Tertutup itu Beda dengan Pemalu

Tertutup itu Beda dengan Pemalu

Beberapa orang menganggap bahwa seseorang yang berkepribadian tertutup cenderung pemalu dan dijauhi oleh lingkungannya. Sedangkan orang yang berkepribadian terbuka merupakan orang yang ramai dan punya banyak teman. Padahal, pernyataan tersebut nggak sepenuhnya benar.

Sebagai orang yang menganggap dirinya tertutup, gue nggak pernah merasa jadi orang pemalu. Justru, gue bisa dengan mudahnya berkenalan dengan seseorang jika hal tersebut merupakan bagian dari pekerjaan. Gue juga cukup mudah beradaptasi dan bekerjasama dengan orang lain secara profesional.

Tapi, secara personal, jangan harap ada orang yang tahu bagaimana diri gue sebenarnya tanpa gue izinkan. Kepribadian yang selama ini dilihat orang lain adalah kepribadian yang gue ingin orang lain tahu. Itu asli kepribadian gue dan bukan dibuat-buat, kok. Hanya saja, gue mengerem diri gue sendiri untuk tidak terlalu menunjukkan diri gue yang sebenarnya kalau memang tidak diperlukan. Just see what I showed to you. Jadi, mungkin saja Lizta yang selama ini dikenal oleh lingkungan gue sekarang berbeda dengan Lizta yang dikenal di lingkungan sekolah gue dulu. That’s not a big deal as long as that is my genuine personality.

25 September 2014

Renungan di Tengah Deadline

Sorry, Your File Can’t be Opened

Sorry, Your File Can’t be Opened

Pernah nggak merasa bete, kesal, marah dan segunung perasaan jelek lainnya saat hal yang kita hasilkan menghilang tanpa jejak? Aku pernah. Setelah semangat untuk bikin tulisan yang menarik, memilih foto-foto kece dan siap di-publish di blog, ternyata file-nya corrupt.

 

Rusak.

 

Error.

 

Nggak bisa dibuka.

 

 

Untitled

 

Padahal ketika menulis sudah berada pada mood yang pas, di tengah malam dengan secangkir cappuccino favorit. Rasanya seperti sudah di depan store KFC trus mbak-mbaknya bilang ayamnya habis.

 

Kesal tingkat dewa.

 

Sempat berniat bikin tulisan yang serupa. Tapi pasti hasilnya beda. Haissh… Kayaknya aku harus mulai mencari software dan cara-cara lain supaya bisa menyelamatkan file seperti ini kalau terjadi hal serupa.

 

Nasib.. Nasib…

Nasib.. Nasib…

Nasib orang memang tidak ada yang tahu. Seorang anak perempuan dari keluarga menengah ke atas, yang saya kira akan menjadi wanita karier yang sukses, justru berakhir sebagai ibu rumah tangga tanpa pendidikan memadai. Ia berjuang mencari biaya sekolah untuk anak-anaknya yang terlahir dari dua ayah yang berbeda. Tanpa pernah merasakan indahnya masa kuliah. Justru sempat terancam putus sekolah menengah.

Sedangkan satu anak perempuan lain yang cengeng dan canggung, dan berasal dari kalangan menengah ke bawah, justru terus mendaki karier hingga ke puncaknya. Ia menjelajahi dunia dengan kacamata baru lewat titel di belakang namanya. Padahal, dulu ia selalu pasrah jika harus berakhir menjadi buruh pabrik di kawasan rumahnya.

Kita memang tidak bisa menentukan nasib seseorang berdasarkan nasib keluarganya. Memang, kita tidak akan pernah bisa memilih untuk terlahir di keluarga seperti apa, miskin atau kaya, terpuruk atau terpandang. Tapi, sebanyak apapun materi orang tuamu, itu tetap milik mereka. Maka, sebenarnya kita tidak punya apa-apa selain diri kita sendiri. Usaha kita lah yang nantinya membentuk kita menjadi seperti sekarang. Jangan salahkan tuhan, jangan salahkan nasib, jangan salahkan orang-orang di luar diri kita. Karena apapun yang kita peroleh, adalah imbalan atas apa yang telah kita lakukan.

