Ganasnya sang Ibukota namun aku bangga

27 Aug

Kudus, kota kretek penuh pesona. Bukanlah sebuah kota yang besar dan merupakan salah satu tujuan untuk pulang kampung. Namun bukan ini yang akan aku bahas, memang aku lahir dan besar disana. Meski aku pernah merasakan 3 tahun tinggal di Brebes saat TK sampai kelas 2 SD dan akhirnya kembali lagi ke kota yang terkenal akan rokoknya ini. Sampai sekarang aku tidak meninggalkan kota kebanggakaanku setelah selesai SMA aku kuliah di salah satu universitas swasta di Kudus. Tapi, meski aku menempuh pendidikan di kotaku sendiri, aku tidak ingin menjadi katak dalam tempurung walau terkadang kenyataannya berkata lain. Terlihat saat aku sedang berlibur atau melakukan perjalanan. Jika biasanya orang-orang pergi dari kota ke desa namun lain dengan diriku, aku dari desa ke kota. Tiba dikota besar dan berada ditengah-tengah anak gaul, sisi sebagaianak kampungku terkadang muncul.

Keganasan Pertama, jangan terpisah dengan keluarga

Bukan pertama kalinya aku datang ke ibukota. Banyak cerita mewarnai perjalananku di kota metropolitan itu. Pernah dahulu aku terpisah dengan ibu dan kakakku saat menaiki kereta api. Itu terjadi saat aku kelas 1 SD. Aku ingat betul ditengah perjalanan, tepatnya Bekasi, Kakakku diturunkan oleh seseorang saat banyak orang turun diperjalanan karena laju kereta melambat. Tanpa disadari kereta melaju kencang Ibuku pun ikut melompat untuk menyusul kakakku yang sudah turun. Dan kita terpisah, seperti sebuah sinetron, aku hanya dengan ayahku. Itu adalah salah satu serpihan cerita saat aku di Jakarta. Ditahun ini pun aku memiliki cerita akan ganasnya Jakarta. Pernikahan sepupu yang dilakukan di Gedung Bea Cukai Jakarta membuat keluargaku ikut rombongan bus yang berisi keluarga dari Kudus. Aku berangkat dengan Ibu juga Adikku mewakili keluargaku, karena Ayah dan Kakakku ada pekerjaan. Total 4 hari perjalananku dari Kudus ke Jakarta hingga tiba kembali kerumah.

istirahat dikamar hotel

istirahat dikamar hotel

Keganasan kedua, sediakanlah sepatu/ sandal flat

Hari pertama merupakan perjalananku menuju Ibukota, berbekal 1 koper berisi baju ganti Ibu, aku dan Adikku beserta perlengkapan lainnya. Senang memang aku akan ke Ibukota karena aku memiliki saudara yang tinggal disana tepatnya di daerah Pasar Minggu. Aku langsung menghubunginya karena rencananya keluargaku dan keluarga Pakde akan menginap disana.  Dihari kedua, setelahsemalaman tidur di bus akhirnya sampai juga di Mess angkatan laut didaerah Pulau Gadung. Padahal sepupuku angakatan darat. Namun siangnya ada kabar bahwa mess yang kita gunakan mendadak akan digunakan oleh jendral atau siapa aku tak tau, jadi rombongan kami dibagi dua. Keluargaku dan keluarga Pakde mendapat jatah menginap di salah satu hotel di Jakarta Utara. Karena acara akad nikah dimulai sore hari, kami hanya sempat tidur siang dihotel karena harus hadir di Gedung Bea Cukai Jakarta. Karena mungkin panitianya sibuk entah bagaimana, mobil yang seharusnya menjemput rombongan yang di hotel tidak juga datang. Akhirnya Pakde menyewa mobil sewaan yang ada di halaman hotel dan ternyata sang sopir orang Medan. Dengan kencang mobil itu membawa keluargaku dan keluarga Pakde menuju lokasi. Setelah usai,saat perjalanan kembali ke hotel, diperjalanan Budhe ingin ke Tanah Abang, akan tetapi kata sang sopir waktu tidak memungkinkan. Untuk mengobati keinginan Budhe akhirnya kami tiba di ITC. Antara senang dan sedih buatku. Kami tak kembali ke hotel dulu untuk ganti baju mengingat sudah senja dan acara resepsi pukul 19.00. Alhasil kami salah kostum karena masih mengenakan pakaian untuk kondangan benar-benar menjadi pusat perhatian. Berjalan dengan high heels itu tak masalah, namun kalau berkeliling di pusat perbelanjaan bisa membuat betis berotot. Sukses kelelahan disana, kami kembali ke hotel. Sang sopir bagai guide bagi kami, sepanjang perjalanan selalu bercerita tentang Jakarta salah satunya betapa mengerikannya berkendara disana karena banyak pengendara yang asal-asalan apalagi di jam sibuk semuanya ingin cepat.

