Denganmu *1

11 May

Namaku Brian Afandy. Biasa dipanggil Fandy meski itu nama belakangku. Usiaku 27 tahun. Aku bekerja di salah satu perusahaan swasta yang terletak di Indonesia. Kali ini aku akan membagi sedikit kisahku. Tentang dia, seseorang yang hadir dalam hidupku.

Tanggal 15 awal mula kami dipertemukan di tempat kerja.  Amalia Soraya Setiawan dan biasa disapa Lia. Perempuan yang awalnya aku anggap biasa saja itu baru bertugas dikantorku karena kantorku akan membuka cabang baru lagi sehingga dia  datang kemari untuk mengisi sementara kekosongan yang ada. Pertemuan pertama berjalan dengan biasa. Aku yang memang terbiasa berangkat pagi akhirnya membalas salam perkenalannya. Kulihat kedatangan pertamanya disambut baik oleh teman-teman sekantorku. Kesan ramah pada dirinya langsung terpancar.

“Lia..” sapa Lia sambil mengulurkan tangannya tanda salam perkenalan dan dibarengi dengan senyuman yang tulus.

“Eh iya mbak, Aku Fandy..” jawabku dan Aku balas dengan senyuman terbaikku.

Itulah perkenanlan pertamaku dengannya, terkesan biasa saja. Hingga hari berganti hari aku masih merasa tak ada yang spesial antara aku dan Lia. Namun, pada suatu hari ada kisah pertamaku dengan Lia.  Pimpinan kantor memiliki empat buah undangan konser musik klasik yang diadakan malam hari. Berhubung pimpinan tidak dapat hadir, beliau mengutus wakil pimpinan yaitu Ibu Tata juga rekan kerja yang lain yaitu Pak  Indra. Entah kenapa tiba-tiba tugas untuk menghadiri acara itu jatuh juga kepadaku dan Lia. Berangkat dengan Ibu Tata, Pak Indra serta Lia, kami berempat diantar driver menuju tempat acara berlangsung. Aku masih biasa saja, awalnya aku tak sebelahan dengan Lia karena posisiku berada disamping Pak Indra. Hingga akhirnya ada jam istirahat kami berempat mengobrol dan aku masih biasa saja,namun usai istirahat aku duduk disebelah Lia. Aku mulai tersadar dia betul-betul menikmati acara malam itu dan tiba-tiba ada sesuatu yang lain saat aku tak sengaja memandangnya dari samping. Lia sungguh manis dan ramah. Kemudian dia memandangku,aku mencoba mengalihkan pandanganku. Ah aku memang tak begitu menyukai musik klasik berbeda jauh dengan Lia. Itulah pertama kalinya aku pergi dengannya meski tak berdua saja.

Hari sabtu dan minggu kantorku memang libur. Saat itu Lia yang ternyata tidak mudik sedang pergi bersama teman sekantorku, Nuri ke salon. Dan tanpa sengaja Nuri memberi nomor teleponku untuk menjemput Lia karena Nuri meninggalkan Lia sendirian. Ternyata Nuri terburu-buru ada sebuah acara. Aku yang juga sama-sama tidak mudik,yah karena aku juga bukan asli warga sini sama dengan Lia, akhirnya aku menjemput Lia untuk mengantarkan Lia pulang ke kostnya. Maklum saja, Lia belum mengenal  kota ini. Itulah pertama kalinya aku memboncengkan dia. Aku masih biasa saja belum ada perasaan apapun pada Lia. Aku masih bersikap biasa karena dia memang sedang butuh bantuan jadi aku membantunya.

Suatu hari aku mengetahui bahwa Lia sudah memiliki pacar di kota asalnya. Ah aku masih tetap saja cuek. Namun seiring berjalannya hari intensitas pertemuan kita semakin rutin. Akhirnya entah kenapa aku bisa semakin rutin berhubungan melalui pesan singkat yang ada  di handphoneku. Seperti pepatah jawa, tresno jalaran soko kulino. Perasaan yang lain, sama seperti saat di acara konser musik klasik kembali muncul. Ah ada yang lain, mulai mengganggu pikiranku. Kupikir aku sering berkomunikasi lewat aplikasi chatting di hp itu adalah say hello biasa lagipula Lia sudah memiliki kekasih disana.

Keesokan harinya akhirnya aku tau, ternyata Lia sama-sama menyukai salah satu grup musik yang sama denganku. Padahal orang-orang kantor tak ada yang menyukainya. Merekapun geleng-geleng kepala, kenapa kesukaan kami berdua sama meski yang musik klasik aku tidak. Akhirnya kita menjadi semakin dekat. Hingga pada suatu hari dia akan mudik, aku pun mengantarnya sampai ke terminal. Menemaninya menunggu busnya tiba. Sampai dia kembali ke kota inipun aku menjemputnya lagi di terminal, sekalian aku juga usai mudik.

Sampai pada suatu malam aku mengajak Lia mencari makan bersama karena sesama anak kost dan dia mengiyakan. Makan malam pertamaku dengannya, tak kusangka aku memandang wajahnya didepanku seperti ini berdua dengannya. Sudah lama sejak beberapa tahun yang lalu aku putus dengan mantan, aku sudah tak perduli dengan wanita dan asik dengan kesibukanku sendiri. Tapi yang kurasakan dengan Lia ini ada yang lain, yah aku jatuh cinta. Kupandangi Lia dalam-dalam, dia ternyata lucu dan tak seperti wanita lain. Gaya ceritanya dan imajinasi-imajinasinya, mebuatku semakin penasaran akan dirinya. Ah tapi aku sadar, dia memiliki seseorang diluar sana. Aku pun memilih memendam perasaanku. Berat, aku yang biasanya tak peduli mengapa menjadi seperti ini. Lia berhasil mengusik hatiku.

No comments yet

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 4 * 6?