Materi memang bukan segalanya. Tapi percayalah, kekurangan materi sering membuat banyak orang gelap mata, merasa tidak berdaya, dan menyalahkan Tuhan atas ketidakmampuannya mengubah nasib.

Niat Itu Penting. Tapi…

Niat Itu Penting. Tapi…

 

Semuanya itu berawal dari niat. Niat mengerjakan tugas, niat mengumpulkan uang, niat bikin sesuatu, dan niat-niat lainnya.

Habis itu baru deh, mulai usaha. Usaha pertama itu melawan ego sendiri. Lawan ego buat malas-malasan, lawan ego buat belanja berlebihan, dan lawan ego-ego lainnya. Kemudian beranjak ke usaha-usaha lainnya.

Trus, jangan lupa bikin deadline. Deadline selesaikan tugas, deadline uang terkumpul, dan deadline selesai kerjaan apapun itu.

Nah, deadlinenya jangan lupa ditepati. Kalau janji tanggal 1, selesaikan tanggal 1. Kalau deadline hari senin, selesaikan hari senin.

Nggak ada gunanya bikin deadline kalau nggak ditepati. Kayak orang habis mandi harus pake baju, malah lupa dan telanjang di depan banyak orang.

Nggak perlu juga usaha bikin orang lain percaya sama deadline kita. Bikin diri sendiri yakin saja dulu buat menepati deadline. Kalau diri sendiri saja nggak bisa menepati janji sendiri, gimana orang lain mau percaya?

Makanya balik lagi, harus ada niat. Termasuk niat mengerjakan semuanya sesuai deadline. Kalau niat saja sudah susah, gimana mau mengerjakan hal tersebut? Tapi kalau cuma niat doang tanpa usaha, sama saja bohong. Plus, kalau udah niat, usaha, tapi lewat deadline, sia-sia juga, kan?

When Cover Both Side Doesn’t Exist in Reality

When Cover Both Side Doesn’t Exist in Reality

Sebagai seorang lulusan jurnalistik, empat tahun menghabiskan waktu di bangku kuliah dengan berbagai materi jurnalistik bikin gue sadar kalau cover both side cuma ada di dunia jurnalistik. Di dunia nyata? Belum tentu. O iya, sekarang bahkan makin banyak jurnalis koran (kuning) yang nggak pakai asas itu lagi. libraBack to topic, hampir semua orang selalu ingin dirinya berada di pihak yang benar. Even dia jadi pihak yang salah, akan ada usaha semaksimal mungkin untuk membela diri dan tidak terlihat buruk di mata orang lain. Termasuk saat bercerita kepada orang ketiga. Semua yang dicerna oleh pihak ketiga adalah cerita berat sebelah dan memihak pihak yang bercerita.

 Sekarang tinggal kita yang jadi pihak ketiga, mau menerima cerita mentah-mentah atau mencari tahu kebenaran dari pihak lainnya?

 

12 Maret 2014

Tulisan di tengah deadline

Kapan Anda Akan Meninggal?

Kapan Anda Akan Meninggal?

Kenapa ada orang yang ingin mengetahui kapan ia akan meninggal?

Pertanyaan ini mengusik saya ketika ada seorang teman yang menjawab ingin mengetahui kapan maut akan menjemputnya ketika ditanya, “kalau dikasih kesempatan melihat masa depan, apa yang ingin kamu lihat?”

Well, setiap orang memang ingin tahu masa depannya seperti apa. Tapi membicarakan 3 jalinan nasib – jodoh, rezeki, dan umur – seperti menyetir kapal di tengah kabut. Kita tidak akan melihat apa-apa kecuali dalam batas tertentu.

Kalau setelah orang itu tahu kapan dia meninggal, memangnya dia mau apa?

Jika ia meninggal dalam keadaan baik, terhormat, dan meninggalkan kesan indah dalam kenangan orang lain, mungkin ia akan bersyukur. Kemudian menggunakan kesempatan hidupnya sebaik mungkin demi terwujudnya masa depan yang telah ia lihat. Atau mungkin saja ia menjadi tinggi hati dan bersikap sesukan hati kemudian berkilah bahwa apapun yang dilakukannya toh ia akan meninggal dengan baik dan terhormat.