dandan buat akad nikahan

dandan buat akad nikahan

resepsian di gedung bea cukai

Sampai dihotel kami bersiap kembali ke gedung bea cukai untuk menghadiri resepsi pernikahan. Sambil dandan yang secepat kilat itu kami juga packing untuk menginap di rumah saudara yang ada di Pasar Minggu. Kami sengaja tidak menginap di hotel, karena ingin bersilaturrahim. Kami terlambat tiba di lokasi resepsi karena ternyata kami tidak dijemput oleh mobil panitia pernikahan, dan kami melewatkan moment pesta pedang pora.Mobil sewaan tadi akhirnya jadi kendaraan yangmengantar kami lagi. Didalam gedung,kami bertemu saudara yang tinggal di Pasar Minggu dan mereka sudah menyiapkan dua mobil. Ternyata lokasi resepsi pernikahan dengan rumah sudara di Pasar Minggu cukup jauh, kami sampai sekitar pukul 22.00. Aku tak menyangka rumah besar itu sedikit berbeda dengan dulu ketika aku sempat terpisah dengan Ibu dan Kakakku. Bertemu dengan sepupu-sepupu yang usianya sepantaran denganku, kami mengobrol hingga larut malam. Akhirnya, aku diajak mengelingi Jakarta. Karena biasanya saat mereka mudik ke Kudus kami selalu jalan-jalan, meski bertemu setahun sekali atau saat ada moment penting seperti saat itu. Dengan senjata dua motor, aku ijin dengan Ibu juga Bulek. Well, kami berempat keluar rumah pukul 00.00.

saudara-saudara tukang usil

saudara-saudara tukang usil

monas dimalam hari

monas dimalam hari

Keganasan ketiga, jadi diri sendiri

Keliling Jakarta tengah malam itu kalau kata Syahrini sesuatu banget. Berkeliling sambil melihat gedung-gedung yang berdiri disepanjang jalan. Dan akhirnya kami sampai di Monas. Karena aku perempuan dari daerah, sedangkan mereka bertiga laki-laki yang terbiasa hidup di Ibukota dan memang hobi mereka yang usil akupun kena ulah mereka. Salah satu saudaraku menyuruhku untuk foto dengan background Monas lalu berteriak “Woy aku wes tau ning monas, iki fotoku ( Woy aku sudah pernah ke monas, ini fotoku)” dengan logat jawa yang kaku karena dia tidak bisa bahasa jawa. Antara malu dan aku tak peduli tetap saja asyik foto-foto. Kamipun akhirnya ngopi sambil memandangi monas dan langit Jakarta diiringi lalu lalang manusia yang bermalam mingguan. Setelah puas di Monas aku meminta untuk pulang karena aku sudah lelah dan malam telah larut meski disana masih sangat ramai. Dan kejahilan 3 saudaraku berlanjut, bukannya langsung pulang tapi malah menuju suatu tempat minimarket atau fastfood yang diatasnya sebagai tempat nongkrong yang nama tokonya gabungan dua buah angka berbahasa inggris dengan simbol angka yg berwarna merah. Karena lelah dan merasa asing dengan tempat tersebut aku meminta untuk pulang. Namun mereka tak memperdulikan aku, malah mereka membeli minuman yang aku memang tak pernah merasakannya dan makanan ringan. Lalu aku diajak keatas ruangan itu. Benar sekali, dilantai atas nampak paha-paha perempuan gaul Jakarta bertebaran dan laki-laki yang meminum minuman yang berlogo macam-macam yang sepertinya mengandung alkohol entah berapa persen. Perasaan sangat tidak nyaman semakin meningkat, selain karena berjilbab aku merasa berada ditempat yang salah dimalam yang selarut itu. Merengek meminta pulang, aku malah semakin diolok-olok ketiga saudaraku bahwa aku Ndeso, akupun menangis ditempat itu. Malu karena sudah terlanjur menangis aku jadi terlihat konyol. Kamipun akhirnya pulang. Memang sebagai manusia kadang tidak selalu berada di zona kehidupannya sehari-hari jadi harus bisa menyesuaikan diri, tapi malam selarut itu aku benar-benar anak kampung yang mendadak ada di area anak gaul Ibukota membuatku tidak nyaman. Dan tiba dirumah saudara pukul 03.00. Langsung aku lari menuju kamar tanpa memperdulikan ketiga saudaraku, aku menangis. Benar-benar merasa Jakarta sangat kejam saat itu, fisik sudah lelah tapi masih ada hal-hal seperti yang aku temui.

