Bahasaku dan Bahasa Persatuan Negeriku

13 Oct

Kontroversi hati..mempertakut..labil ekonomi..statusisasi kemakmuran..harmonisasi..konspirasi kemakmuran..

Vicky

Pada awalnya pasti agak kebingungan mengartikan kata-kata tersebut dan bahkan sampai sekarang susah dimengerti apa maksud kalimat tersebut. Maksud hati ingin terlihat berwibawa tetapi apa yang terjadi malah menjadi bahan cemoohan masyarakat. Karena apa? Yah, bahasa-bahasa yang disampaikan sangat jarang kita dengar dan tidak lazim digunakan dimasyarakat kita. Jujur saja, aku sendiri masih tak mengerti apa yang ada dalam pikirannya saat melontarkan bahasa-bahasa itu.

Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah salah satunya yang gunakan sehari-hari saat dirumah. Namun dibalik beragamnya bahasa itu dipersatukan dengan bahasa nasional yaitu Bahasa Indonesia. Dalam aturan berbahasa Indonesia yang baik dan benar sendiri sudah ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Janganlah menambahkan sesuatu yang ingin terlihat keren seperti yang dilakukan Vicky tersebut. Bukannya harus bangga kita memiliki bahasa persatuan meski masing-masing daerah mempunyai bahasa tersendiri.

Saat aku kecil, aku pernah tinggal di salah satu kota yang berbatasan langsung dengan Jawa Barat yaitu Brebes. Bagaimana aku tak bingung, aku lahir dijawa dan bahasa ibu yang biasa diucapkan adalah bahasa jawa daerah Kudus. Sedangkan disana menggunakan bahasa sunda. Kecamatan Banjarharjo, yah kurang lebih 3 tahun aku tumbuh disana. Bahkan disana terdapat pelajaran bahasa daerah yaitu bahasa sunda. Agak sulit dulu memang saat mengerjakannya. Tapi, aku memiliki andalan saat berkomunikasi disana yaitu dengan menggunakan bahasa kebanggan bangsa Indonesia yaitu Bahasa Indonesia. Aku bersyukur akan adanya bahasa persatuanku ini, bagaimana jika tak ada bahasa itu. Namun, aku semakin bangga akan kekayaan yang dimiliki Indonesia, Dian kecil mengenal sedikit bahasa sunda meski asli orang jawa.

Brebes, 3 tahun aku pernah disini

Brebes, 3 tahun aku pernah disini

Aku tumbuh kembali dikota kelahiranku yaitu Kudus. Menggunakan bahasa sehari-hari dengan bahasa jawa. Ada keunikan tersendiri, satu kota di Kudus pun tiap kecamatan memiliki perbedaan. Seperti mengatakan iya dalam bahasa jawa akhirannya ditambah dengan tambahan. He’e ra dan he’e a . Dan yang menjadi cirikhas bahasa daerah Kudus diakhiri dengan nem. Misalkan gonem = punyamu. Jika dikota lain adalah gonmu = punyamu.Luar biasa, bagaimana tidak bangga satu kota saja memiliki beragam dan cirikhas bahasa.

Kudus,kota kelahiranku

Kudus, kota kelahiranku

Kemudian, aku sempat 1,5 bulan di Pekalongan. Terulang lagi seperti kisahku saat aku tinggal di Brebes. Banyak kata-kata yang tak aku mengerti. Meski sama antara Kudus dan Pekalongan berada di Jawa Tengah, perbedaan logat dan bahasa terlihat. Mungkin jika di Kudus adalah watak’e, namun dipekalongan cok’e. Bercerita jika di Kudus adalah cerito, namun dipekalongan ndongeng. Dan masih banyak yang lainnya. Sekali lagi, aku bangga akan kekayaan bahasa yang dimiliki negeri ini.

Pernah 1,5 bulan disini, Pekalongan

Pernah 1,5 bulan disini, Pekalongan

Saat ini hampir 1,5 bulan aku berada di Pati, dan kota ini bersebelahan dengan kota aku lahir yaitu Kudus. Baru menyebrang ke kota sebelah pun bahasa daerah sudah berubah lagi. Ciri khas di Pati ada tambahan kata leh dan go pada akhir kata yang diucap. Misalkan kata siapa ini jika di Kudus sopo iki namun di Pati sopo leh iki. Kemudian kata bagaimana jika di Kudus piye tetapi di Pati piye go? 

Saat ini aku disini, Pati

Saat ini aku disini, Pati

 Bayangkan, aku baru saja menyebut beberapa kota saja di Indonesia. Bagaimana dengan seluruh kota di Indonesia? Akan ada bermacam-macam bahasa daerah yang muncul. Saat aku bertemu kawan dari Makasar dan saudara dari Kalimantan, mencoba belajar mengucapkan bahasa mereka apa yang mereka katakan? Katanya masih kejawa-jawaan. Begitupun sebaliknya, mereka mengucapkan bahasa daerahku juga demikian masih kental kedaerahannya mereka juga.

Sungguh bersyukur dan bangga aku lahir di Indonesia, tak hanya kekayaan alam dan keanekaragaman budayanya, bermacam-macam bahasa daerahnya dan memiliki satu bahasa persatuan yaitu Indonesia. Tidakkah hebat orang Indonesia, memiliki bahasa ibu, bahasa persatuan dan terkadang bisa menguasai bahasa asing lainnya. Jika kita renungkan, pasti kita akan bersyukur juga pada para pemersatu bangsa dahulu yang ingin menyatukan keanekaragaman yang dimiliki bangsa ini. Lestarikan bahasa daerahmu, banggalah dengan bahasa persatuanmu Bahasa Indonesia. Janganlah merusak bahasa persatuanmu itu hanya demi “wah” belaka.

Aku bangga akan Indonesia, aku bangga dengan Bahasa Indonesia.

2 Responses to “Bahasaku dan Bahasa Persatuan Negeriku”

  1. Rissa Devina 13/10/2013 at 12:21 #

    kalau di Banyumas, pelafalan “a” tetep diucapkan “a” ndak seperti daerah wetan yang justru diucapkan “o”.

    Bahkan sesama bahasa ngapak (tegal, kebumen, cilacap, banyumas) juga masing-masing punya ciri khas pelafalannya sendiri. Yang ciri khasnya biasanya ditandai dengan nada ucapann..

    Nice post mbak :)

  2. dianratnasari 13/10/2013 at 12:50 #

    terimakasih rissa..bahasa daerah Indonesia emang banyak yah..

    salam buat gilang..

    kamu bisa daftar ga?

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What do bees make?