Sebuah Kisah

5 Nov

First Love. Aku tak tau pasti kapan sebenarnya aku mengalami hal itu. Entah itu saat duduk dibangku sekolah dasar, menengah pertama atau menengah atas. Namun satu yang aku ingat, aku pernah merasa hatiku kacau saat namanya disebut. Apakah itu yang namanya cinta?Aku masih belum tau.

Sebagai murid baru yang baru tiba aku disambut hangat oleh SD Mawar 02. Seperti masuk ke kandang macan ah bukan kandang ilmuwan tepatnya, aku berada disebuah kelas yang isinya orang-oramg pintar. Sangat berbeda denganku, murid kelas 6 berasal dari sekolah biasa yang pindah ke sekolah ternama namun dekat dengan rumah dan memiliki otak pas-pasan. Padahal di SD ku yang dulu aku lumayan mahir, masih lumayan. Makin sialnya, wali kelas di SD baruku membuat bangku terpisah antara murid pandai, setengah pandai, dan pas-pasan seperti aku. Seperti kubu-kubuan. Aku berharap masuk kubu deretan murid setengah pintar, dan salah ternyata aku berada di antara manusia pas-pasan. Tetap aku terima nasibku. Entah kenapa saat ulangan caturwulan atau tes mencongak aku duduk paling belakang, mungkin karena nomer absenku terahir. Tepat 3 baris didepanku adalah manusia terpintar di kelas 6 SD faforit itu. Dia bernama Reyhan. Aku tetap optimis saat ulangan meski duduknya satu-satu aku tak akan meminta bantuan manusia itu. Hasilnya bisa diduga, aku memang pas-pasan. Aku lupa, kapan pertama kalinya aku bicara dengan Reyhan. Manusia pintar yang aktif disaat otak nya berpikir. Pernah aku tak sengaja melihatnya sedang memainkan tangan sambil berpikir keras untuk menemukan jawaban soal, malah seperti menari.

Suatu ketika, sepulang dari kunjungan ke sekolah di Yogjakarta, Kepala Sekolah dan Wali Murid kelas 6 yang killer itu mengumumkan berita baik kepada kita murid kelas 6. Entahlah itu baik atau tidak, mereka membuat sarapan pagi yang berupa laci kecil yang didalamnya terdapat soal-soal, jika siapa berangkat lebih pagi maka bisa mengambil satu soal dari 5 laci dan menjawabnya dengan benar maka akan mendapat nilai tambahan. Mungkin karena aku merasa otakku pas-pasan aku memanfaatkan peluang itu. Suatu pagi aku berangkat sekitar pukul 06.00, hasilnya aku nomer satu tiba di sekolah sampai menunggu gerbang dibuka. Tanpa diduga tiba-tiba Reyhan datang, aku kaget dan dia sepertinya juga sama sepertiku tapi entahlah. Kaget karena melihat antusiasku atau melihat sosok manusia berotak pas-pasan seperti aku.Saat gerbang dan pintu kelas dibuka, aku dan dia berlari menuju meja guru. Aku masih ingat, dia semangat hingga tak sengaja mendorongku dengan sikunya. Sekali lagi aku kaget, namun aku diam karena memang kami tak bicara sejak aku jadi murid baru disitu. Apa karena gossip dari teman-teman sekelas yang mencoba mencomblangkan kami. Aku tak tau siapa yang mulai punya ide itu. Setelah mendapatkan soal aku mencoba menjawab dan dia sudah selesai,sangat cepat berbeda denganku, lalu kami mengembalikan kembali ke laci dan tiba-tiba murid lain datang satu persatu. Tak menyangka sepagi itu aku berdua, tapi aku masih belum menyadari apa yang aku rasa karena masih SD. Semakin lama gossip untuk kita semakin heboh, hingga membuat kita malu-malu kucing jika harus bertemu. Dasar teman-teman, aku jadi malah penasaran dengan Reyhan. Tak sengaja aku mengamati saat istirahat dia membeli makanan apa, apa yang akan dilakukan ketika dia berpikir, tapi aku masih malu untuk meneruskan rasa penasaranku. Aku merasa masih SD terlalu dini untuk menyukai seseorang. Aku tak menggubris perasaanku kepada murid terpintar di SD faforit di kotaku. Sangat tak mau menjadi seperti temanku yang bernama Bintang sudah berani mengakui bahwa dirinya dan Andrian saling menyukai. Aku tak mau seperti itu, masih ingin menjadi diriku sendiri seorang manusia kelas 6 yang bertingkah manis dan berambut panjang.

