Archive for June, 2011

Supir angkot, angkot mogok, klakson angkot.

positif Supir angkot, angkot mogok, klakson angkot.

Sebenernya kejadian ini udah lama, tapi baru sempet posting sekarang. hhe.

Pagi ini saya ke kampus pake angkot. Seperti biasa daerah Cicaheum luar biasa, maklum terminal. Tapi pagi ini tidak hanya terminal yang bikin macet. ada penyebab lain, yaitu angkot mogok. Rupanya orang-orang lagi didera sindrom harus sampai tujuan dengan segera. Klakson pun berbalas-balas. Bunyinya nyaring menembus kabut yang memang hari itu cukup padat. Berbeda dengan keadaan bapak supir angkot yang mobilnya mogok. Dia berusaha mendorong mobilnya menjauhi tengah jalan, dibantu oleh seorang penjual asongan. Keringat pun bercucuran, meski dari jarak yang cukup jauh saya bisa lihat itu. bajunya basah oleh keringat. Tapi dia terus mendorong, apalagi dengan bunyi klakson yang semakin tinggi. Pasti yang ada dipikiran bapak Angkot itu adalah “HARUS CEPAT-CEPAT KEPINGGIR”.

Akhirnya setelah sekitar 15 menit, angkot mulai sampai dipinggir. Bunyi klakson masih nyaring terdengar. Bapak supir angkot lalu balik badan, sambil mengatupkan dua tangannya dia sedikit menunduk dan tersenyum minta maaf. Kontan suara klakson mulai berhenti. Orang-orang mungkin sadar serentak, bahwa bukan salah Bapak angkot, angkotnya mogok, bukan maunya si Bapak kalo angkotnya susah didorong. Lagipula mereka hanya menuntut tanpa memberi kontribusi bantuan apapun. Tapi supir angkot itu tetap merasa bersalah dan akhirnya minta maaf.

Saat itu mood saya lagi jelek-jeleknya. Sedang marasa bahwa dunia itu serba salah. Tapi dengan adanya kejadian supir angkot tadi saya sadar bahwa saya masih beruntung dan masih ada yang keadaan yang jauh di bawah kita. Hal tersebut membuktikan bahwa Tuhan selalu punya cara tersendiri untuk memberikan makna, menyadarkan kita.

NB: Dengan berpikir positif di pagi hari mood kita sepanjang hari itu akan tetap positif. icon biggrin Supir angkot, angkot mogok, klakson angkot. so, stay positive in the morning.

Tags: ,

Ikhlas itu Sulit

smile Ikhlas itu Sulit

Mungkin kalimat ini sudah biasa didengar : “Belajar untuk ikhlas dan mengikhlaskan sesuatu itu sulit”

Yaa…saya sangat setuju dengan kalimat tersebut. Untuk mengikhlaskan sesuatu terutama hal yang sangat kita inginkan dan tidak kita dapatkan itu sangan sulit sekali. Mungkin ada kaitannya juga dengan menaruh harapan ataupun keyakinan yang berlebih bahwa hal teresebut akan dan pasti kita dapatkan.

Padahal sebaik dan sekeras apapun kita berusaha, penentu hasil akhir adalah Tuhan. Bahkan hal yang sudah 99% akan kita dapatkan, jika Tuhan berkehendak tidak kita dapatkan, maka dalam 1% hal tersebut berubah menjadi hal yang tidak bisa kita raih. Saya masih harus belajar ikhlas dan mengikhlaskan sesuatu.

Ketika kita terlalu berharap terhadap sesuatu, maka semakin besar kekecewaan yang kita dapatkan saat tidak bisa meraihnya. Begitu pula saat kita menaruh keyakinan yang berlebih dalam usaha kita untuk mendapatkan sesuatu, jika hasilnya jauh dari yang kita perkirakan, maka semakin besar kekecewaan kita. Hal yang manusiawi bahwa mengatasi kekecewaan itu sendiri membutuhkan waktu, sebanyak apa waktu yang dibutuhkan itu bergantung pada masing-masing pribadi. Ada yang membutuhkan banyak waktu ataupun sedikit waktu untuk bisa mengatasi kekecewaan tersebut.