naik kereta gantung

naik kereta gantung

bersama adik dan keponakan

bersama adik dan keponakan

Keganasan keempat, keadilan harus ditegakkan

Pagi hari berikutnya, aku menuju Taman Mini Indonesia Indah dan itu bukan pertama kalinya karena pernah tiba disana saat duduk dibangku SMP. Keluargaku dan keluarga Pakde diantar dari Pasar Minggu untuk menemui bus rombongan keluarga Kudus. Sampai di TMII kami bagai anak kecil yang dilepas di taman bermain, kami semua berpencar kesana kemari. Aku tetap saja bersama keluargaku dan keluarga Pakde diikuti cucu Bulek yang aku singgahi tadi malam. Cucu Bulek sudah akrab denganku, jadi dia ikut berkeliling dengan rombangan kami. Kejadian tidak mengenakkan juga terjadi disini, saat memasuki area kereta api kita mengantri karena kereta belum tiba. Begitu kereta tiba, kata penjaga kita harus menuju antrian sebelah satunya. Oke kita mengantri disebelah kanan yang awalnya dibagian sebelah kiri. Kereta yang ditunggu pun datang, kami berusaha untuk masuk akan tetapi keponakan yang aku gandeng tidak bisa masuk karena berebutan. Akhirnya aku dan keponakan tidak dapat tempat duduk juga Ibu dan Adikku. Ibuku kecewa kita sudah mengantri lama dan kasihan dengan kepoankanku, keluarga Pakde yang sudah didalam kereta lalu menyuruh kami lapor ke petugas. Kami melapor kenapa orang-orang yang baru datang malah langsung masuk ke kereta tanpa mengantri dahulu kesebelah kiri seperti yang kita lakukan tadi. Mereka malah menyuruh kita menunggu lagi karena kereta akan berjalan. Dengan kecewa kita memilih untuk pergi saja dan meminta karcis kita kembali agar diganti.

mengantri kereta di TMII

mengantri kereta di TMII

berkeliling TMII

berkeliling TMII

Belajar dari keganasan

Setelah puas di TMII, siangnya rombongan Kudus pamitan dengan keluarga Bulek yang di Pasar Minggu itu. Tak lupa aku saling meminta maaf dengan sadaraku yang telah menjahiliku tadi malam. Dan akhirnya bus membawa kami pulang ke kampungku. Dari perjalananku itu aku mendapat banyak pelajaran. Meski kesan kampungan atau Ndeso itu muncul, aku sangat mencintai kota kelahiranku. Tanpa desa, kota juga tak akan maju kan? Karena dalam hidup itu saling membutuhkan dan saling menghargai. Kemudian, tak selamanya kita berada di zona nyaman jadi harus bisa berdaptasi. Dan juga, kerasnya kehidupan jangan sampai melupakan Tuhan. Jakarta memang keras, namun meski aku merasakan keganasan-keganasan itu aku tetap bangga karena merupakan bagian dari Indonesia serta banyak kisah perjuangan merebut kemerdekaan serta pusat ekonomi, pusat pemerintahan ada di Jakarta. Selain itu pula, aku banyak pelajaran dari Ibukota negara Indonesia ini.