Aku pun teringat saat dulu musimnya mengisi buku diary dengan nama dan identitas teman-teman sekelas. Seperti menjadi sebuah trend, aku mengikutinya. Aku tak membeli sebuah diary, namun sebuah buku unik yang background kertasnya indah dengan gambar-gambar lucu. Aku meminta kepada teman-temanku untuk mengisi bukuku itu. Kurang satu yang aku minta yaitu Reyhan. Aku pura-pura saja cuek tapi perasaanku menyuruhku untuk meminta kepadanya. Akhirnya aku memberikan buku itu dan dia mengisinya. Setelah dia menyerahkan buku itu dan seperti tanpa ada perasaan apa-apa aku merasa hatiku semakin tak karuan. Ini bukan cinta, bagiku itu kata tabu. Aku membaca tulisannya ketika sudah sampai dirumah, kupandangi gaya khas tulisannya yang rapi itu, kutemukan kata yang menarik. “Zodiak : Gemini (Gagah dan Berani)”, aku langsung terbahak saat membacanya. Darimana dia bisa mengartikan Gemini menjadi seperti itu, tapi itulah dirinya yang unik. Aku ingat juga saat upacara bendera, yang biasanya tugasku menjadi pembaca doa tiba-tiba hari itu pengibar bendera. Dan aku dipasangkan dengannya dan satu lagi temanku. Karena posisiku pengibar, aku salah melakukan,dasar cengeng setelah usai dan tiba giliran kepala sekolah aku ijin balik kanan menangis dikelas. Gila memang, kesalahan mengibarkan bendera kenapa harus menangis dikelas,hahaha lucu jika ingat.

Di SDku terdapat ekstrakulikuler pramuka. Reyhan mendapat posisi sebagai ketua regu Semut. Aneh, dia memang manusia cerdas namun unik. Semut, aku ingat dengan regunya itu. Biasanya regu laki-laki itu singa, harimau, atau hewan lain entah apa filosofinya hingga mengambil regu Semut.

Kebiasaan aku dan teman-teman perempuan kelasku bermain bersama di rumah Indah,salah satu murid perempuan kelas 6 yang paling ditakuti namun rumahnya memang strategis. Setelah bermain kami selalu saja ada agenda untuk bersepeda memutari desa yang sebenarnya beda desa denganku. Tiba dijalur sebuah rumah, aku sebelumnya tak tau itu jalur rumah siapa. Namun tiba-tiba saat melewati sebuah rumah biru teman-teman berteriak “Reyhan…” namun sambil terus melaju, aku memandangi pintu rumah yang terbuka melihat sesosok orang yang membuat hatiku merasa aneh sedang tertidur didepan ruang televise yang terlihat dari luar dan dia memakai kaus dalam, namun aku tak sempat memperhtikan dengan seksama karena aku masih melaju dengan sepedaku.

Sebenarnya masih banyak cerita antara aku dengannya selama 1 tahun di sekolah itu. Namun 1 tahun itu membawa sebuah arti bagiku. Hingga akhirnya aku melanjutkan ke sebuah SMP Negeri Jendral Sudirman. Aku memulai dunia baru. Berpisah dengan teman-teman, meski ada beberapa yang satu sekolah denganku. Namun, teman-temanku kebanyakan masuk SMP Negeri Tanjung, yah sekolah menengah pertama terfaforit dikotaku. Bisa ditebak, kubu otak pintar dan sedikit pintar sukses masuk sekolah itu berbeda denganku masuk sekolah nomer 3 dikotaku. Apakabar Reyhan? Dia ternyata juga berada di SMP Negeri Tanjung. Dan kami berpisah. Aku mengingatnya dalam buku diaryku. Tak tau dengan dirinya, ah aku sempat berpikir mungkin dia tidak ada perasaan apapun padaku selama ini hanya aku yang konyol memiliki perasaan berbeda jika didekatnya, disebut namanya, dan semua tentang dirinya. Aku masih memegang bahwa cinta masih tabu. Sehingga aku terbenam dengan ketabuan dangkal menurut otak pas-pasan sepertiku. Hingga akhirnya aku mendengar Reyhan memiliki pacar, begitu juga denganku. Dan kami belum bisa bersama hingga sibuk dengan dunia kami sendiri. Mungkinkah dia sebenarnya memang cinta pertamaku? Namun aku tak tau dengan dirinya. Aku berpikir, jika dia jodohku maka tak akan lari kemanapun dan kita pasti akan bertemu seperti kata orang-orang jodoh tak akan kemana. Biarlah akan kuingat selalu kenangan-kenangan indah ini. Selamanya.

No comments yet

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is melted ice?