Jika ternyata ia meninggal dalam nasib yang buruk, terkena musibah, atau bahkan tidak dikenali jasadnya, lantas apa yang bisa ia lakukan? Toh sudah begitu garis hidup yang ia akan jalani. Mungkin saja dengan itu ia akan terpuruk dan pasrah sehingga menjadikannya sebuah kenyataan. Atau bisa jadi ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk merubah nasibnya dengan cara apapun.

Mungkinkah usahanya akan merubah nasibnya? Kenapa tidak? Nasib memang sudah dituliskan. Namun bagaimana prosesnya merupakan pilihan masing-masing individu. Siapa yang menanam, maka ia yang akan menuai. Apapun yang seseorang lakukan akan kembali pada dirinya.

Satu hal yang menjadi pelajaran saya ketika disodorkan pertanyaan dan pertanyaan itu. Menurut saya nasib di masa depan bukanlah sebuah hal yang patut untuk diketahui lebih cepat. Karena pengetahuan yang tercerna secara prematur mungkin akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Masa depan adalah sebuah misteri. Biarkan saja ia tetap menjadi misteri. Sehingga kita mampu belajar dari kehidupan dan mampu memilih jalan yang akan kita lalui. Toh selalu ada pilihan ketika kita memilih jalan. Selanjutnya, biarkan tuhan yang berbicara.

Pekerjaan Itu (Bukan) Milik Bapak Moyangmu

Pekerjaan Itu (Bukan) Milik Bapak Moyangmu

Nepotisme sudah bukan hal aneh di Indonesia. Honestly, saya malu mengatakan ini. But that’s the truth. Apa sih yang tidak bisa dilakukan lewat nepotisme? Mulai dari penentuan kelas, golongan, pemenangan tender, hingga lowongan pekerjaan. Untuk yang terakhir, sudah tidak terhitung banyaknya nepotisme yang dilakukan.

Bapak saya bercerita, betapa beliau muak dengan segala jenis nepotisme itu. Sekitar tahun 80’an Bapak lulus dari SMEAN 1 Serang (kini SMKN 1 Kota Serang). Dengan otak secemerlang itu sebenarnya saya pun heran mengapa beliau memilih SMEA dibanding SMA. Bukan bermaksud mendiskreditkan lulusan kejuruan, hanya saja pada era itu lulusan SMEA/SMK memang ditujukan untuk orang-orang yang ingin melanjutkan ke dunia kerja, bukan dunia perkuliahan. Tapi setidaknya Bapak menjadi salah satu lulusan terbaik pada angkatannya.

Sekitar 48 berkas lamaran Bapak kirim ke berbagai instansi dan perusahaan baik swasta maupun negeri. Sekian lama menunggu hasilnya nihil. Tak ada satu pun panggilan kerja datang. Hingga suatu saat panggilan kerja itu datang bersamaan. Membuat Bapak kelimpungan memilih mana yang harus diambil. Akhirnya, pilihan terakhir tinggal memilih antara lamaran dari BNI dan BPD. Bapak memutuskan mengikuti tes di BPD. Dari 50 orang pelamar disaring menjadi 10 orang. Kemudian disaring lagi menjadi 5 orang. Akhirnya dalam seleksi terakhir terpilih 3 orang pelamar untuk mengikuti tes akhir. Salah satu dari ketiganya adalah Bapak.

Demi mencapai masa depan yang lebih baik Bapak menempuh perjalanan dari sebuah desa di pinggiran Kabupaten Tangerang menuju Kota Kembang. Seleksi Bapak lakukan sebaik mungkin dan begitu optimis dengan hasilnya. Hingga seminggu kemudian panggilan tak kunjung tiba, Bapak pun nekat mendatangi kantor BPD untuk bertanya perihal lowongan tersebut.

“Pak, pengumuman hasil tes kemarin udah keluar belum ya,” ujar Bapak kepada satpam.

“Oh, itu orangnya sudah mulai bekerja. Ada dua orang,” ujar satpam sembari menunjuk dua orang di dalam ruangan itu.

