera menuju pintu keberangkatan. Tak berapa lama satu persatu dari para penumpang bergegas naik mengikuti instruksi dari para petugas bandara.

Jantung pun tak mau kalah berpacu dengan langkah yang semakin sering diayunkan. Hari itu menjadi hari pertama kali menginjakkan kaki di atas mesin yang dulu pernah diciptakan oleh Wright bersaudara. Impian oleh hampir semua orang dan impian setiap anak kecil untuk bisa terbang. Ya, kali itu menjadi pengalaman pertama bisa terbang seperti burung. Meski tak bisa rasakan hembusan angin yang menerpa wajah secara langsung, namun dengan memejamkan mata seolah-olah seperti burung itu sudah cukup menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan.

Saya sampai detik ini masih teringat dengan salah satu perkataan dosen saya saat kuliah dulu. Kata beliau, naik pesawat itu ketika kamu sudah didalam pesawat maka ibarat kata kamu sudah di dalam peti mati, hanya tinggal tunggu giliran saja. Hahahaha, saya agaknya ciut juga nyalinya ketika ingat perkataan dosen saya tersayang itu. Namun, tak lama hati ini bisa berdamai dengan keadaan, menerima bahwa kematian sudah diatur oleh Tuhan bagaimanapun caranya. Saya hanya pasarah dan ikhlas sembari terus meminta kepada Tuhan untuk dilindungi dan diselamatkan.

Begitu, pintu pesawat telah ditutup, saat itu juga para pramugari dan pramugara mulai melakukan tugasnya. hilir mudik kesana kemari memeriksa sabuk pengaman dan mengedarkan permen. Suara mengenai instruksi keselamatan juga telah mengudara, sementara itu si supir pesawat itu mulai menggerakkan “si bongsor”. Detik-detik yang sangat mendebarkan. Detik-detik yang menentukan. Setiap detiknya menjadi sangat berharga dan seolah bergulir sangat lambat, seperti film yang diperlambat.

Mesin mulai menderu-deru. “Si Bongsor” mulai bergegas mengambil ancang-ancang pada posisi terbaik. Sayap telah di kembangkan, deru mesin juga semakin mengeras, sangat terasa “Si Bongsor”dalam kondisi yang siap untuk terbang. Pada akhirnya, perlahan kemudian menjadi semakin cepat dan semakin cepat lagi pesawat itu melaju, hingga pada saatnya ketiga roda utama penyangga badan “Si Bongsor” tak lagi berputar di atas tanah. Beberapa detik sebelumnya merupakan sensasi yang sangat mendebarkan sekaligus menyenangkan. “si Bongsor” berakselerasi untuk mendapatkan gaya dorong yang paling optimal agar bisa terbang. Setelah itu “mak less” seolah melayang akhirnya tak menginjakkan kaki diatas tanah lagi. Tapi terbang. Terbang seperti burung. Bedanya adalah wajah tak merasakan angin yang menampar pipi, juga tak perlu mengepakkan sayap seprti pada kebanyakan burung.

Sensasi yang luarbiasa, rasanya sangat menyenangkan sekali sekaligus menjadi ketakutan sendiri. Mengapa demikian, bagi saya menginjak tanah bumi merupakan suatu kondisi yang sangat aman (bagi saya lho). Tak lama setelah itu menyadari bahwa kaki tak lagi menapak di tanah (lebih tepatnya menginjak lantai dalam perut pesawat sih). Perlahan dan pasti semakin membumbung ke atas.

Benar adanya pepatah, di atas langit masih ada langit lagi. Penerbangan tersebut membawa saya menembus berbagai lapisan langit. Melintasi awan dengan berbagai bentuk. Pemandangan yang baru bagi mata saya. Takjub dengan ciptaan Tuhan. Dengan mudahnya Tuhan melukis kanvas langit dengan warna biru bersih yang sangat mengagumkan. Hati ini merasa kerdil, ciut nyali ini mengingat kebesaran Tuhan.

Pemandangan di bawah (terlihat dari jendela) juga tak kalah menakjubkan. Biasanya hanya ku lihat dari google map atau dari citra atau dari foto udara saja. Sungai yang terlihat seperti ular sedang berjalan-jalan di atas tanah. Rumah-rumah dan bangunan seperti miniatur rumah permainan monopoli. Teringat oleh kuliah salah satu dosen favorit. “Belajar geografi itu nanti kamu bisa tuh jelaskan ketika dipesawat bagaimana kondisi bumi mu tampak dari langit” begitu perkataan beliau yang terpaku menancap hingga saat ini di dalam pikiran dan hati saya. Lagi-lagi bersyukur dengan kondisi saya sekarang.

Hanya bisa menitikkan airmata melihat dengan mata kepala sendiri kebesaran Tuhan yang lain. Belajar terbang, belajar menghargai bagaimana hidup ini. Belajar menghargai apa yang kita punya. Belajar melihat dari “angle” yang berbeda. Belajar ikhlas dan pasrah. Meski hanya sebuah penerbangan biasa bagi sebagian besar orang, tetapi bagi saya apapun penerbangan yang saya lakukan selalu saya nikmati, selalu saya syukuri dan selalu saya anggap luarbiasa. Itu cara Tuhan membukakan hati saya, membuka pikiran saya mengenai sudut pandang yang berbeda.

Airplane Takeoff Belajar Terbang

Next Page »