18 Responses to “Ganasnya sang Ibukota namun aku bangga”

  1. sucilestari 28/08/2012 at 00:09 #

    Pati Seven Eleven, sebut merk, hehe. Aku gak nyangka loh dian ampe nangis, heuheu. Shock kali yah. Tapi inilah Jakarta, melting pot. Sega rupa orang ada disini. Jadi kapan ke jakarta lagi ? :P

  2. dianratnasari 28/08/2012 at 00:28 #

    sucilestari :

    Pati Seven Eleven, sebut merk, hehe. Aku gak nyangka loh dian ampe nangis, heuheu. Shock kali yah. Tapi inilah Jakarta, melting pot. Sega rupa orang ada disini. Jadi kapan ke jakarta lagi ?

    ih sebut merek..
    Mbak itu saya jam 3 malem dan yes saya berjilbab sendiri dan saya di kerjain habis2an disana..nangis deh ah,,,

  3. johantectona 28/08/2012 at 01:49 #

    haha ga bilang” sih klo ke jakarta, klo bilang kan aku bisa ikut ngerjain hahahahhaaaa

    itu masih sebagian kecil dari jakarta diiiannn, bukan cuman paha dan dada sayap pun ada

    jakarta itu istimewa loh.. karena dari jakarta kita pun bisa belajar.. kudus juga keren.. semuanya keren.. termasuk penulis dan tulisannya ini :)

  4. dianratnasari 28/08/2012 at 05:13 #

    johantectona :

    haha ga bilang” sih klo ke jakarta, klo bilang kan aku bisa ikut ngerjain hahahahhaaaa
    itu masih sebagian kecil dari jakarta diiiannn, bukan cuman paha dan dada sayap pun ada
    jakarta itu istimewa loh.. karena dari jakarta kita pun bisa belajar.. kudus juga keren.. semuanya keren.. termasuk penulis dan tulisannya ini

    udah bilang pas itu mas jo nya pulang ke surabaya
    iya mas, ini yang aku alamin secara langsung
    iya mas bener banget
    mungkin kalau suasananya lagi ga capek kali ya
    terus jam12-3 malem muter jakarta emang isinya begituan, ahahahaha
    penulisnya doang yang keren mas..hahahha

  5. tristyantoprabowo 28/08/2012 at 10:37 #

    harusnya clubbing sekalian hehe…. Jakarta oh Jakarta banyak pengalaman dari setiap orang yang ke sana, pernah jg aku diancam sama preman waktu di Terminal Lebak Bulus kak… gara2 gak mau dicaloin sama dia..weleh-weleh.. pernah juga nyasar pas naik kopaja waktu nyari kos2an temen hehe….

  6. johantectona 28/08/2012 at 20:31 #

    dianratnasari :

    johantectona :
    haha ga bilang” sih klo ke jakarta, klo bilang kan aku bisa ikut ngerjain hahahahhaaaa
    itu masih sebagian kecil dari jakarta diiiannn, bukan cuman paha dan dada sayap pun ada
    jakarta itu istimewa loh.. karena dari jakarta kita pun bisa belajar.. kudus juga keren.. semuanya keren.. termasuk penulis dan tulisannya ini

    udah bilang pas itu mas jo nya pulang ke surabaya
    iya mas, ini yang aku alamin secara langsung
    iya mas bener banget
    mungkin kalau suasananya lagi ga capek kali ya
    terus jam12-3 malem muter jakarta emang isinya begituan, ahahahaha
    penulisnya doang yang keren mas..hahahha

    ohhh yang waktu itu ya.. iya ya, aku inget.. untung tuhh aku balik klo ga kamu nangisnya bisa sampe pagi hahahaha

    pengalaman yang mengesankan :) jangan takut ama jakarta, jakarta itu baik kok..