Namun hal yang saya pelajari adalah untuk memperkecil tingkat kekecewaan yang nantinya akan membuat diri kita sulit enerima adalah dengan mebatasi tingkat harapan dan keyakinan kita pada sesuatu. Dengan menetapkan suatu standar yang tidak berlebih secara tidak sadar kita menyiapkan diri kita untuk menghadapi sebuah kegagalan. Hal itulah yang saat ini sedang saya coba terapkan. Mungkin ini hanya berupa tindakan preventif, hemmm…seperti biasa kita dengar..”lebih baik mencegah daripada mengobati”. Prinsip itu pula yang saya terapkan saat saya memulai sesuatu, lebih baik membatasi harapan daripada kecewa berlebihan. icon biggrin Ikhlas itu Sulit

Untuk keyakinan sendiri memang sulit untuk dibatasi, karena seberapa besar kita yakin kita bisa mendapatkan sesuatu akan berpengaruh pada usaha kita untuk bisa mendapatkan sesuatu. Oleh karena itu dalam mendapatkan sesuatu saya selalu berusaha yakin sepenuhnya akan kemampuan saya untuk mendapatkan hal tersebut.

Kembali lagi pada ikhlas, belajar ikhlas itu sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. Saat kita mengalami suatu kekecewaan atau kegagalan adalalah hal yang wajar kita merasa tidak ikhlas dan mengeluh. Tapi selalu ada maksud dan tujuan tertentu untuk kita dimasa mendatang. Bukan saat itu kita merasakannya, namun suatu saat, akan ada masanya dimana kita akan berkata “ahaa..jadi ini..” saat kita mendapatkan sesuatu lain untuk menggantikan kekecewaan kita dimasa lalu. Tuhan selalu punya skenario indah dibalik tindakannya untuk kita, selalu ada hal yang patut kita syukuri termasuk suatu kegagalan. Oleh karena itu dengan berusaha berpikir lebih positif maka akan membantu kita untuk belajar lebih ikhlas dan mengikhlaskan sesuatu…termasuk kehilangan.

Ingat, Tuhan menyukai prinsip akuntansi, balance. Segala sesuatu selalu seimbang, ada kegagalan ada juga keberhasilan. Mungkin kita gagal karena hal ini bukan hal yang kita butuhkan, hanya sekedar hal yang kita inginkan. Tuhan memberikan apa yang sesungguhnya kita butuhkan bukan yang kita inginkan. So, stay postive. icon biggrin Ikhlas itu Sulit dan belajar mengikhlaskan dengan pikiran yang positif untuk membantu kita..

Tags: , ,

Drama : Nyata dan Fatamorgana

big drama Drama : Nyata dan Fatamorgana

Saya sangat suka menonton film. Apalagi drama percintaan yang berakhir bahagia. Ya, saya memang seorang remaja wanita dengan daya khayal tinggi dan terobsesi pada cerita hidup dengan pola Cinderella Story. Tapi saya tak pernah malu mengakui itu. Biasanya setelah menonton film saya selalu sedikit mengambil sifat dari tokoh dalam film tersebut untuk dimainkan dalam dunia nyata. Seolah saya adalah bagian dari film tersebut, dan hidup saya sendiri merupakan skenario drama.

Hal tersebut tidak sepenuhnya aneh, karena pada kenyataannya hidup kita merupakan drama, takdir merupakan skenario kita, penulis skenario kita sendiri adalah Tuhan, tapi yang membedakan adalah bahwa insan manusi itu sendiri merupakan sutradara bagi drama yang diperankan olehnya.

Mungkin sebagian dari diri kita merasa puas setelah menonton suatu drama dengan akhir yang bahagia, karena memiliki sebuah kehidupan yang bahagia merupakan impian dari setiap manusia. Drama sendiri merupakan cerminan dari kehidupan manusia, suatu ulasan dari realita, yang diberi bumbu untuk dapat dinikmati. Dan menurut saya pribadi drama itu sendiri merupakan perwujudan dari keinginan tak disadari manusia, bahwa beginilah seharusnya hidup.

Bahkan bagi seseorang yang sudah cukup bahagia atau setidaknya berpikir bahwa hidupnya tekah bahagia memerlukan drama, memerlukan cerita. Karena selalu ada ketidakpuasan terhadap kehidupan yang dimiliki. Banyak ketidakpuasan dalam hidup saya, tapi memang sifat dasar manusia yang tidak pernah puas kan?

Dengan menonton suatu drama, mengambil peran tokoh tersebut dan memainkan tokoh tersebut dalam kehidupan nyata, serta berpikir seolah tokoh tersebut merupakan diri saya, hal tersebut membantu saya menjalani hidup yang kadang tidak kooperatif. Sangat melelahkan disaat kita benar-benar ingin beristirahat.

Hanya saja yang menjadi perbedaan adalah, dalam drama yang kita saksikan dan kita tonton, kita mengetahui akhir drama tersebut, tapi dalam drama nyata kehidupan kita, kita tidak tahu akhir apa yang telah dipersiapkan oleh pembuat skenario. Apakah akhir yang membahagiakan? Apakah jalan hidup yang mudah atau bahkan berliku. Bahkan untuk apa yang terjadi selama satu menit kedepan pun kita tidak tahu.

Tags: , , ,