Bapak berjalan lunglai keluar gedung BPD. Terduduk di depan kantor itu. Hingga pada saat jam istirahat kedua pekerja yang tes bersama Bapak datang menghampiri dan mengajak ngobrol. Usut punya usut, salah satunya merupakan anak Kepala BPD Tangerang. Sedangkan sisanya adalah anak Kepala BPD Rangkas Bitung. Sedangkan Bapak sendiri hanyalah anak seorang petani yang juga seorang kusir. Apalah artinya sosok seorang anak kusir dibandingkan anak pejabat berpengaruh?

Bapak pun pulang. Sesampainya di rumah bapak melempar seluruh piagam penghargaan, ijazah, dan berkas berharga lain dengan emosi. Kakek dan Nenek terkejut dan bingung dengan polah putra kebanggaannya.

“Buat apa ujang[1] sekolah pinter-pinter mak, apa[2], dapet piagam ini-itu, kalau akhirnya nggak bisa dapet kerjaan yang ujang mau gara-gara mereka anak pejabat sedangkan ujang cuma anak tukang kuda!!” teriak Bapak kala itu sambil tersedu.

Jang, rezeki orang itu nggak akan tertukar. Asal kemampuannya matang, pasti pekerjaan itu bakal datang untuk kamu,” ujar kakekku kala itu.

Itu hanya salah satu dari sekian banyak kekecewaan Bapak pada proses nepotisme kala melamar pekerjaan. Ucapan Kakek kala itu membuat Bapak menepis kekecewaannya. Hingga akhirnya Bapak bekerja dari satu bidang ke bidang lain. Mulai dari menjadi buruh pabrik di sebuah perusahaan makanan ringan, sales produk, supir bis, hingga akhirnya bekerja di sebuah perusahaan hingga kini. Bapak memang tidak menaruh dendam atas semua kejadian itu. Tapi masih ada pahit yang terasa kala Bapak menceritakannya.

Untuk mencapai kemapanan yang saat ini Bapak reguk memang membutuhkan waktu berpuluh tahun. Bapak belajar kemandirian untuk mencapai kemapanan. Bapak bangga bisa melakukannya tanpa mengandalkan nama orang tuanya. Semua hasil kerja kerasnya adalah miliknya, untuk istrinya, dan untuk putra-putrinya.

Itulah mengapa, Bapak mengajarkan putra-putrinya untuk selalu menjadi orang yang mandiri. Orang yang bangga akan latar belakang orang tuanya. Serendah apapun itu di mata orang lain. Karena Bapak tahu, mental yang kuat terbentuk dari keinginan untuk bersusah payah dan bekerja keras.





[1] panggilan anak lelaki dalam bahasa sunda

[2] Panggilan ayah dalam bahasa sunda


Antara telur dan pernikahan

Antara telur dan pernikahan

Apa yang akan lo lakuin kalau menemukan kelakuan absurd dari keluarga lo sendiri? kalo gue, cuma bisa mijit pelipis. Pengennya sih jedotin kepala ke tembok. Tapi takut sakit. :3

Tadi malem nyokap baru aja cerita kalau beliau abis goreng telor. Biasa kan? Yang nggak biasa itu nyokap ngangkat telor tapi lupa matiin kompornya. Bayangin wajan yang minyaknya sampe habis dan berasap saking panasnya. Wohoo.. keren sih sebenernya, kalau nggak inget itu bisa aja bikin seisi rumah ludes dilalap api. Btw api lalapannya keren ya, rumah. Gue aja kalo makan lalapannya paling cuma kemangi. *abaikan*

Disaat seperti itu, timbullah niat buat ngecengin nyokap..

“Dih belum punya cucu aja udah pikun,” ujar gue sambil ngeloyor lewat.
“Kamu aja yang telat nikah,” ucap nyokap kalem sambil topang dagu di ruang makan.
jleb!
(ulang pake kapital biar dramatis)
JLEB!!
Ini maksudnya apaaaa???????, ujar gue dalam hati. Bayangkan sodara-sodara, umur gue baru aja nyampe 21 bulan kemaren dan nyokap gue bilang gue telat nikah???!!!

“Mamaaahhh, kan baru 21 tahun!!” jerit gue sembari menghampiri nyokap.
“Ih mamah waktu umur segitu udah punya kamu. Kamu udah mau masuk TK. Udah hamil si Ika (ade gue),” ngeles nyokap.

Gue pun cuma bisa membisu.