  7. dianratnasari 28/08/2012 at 21:10 #

    tristyantoprabowo :

    harusnya clubbing sekalian hehe…. Jakarta oh Jakarta banyak pengalaman dari setiap orang yang ke sana, pernah jg aku diancam sama preman waktu di Terminal Lebak Bulus kak… gara2 gak mau dicaloin sama dia..weleh-weleh.. pernah juga nyasar pas naik kopaja waktu nyari kos2an temen hehe….

    hahhaha….bener banget,sampe ada ungkapan siapa suruh datang ke jakarta.hihihhi

  8. dianratnasari 28/08/2012 at 21:11 #

    johantectona :

    dianratnasari :

    johantectona :
    haha ga bilang” sih klo ke jakarta, klo bilang kan aku bisa ikut ngerjain hahahahhaaaa
    itu masih sebagian kecil dari jakarta diiiannn, bukan cuman paha dan dada sayap pun ada
    jakarta itu istimewa loh.. karena dari jakarta kita pun bisa belajar.. kudus juga keren.. semuanya keren.. termasuk penulis dan tulisannya ini

    udah bilang pas itu mas jo nya pulang ke surabaya
    iya mas, ini yang aku alamin secara langsung
    iya mas bener banget
    mungkin kalau suasananya lagi ga capek kali ya
    terus jam12-3 malem muter jakarta emang isinya begituan, ahahahaha
    penulisnya doang yang keren mas..hahahha

    ohhh yang waktu itu ya.. iya ya, aku inget.. untung tuhh aku balik klo ga kamu nangisnya bisa sampe pagi hahahaha
    pengalaman yang mengesankan jangan takut ama jakarta, jakarta itu baik kok..

    nangisnya sampe ngesot-ngesot kali ya masjo?hahaha
    *tak akan kubayangkan*
    Jakarta itu baik..iya deh…hihihi

  9. mas ican 29/08/2012 at 11:36 #

    Wuih perjalananya lengkap :D
    Eh tapi coba ditampilin juga persiapan keberangkatannya, atau kalau ada mungkin oleh2nya juga :P

  10. dianratnasari 29/08/2012 at 21:06 #

    mas ican :

    Wuih perjalananya lengkap
    Eh tapi coba ditampilin juga persiapan keberangkatannya, atau kalau ada mungkin oleh2nya juga

    hihihi
    oke aku tambahin mas…
    makasih sarannya..
    hihihihi
    :-P

  11. Gilang Septian 29/08/2012 at 21:56 #

    eh oktober aku mau ke jakarta loh :D

  12. dianratnasari 29/08/2012 at 23:38 #

    ikutan dong…mauuuu….
    moga jakartanya GAK ganas lg

  13. Andrey 30/08/2012 at 00:17 #

    Baru sekali sich ke jakarta dan langsung jatuh miskin….

  14. dianratnasari 30/08/2012 at 14:55 #

    Andrey :

    Baru sekali sich ke jakarta dan langsung jatuh miskin….

    Kok langsung jatuh miskin?kena keganasan Ibukota juga?

  15. inibudijepang 02/09/2012 at 05:13 #

    Hmmmm,…………. kenapa gak nyoba gaya mentos saat di Club…??
    buat judul film bagus tu..”perempuan berjilbab ditengah obralan paha” haha….aneh ya?

  16. dianratnasari 04/09/2012 at 07:37 #

    inibudijepang :

    Hmmmm,…………. kenapa gak nyoba gaya mentos saat di Club…??
    buat judul film bagus tu..”perempuan berjilbab ditengah obralan paha” haha….aneh ya?

    jiaaah malah jadi judul film ini piye tho mas…
    bukan club malam kok..hanya tempat nongkrong semacam fastfood/ minimarket

  17. SefdyThen 07/09/2012 at 10:14 #

    hahahahaha…mbak dian..mbak dian…culture shock y ceritanya…ya itulah ibukota…disini yg berlaku hukum rimba..yg kuat itulah yg menang…hohoho…ehm,hrsnya dbwa ke equinox mas bowo y…hehehe

  18. dianratnasari 09/09/2012 at 02:41 #

    SefdyThen :

    hahahahaha…mbak dian..mbak dian…culture shock y ceritanya…ya itulah ibukota…disini yg berlaku hukum rimba..yg kuat itulah yg menang…hohoho…ehm,hrsnya dbwa ke equinox mas bowo y…hehehe

    HAHAHA
    iya ini cerita ada-ada aja ya…
    hayo kalian mau makin iseng ke saya

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 2 multiplied by 5?